Laporkan Masalah

Hubungan Status Nutrisi dengan Fase Bebas Kejang Pasien Epilepsi Anak Nonsindromik di RSUP Dr. Sardjito

NISA CARMIA NADHIFA, dr. Dian K. Nurputra, M.Sc, Ph.D, Sp.A; dr. Braghmandita Widya I, M.Sc, Sp.A

2021 | Skripsi | S1 KEDOKTERAN

Latar Belakang: Epilepsi merupakan penyakit neurologis kronis yang paling banyak diderita oleh anak. Kejadian remisi atau fase bebas kejang awal diketahui dapat memprediksi luaran jangka panjang pasien epilepsi anak. Studi terdahulu menemukan anak dengan epilepsi cenderung mempunyai status nutrisi yang kurang. Studi pada hewan juga menemukan malnutrisi dapat menurunkan ambang kejang dan memperburuk luaran kejang pada hewan, sedangkan belum ada studi pada manusia yang meneliti hubungan status nutrisi dengan fase bebas kejang. Oleh karena itu, penting dilakukan penelitian hubungan antara status nutrisi dengan fase bebas kejang pada pasien epilepsi anak. Tujuan: Mengetahui hubungan antara status nutrisi sebelum terapi dengan fase bebas kejang pada pasien epilepsi anak nonsindromik. Metode: Penelitian kohort retrospektif menggunakan data rekam medis pasien anak dengan epilepsi nonsindromik baru di RSUP Dr. Sardjito tahun 2015. Penelitian melibatkan 70 subjek. Status nutrisi diukur saat pasien pertama kali terdiagnosis. Terdapat 3 indikator status nutrisi, yaitu Z-skor BB/TB atau IMT/U, Z-skor BB/U, dan Z-skor TB/U, ketiganya dibagi menjadi dua kelompok, yaitu Z-skor kurang dari -2 dan Z-skor lebih dari sama dengan -2. Fase bebas kejang didefinisikan sebagai tidak adanya kejang selama minimal 1 bulan, sedangkan rekurensi didefinisikan sebagai terjadinya kejang berulang setelah fase bebas kejang. Fase bebas kejang terdiri atas 3 indikator, onset bebas kejang yang dibagi menjadi kurang dari sama dengan 6 bulan dan lebih dari 6 bulan, durasi bebas kejang yang dibagi menjadi kurang dari 1 tahun dan lebih dari sama dengan 1 tahun, dan kejadian rekurensi yang dibagi menjadi ya dan tidak. Analisis statistik hubungan status nutrisi dengan fase bebas kejang dilakukan dengan uji Chi-square dengan nilai p<0.05 dianggap bermakna secara statistik. Hasil: Hampir seluruh subjek (97.1%) mencapai fase bebas kejang dalam kurang dari sama dengan 6 bulan dan 38 (54.3%) anak mengalami rekurensi. Didapatkan 17 (24.3%) subjek wasted, 15 (25.4%) subjek underweight, dan 23 (32.9%) subjek stunted. Dari 55 subjek dengan follow up minimal 1 tahun, 30 (54.5%) mengalami fase bebas kejang lebih dari sama dengan 1 tahun. Analisis statistik menunjukkan hubungan yang tidak signifikan antara ketiga indikator status nutrisi dengan fase bebas kejang. Kesimpulan: Status nutrisi sebelum terapi mungkin tidak berhubungan dengan fase bebas kejang pada pasien epilepsi anak nonsindromik di RSUP Dr. Sardjito.

Background: Epilepsy is the most common chronic neurological disease in children. Early remission or seizure-free phase is known to be able to predict long term outcomes of the disease in children. Past studies found that children with epilepsy tend to be in malnutrition. Animal studies also found that malnutrition could lower seizure threshold and worsen the seizure outcome, while there is no study in human that investigate the association between nutritional status and seizure-free phase yet. Thus, it is important to investigate association between nutritional status and seizure-free phase in children with epilepsy. Objective: To investigate association between pre-treatment nutritional status and seizure-free phase in children with nonsyndromic epilepsy. Method: A retrospective cohort study was conducted in Dr. Sardjito General Hospital. Of 70 children who were newly-diagnosed nonsyndromic epilepsy in 2015 enrolled. Nutritional status was measured when subjects firstly diagnosed. There were 3 nutritional status indicators: weight/height (for children age 0-5 years) or BMI/age Z-score (for children age >5 years), weight/age Z-score (for children age 0-10 years), and height/age Z-score and all was divided into two groups, Z-score less than -2 and Z-score more than and equal to -2. Seizure free phase was defined as no seizure in minimal duration of 1 month, while recurrence was defined as seizures occurred after seizure free phase. Seizure-free phase consists of 3 indicators: onset of seizure free which divided into less than and equal to 6 months and more than 6 months; duration of seizure free that divided into less than 1 year and more than and equal to 1 year; and recurrence of seizure divided into yes or no. Statistical analysis of association between nutritional status and seizure-free phase were conducted using Chi-square test, where p<0.05 was determined as statistically significant. Results: Almost all subjects (97.1%) gain seizure free phase in less than and equal to 6 months and experienced recurrence in 38 (54.3%) of the subjects. Of 17 (24.3%) children were wasted, 15 (25.4%) were underweight, and 23 (32.9%) were stunted. 55 of 70 subjects with minimal follow up of 1 year, 30 (54.5%) had duration of seizure free phase more than and equal to 1 year. There were no significant association between all nutritional status indicators and seizure-free phase indicators. Conclusion: Pre-treatment nutritional status might not be associated with seizure-free phase in children with non-syndromic epilepsy in Dr. Sardjito Hospital

Kata Kunci : epilepsi, anak, status gizi, status nutrisi, Z skor, remisi, bebas kejang, relaps, rekurensi, epilepsy, child, nutrition, nutritional status, Z score, remission, seizure free, relaps, recurrence

  1. S1-2021-412311-abstract.pdf  
  2. S1-2021-412311-bibliography.pdf  
  3. S1-2021-412311-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2021-412311-title.pdf