Laporkan Masalah

HUBUNGAN ANTARA POLA ASUPAN GARAM DAN GULA TERHADAP HIPERAKTIVITAS DAN KEJADIAN REMISI KEJANG PADA ANAK- ANAK EPILEPSI

HILYA AUDIANA, dr. Dian Kesumapramudya Nurputra, Ph.D.,M.Sc., Sp. A; Tony Arjuna, M.Nut.Diet., PhD, AN, APD

2021 | Skripsi | S1 KEDOKTERAN

Latar Belakang: Epilepsi merupakan penyakit neurologis kronis yang paling banyak diderita oleh anak. Studi terdahulu melaporkan 40% anak dengan epilepsi mempunyai masalah inatensi, hiperaktivitas dan distraktibilitas serta agresif dan mood lability. Attention-Deficit / Hyperactivity Disorder (ADHD) dapat menjadi diagnosis komorbid pada anak- anak dengan epilepsi. Nutrisi seimbang sangat penting selama masa kanak- kanak, yang merupakan periode pertumbuhan, peningkatan aktivitas, dan pengembangan fungsi tubuh dan kemampuan sosial kognitif. Penyebab hiperaktivitas diduga dapat melibatkan faktor genetik, lingkungan, dan pola makan. Terutama, faktor makanan yaitu konsumsi garam dan gula didapatkan memiliki hubungan antara peningkatan hiperaktivitas dan kejadian remisi kejang pada pasien anak epilepsi. Tujuan primer: Mengetahui hubungan antara pola asupan garam dan gula pada populasi anak dengan epilepsi terhadap capaian bebas kejang. Tujuan sekunder: Mengetahui efek konsumsi garam dan gula pada anak dengan epilepsi dapat meningkatkan kejadian hiperaktivitas dan mengetahui efek konsumsi garam dan gula pada anak epilepsi terhadap onset bebas kejang, durasi bebas kejang dan kejadian rekurensi. Metode: Cross- sectional melalui data rekam medis pasien epilepsi anak di RSUP Dr. Sardjito tahun 2015- 2019. Pasien yang memenuhi kriteria akan diwawancara melalui telepon seluler dengan Metode Semi Quantitatif Food Frequency Questionnaire (SQ- FFQ). Kejadian hiperaktivitas dibagi menjadi kelompok ada dan tidaknya kejadian hiperaktvitas. Fase bebas kejang terdiri atas 3 indikator, onset bebas kejang yang dibagi menjadi kelompok kurang dari 6 bulan dan lebih dari 6 bulan, durasi bebas kejang yang dibagi menjadi kelompok kurang dari 1 tahun dan lebih dari 1 tahun, dan kejadian rekurensi yang dibagi menjadi kelompok ada dan tidaknya kejadian rekurensi. Asupan garam dibagi menjadi kelompok dengan asupan garam kurang dari 2000 mg dan lebih dari 2000 mg dan Asupan gula dibagi menjadi kelompok dengan asupan gula kurang dari 50 gr dan lebih dari 50 gr. Analisis Nutrisurvey untuk mengkonversi SQ- FFQ dan Analisis statistik hubungan asupan garam dan gula terhadap hiperaktivitas dan kejadian remisi kejang dilakukan dengan uji Chi-square dengan nilai p kurang dari 0.05 dianggap bermakna secara statistik. Hasil: Penelitian melibatkan 23 subjek. Rerata pengonsumsian garam sebesar 874.1 mg dan rerata pengonsumsian gula sebesar 62.7 gram. Asupan garam terhadap onset bebas kejang di antara kelompok dengan onset bebas kejang kurang dari 6 bulan dengan kelompok lebih dari 6 bulan bermakna secara stasistik dengan p value 0.012 OR 0.048 95% CI 0.007- 0.322, sedangkan untuk durasi bebas kejang, kejadian rekurensi, dan kejadian hiperaktivitas tidak bermakna secara statistik dengan p value 0.438, 0.486, dan 1.000. Asupan gula terhadap kejadian hiperaktivitas, durasi bebas kejang, onset bebas kejang, dan kejadian rekurensi tidak bermakna secara statistik dengan p value 1.000, 0.142, 0.539, dan 1.000. Kesimpulan: Asupan garam berpengaruh terhadap onset bebas kejang yang lebih panjang namun tidak pada durasi bebas kejang, kejadian rekurensi, dan peningkatan hiperaktivitas. Asupan gula tidak berpengaruh terhadap peningkatan hiperaktivitas, durasi bebas kejang, onset bebas kejang, dan kejadian rekurensi.

