Korelasi Konsumsi Lemak Dan Kafein Harian Terhadap Fase Remisi Pada Pasien Epilepsi Anak Di RSUP DR.Sardjito
RIVO JUNIETA ALICIA, dr. Dian K. Nurputra, M.Sc, Ph.D, Sp.A; Tony Arjuna, M.Nut.Diet., PhD, AN, APD; dr. Indra Sari Kusuma Harahap, Ph.D., Sp.S(K)
2021 | Skripsi | S1 PENDIDIKAN DOKTERLatar belakang: Epilepsi adalah kelainan otak yang ditandai oleh adanya faktor predisposisi secara terus menerus. Prevalensi kasus epilepsi anak di Indonesia sebanyak 500 - 2000 per 100.000 kasus. Diet ketogenik merupaka terapi non-farmakologi yang sangat efektif untuk epilepsi. Diet ketognik menghasilkan keton di dalam tubuh. Dengan tingkat keton yang lebih tinggi sering kali mengarah pada peningkatan kendali kejang. Pada suatu penelitian didapatkan jika pengonsumsian kafein dengan 25 mg/kg BB/hari dapat meningkatkan kadar keton dalam tubuh sekaligus membantu mempertahankan keadaan ketosis dalam tubuh. Namun, beberapa penelitian telah mengusulkan bahwa asupan kafein yang berlebihan dapat meningkatkan frekuensi serangan epilepsi pada manusia dan mengurangi efisiensi obat anti epilepsi. Tujuan primer: mengetahui korelasi konsumsi lemak dan kafein sehari - hari terhadap fase remisi pada pasien epilepsi anak di RSUP DR.Sardjito. Tujuan sekunder: Mengatahui korelasi konsumsi lemak untuk terapi diet ketogenik yang bertujuan mengurangi remisi kejang dan mengetahui korelasi konsumsi kafein harian terhadap meningkatnya remisi kejang pada pasien epilepsi anak. Metode: cross-sectional melalui rekam medis RSUP Dr. Sardjito tahun 2019-2020 yang dilakukan sejak Oktober sampai November 2020 di Instalasi Catatan Medik RSUP Dr. Sardjito. Hasil: Subjek yang digunakan sebanyak 23. Untuk konsumsi lemak dibagi menjadi dua kelompok subjek, yaitu < 37,9% dan > 37,9% dan kelompok konsumsi kafein dibagi menjadi dua kelompok subjek, yaitu < 7,43mg dan > 7,43mg. Analisis bivariat menunjukkan tidak adanya pengaruh konsumsi lemak harian terhadap kecepatan bebas kejang (p = 0,48 / p >0,05), durasi bebas kejang (p = 0,87 / p >0,05), dan kejadian rekurensi (p = 0,15 / p >0,05). Kemudian analisi bivariat juga menunjukkan tidak adanya korelasi konsumsi kafein harian terhadap kecepatan bebas kejang (p = 0,9 / p >0,05), durasi bebas kejang (p = 0,68 / p >0,05), dan kejadian rekurensi (p = 0,55 / p >0,05) Kesimpulan: Konsumsi lemak harian lebih tinggi tidak dapat mengurangi remisi kejang dan pola asupan kafein harian yang lebih tinggi juga tidak meningkatkan kejadian remisi kejang pada anak dengan epilepsi.
Purpose: To investigate the correlation between daily fat and caffeine consumption with the seizure-free phase of children with epilepsy. Method: A retrospective cohort study was performed by collecting data from medical records of 23 children in Dr. Sardjito Hospital from 2019 to 2020. Additional data were collected via direct interview when subjects visited the hospital for routine follow-up. A validated Food Frequency Questionnaire was used to collect dietary intake, especially fat and caffeine-rich food and drinks. Daily fat and caffeine consumption were then categorized into <37.9% and > 37.9%, and < 7.43 mg and > 7.43 mg, correspondingly. Meanwhile, the seizure-free phase was defined into 3 categories i.e. onset of seizure freedom (<6 months and >6 months), duration of seizure freedom (<2 years and >2 years), and recurrence incidence. Results: There was no statistically significant association observed between either daily fat or caffeine intake with seizure-free phase. However, the group consuming fat < 37.9% had a greater number of subjects who achieved seizure freedom in < 6 months and a lower incidence of relapse compared to those with the fat intake of > 37.9% (92% vs 82% and 33% vs 64%, respectively). Furthermore, the group with a caffeine intake of <7.43 mg had more subjects with a duration of seizure freedom < of 2 years and a lower incidence of relapse (38% vs 29% and 44% vs 57%, correspondingly) compared to those with caffeine intake of > 7.43mg. Conclusion: Daily fat and caffeine consumption were not statistically associated with the seizure-free phase. Nevertheless, there appeared to be clinical benefits of controlling fat and caffeine intake on the onset, duration of seizure freedom, and relapse incidence in children with Epilepsy.
Kata Kunci : epilepsi anak, lemak, kafein, durasi bebas kejang, onset bebas kejang, kejadian rekurensi.