Laporkan Masalah

Kemiskinan rumah tangga nelayan buruh di desa aksesibilitas tinggi dan aksesibilitas rendah :: Studi kasus di desa Topejawa dan desa Punaga Kecamatan Mangarabombang Kabupaten Takalar Propinsi Sulawesi Selatan

LEO, M. Nur Zakariah, Prof.Drs. Kasto, MA

2002 | Tesis | S2 Geografi

Penelitian ini inengungkap tentang Kemiskinan rumah tangga nelayan buruh di desa aksesibilitas tinggi dan desa aksesibilitas rendah Kecamatan Mangarabombang Kabupaten Takalar Sulawesi Selatan. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor sosial ekonomi yang dominan berpengaruh terhadap pendapatan dan pengeluaran rumah tangga nelayan dan seberapa besar perbedaan tingkat kerniskinan rumah tangga nelayan buruh antara desa aksesibilitas tinggi dengan desa aksesibilitas rendah. Metode penelitian survey dengan lokasi penelitian ditentukan secara purposive yaitu Desa Topejawa dengan kondisi aksesibilitas tinggi dan Desa Punaga dengan kondisi aksesibilitas rendah. Jumlah dan sasaran populasi yaitu 100 rumah tangga yang pekerjaan pokoknya adalah nelayan buruh dengan rincian 62 rumah tangga di Desa Topejawa dan 38 rumah tangga di desa Punaga. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara sampel acak sederhana karena bersifat homogen yakni rumah tangga nelayan buruh. Data yang diperlukan meliputi data primer yang diperloleh dengan menggunakan wawancara melalui koesioner dan observasi, sedangkan data sekunder diperoleh dari monografi desa dan BPSTingkat kemiskinan diukur berdasarkan kebutuhan minimum atas harga sembilan bahan pokok di pasar setempat. Selanjutnya, hubungan faktor sosial, ekonomi dan demografi yakni usia, jumlah tanggungan, jumlah anggota rumah tangga usia produktif, jumlah jam kerja nelayan, dan tingkat pendidikan terhadap total pendapatan dan total pengeluaran rumah tangga nelayan buruh dilakukan dengan uji regresi ganda. Disamping itu, besarnya perbedaan rata-rata total pendapatan dan besarnya perbedaan tingkat kemiskinan rumah tangga nelayan buruh pada desa yang aksesibilitasnya berbeda menggunakan analisis uji-t. Hasil penelitian menunj ukkan bahwa total pendapatan rumah tangga nelayan buruh di desa Aksesibilitas tinggi lebih tinggi lebih tinggi dibandingkan dengan total pendapatan rumah tangga nelayan buruh di desa aksesibilitas rendah. Di desa aksesibilitas tinggi maupun di desa aksesibilitas rendah total pendapatan rumah tangga nelayan buruh dipengaruhi oleh jumlah tanggungan, jumlah jam kerja nelayan dan tingkat pendidikan. Faktor jumlah tanggungan anggota rumah tangga dominan berpengaruh terhadap total pendapatan rumah tangga di kedua desa yang aksesibilitasnya berbeda. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa Di desa aksesibilitas tinggi total pengeluaran rumah tangga dipengaruhi oleh faktor, jumlah anggota rumah tangga u'sia produktif, jumlah tanggungan dan tingkat pendidikan. Dan faktor juinlah tanggungan anggota rumah tangga yang doininan berpengaruh terhadap total pengeluaran rumah tangga. Sedangkan di desa aksesibilitas rendah, total pengeluaran rumah tangga hanya dipengaruhi oleh jumlah tanggungan. Dan faktor ini juga yang dominan berpengaruh terhadap total pengeluaran rumah tangga nelayan buruh. Demikian pula tingkat kerniskinan, ternyata tingkat kemiskinan di desa aksesibilitas tinggi lebih baik dibanding tingkat kemiskinan desa aksesibilitas rendah. Dengan demikian disimpulkan bahwa adanya perbedaan in1 disebabkan perbedaan aksesibilitas. Aksesibilitas yang tinggi memberikan peluang dan kemudahan kepada anggota rumah tangga bekerja berbagai jenis pekerjaan diluar nelayan untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga.

The present research uncovered poverty of poor fisherman households in villages with higher and lower accessibilities of Mangarabombang sub-district, Takalar Regency, South Solawesi. It was aimed to identify dominant social economic factors influencing on income and expenditures of poor fisherman hoseholds, and difference in poverty rate of poor fisherman hoeseholds living in villages with higher and lower accessibilities. Two villages were purposively appointed as research loci ; those were Topejawa and Punaga, villages with higher and lower accessibilities, respectively. Population number and target involved 100 hoeseholds mainly working as poor fishermen; from those, 62 and 28 hoeseholds lived in Topejawa and Punaga, respective1y.Method utilized simple random sampling. Data were gathered through questioners using interviews and observations, while secondary data were obtained from monograph available at village and BPS (Statistic Bureau Offices). Poverty rate were measured from their minimum requirements based on local price of nine basic commodities at local market. In addition, the relationship between social, economic and demographic factors,in term of age,number of dependents,number of family members with productve age,total working hours of poor fishermen,educational level, toward incomes and expenditures were ecamined by using double regression test. Also, the difference of average totalincomes and expenditures between poor fisheman hoeseholds living in two poor villages with different accessibilities was measured by the help of t-test. Results showed that total incomes of poor fishemen hoeseholds in village with higher accessibilitiy was higher than of those in village with lower accessibility. In villageswith higher and lower accessibilities, their total incomes were influenced by number of dependents, total working hours and educational level. Number of dependents dominantly influenced total income of households in two the villages. The research also indicated that in village with higher accessibility total hoesehold expenditures were influenced by number of family members with productive age,number of dependents, educationallevel.Nuinber of dependents dominantly affected total income of hoseholds in this village. While in village with lower accessibility,total incomes of households were influenced by number of dependents only. This factor also dominantly affected total expenditures of hoseholds. In similarjt was found that the poverty rate of village with higher accessibility. Higher accessibility was provided opportunities and ease for members to work in other various field rather than fishermen to improve their incomes. Key words : poverty, poor fishermen, accessibility

Kata Kunci : Geografi Manusia,Kemiskinan,Rumah Tangga Nelayan Buruh


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.