Background: Epilepsy is a chronic neurological disease that mostly affects children. Previous studies reported that 40% of children with epilepsy had problems with inattention, hyperactivity, and distractability as well as aggressive and mood lability. Attention-Deficit / Hyperactivity Disorder (ADHD) can be a comorbid diagnosis in children with epilepsy. Balanced nutrition is especially important during childhood, which is a period of growth, increased activity, and the development of bodily functions and social cognitive abilities. The cause of hyperactivity is thought to involve genetic, environmental, and dietary factors. In particular, dietary factors, namely salt, and sugar consumption were found to have a relationship between increased hyperactivity and the incidence of seizure remission in patients with epilepsy. Primary objective: To determine the relationship between the pattern of salt and sugar intake in a population of children with epilepsy and seizure-free outcomes. Secondary objectives: To determine the effects of salt and sugar consumption in children with epilepsy to increase the incidence of hyperactivity and to determine the effects of salt and sugar consumption in children with epilepsy on the seizure-free onset, seizure-free duration, and recurrence. Methods: Cross-sectional through medical records of pediatric epilepsy patients at RSUP Dr. Sardjito in 2015-2019. Patients who meet the criteria will be interviewed via cell phone using the Semi-Quantitative Method - Food Frequency Questionnaire (SQ- FFQ). Hyperactivity events were divided into groups of presence and absence of hyperactivity events. The seizure-free phase consisted of 3 indicators, seizure-free onset which was divided into groups less than 6 months and more than 6 months, duration of seizure-free which was divided into less than 1 year and more than 1-year groups, and the incidence of recurrence which was divided into groups of presence and absence of recurrences. Salt intake was divided into groups with salt intake less than 2000 mg and more than 2000 mg and sugar intake was divided into groups with sugar intake less than 50 gr and more than 50 gr. Nutrisurvey analysis to convert SQ-FFQ and statistical analysis of the relationship between salt and sugar intake on hyperactivity and the incidence of seizure remission was carried out using the test Chi-square with a p-value less than 0.05 considered statistically significant. Results: The study involved 23 subjects. The mean salt consumption was 874.1 milligrams and the sugar consumption mean was 62.7 grams. The salt intake on seizure-free onset among the group with seizure-free onset less than 6 months and the group more than 6 months was statistically significant with a p-value of 0.012 OR 0.048 95% CI 0.007- 0.322, whereas for the seizure-free duration, recurrence, and hyperactivity were not statistically significant with p-value 0.438, 0.486, and 1.000. Sugar intake on the incidence of hyperactivity, seizure-free duration, seizure-free onset, and recurrence was not statistically significant with p values of 1.000, 0.142, 0.539, and 1.000. Conclusion: Salt intake affects the longer seizure-free onset but not seizure-free duration, the incidence of recurrence, and increased hyperactivity. Sugar intake did not affect increased hyperactivity, seizure-free duration, seizure-free onset, and recurrence.

Kata Kunci : epilepsi, anak, makronutrient (garam, gula), hiperaktivitas, ADHD, remisi, bebas kejang, relaps, rekurensi, epilepsy, child, macronutrients (salt, sugar), hyperactivity, ADHD, remission, seizure-free, relapses, recurrence.

  1. S1-2021-414416-abstract.pdf  
  2. S1-2021-414416-bibliography.pdf  
  3. S1-2021-414416-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2021-414416-title.pdf