ANALISIS DESKRIPTIF STATUS DEMOGRAFI DAN KARAKTERISTIK KLINIS PASIEN KATARAK ANAK DI RSUP DR. SARDJITO, YOGYAKARTA
LAILA KINANTI A R, dr. Indra Tri Mahayana, Ph.D., Sp.M. ; dr. Firman Setya Wardhana, M.Kes., Sp.M(K).
2021 | Skripsi | S1 KEDOKTERANLatar Belakang: Katarak anak menjadi salah satu penyebab utama dari kebutaan anak, bertanggung jawab untuk 5-20% dari kebutaan anak di dunia. Kebutaan akibat katarak anak ini dapat diobati dengan identifikasi dini dan penanganan yang tepat. Tampakan klinis tersering dari katarak anak ialah leukocoria, nistagmus, dan strabismus yang sebagian besar terjadi secara bilateral. Banyaknya kebutaan anak karena katarak maka perlu dievaluasi bagaimana kondisi demografi dan karakteristik klinis pasien katarak anak di RSUP Dr. Sardjito. Tujuan: Mengetahui status demografi dan karakteristik klinis pasien katarak anak di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif menggunakan rekam medis pasien anak yang terdiagnosis katarak anak atau katarak kongenital pada tahun 2014-2019 di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Hasil: Dari 131 rekam medis pasien, terdapat 55,7% pasien laki-laki dan sebagian besar datang dengan keluhan utama leukocoria (95,4%). Sebanyak 72,5% kejadian katarak tersebut terjadi secara bilateral. Dengan usia terbanyak yang diperiksakan adalah usia >1 bulan - 1 tahun (71,0%). Dan usia terbanyak saat pertama kali keluarga menyadari adanya kelainan pada mata adalah usia kurang dari sama dengan 1 bulan (55,0%). Sebagian besar pasien memiliki selang waktu >1 bulan - 6 bulan (37,4%) sejak pasien pertama kali diketahui terdapat kelainan pada mata hingga diperiksakan. Riwayat katarak pada keluarga hanya ditemukan pada 4,6% kasus. Riwayat infeksi maternal menjadi penyebab terbanyak dari katarak dengan congenital rubella syndrome (27,5%) sebagai kelainan sindromik terkait katarak anak yang paling sering ditemui. Berdasarkan hasil laboratorium, 49,6% pasien positif IgM/IgG terhadap rubella. Nistagmus ditemukan pada 64,9% pasien katarak kongenital. Kesimpulan: Katarak anak ditemukan lebih banyak terjadi pada laki-laki, usia >1 bulan - 1 tahun dengan keluhan utama leukocoria. Sebagian besar katarak terjadi secara bilateral dengan kelainan sindromik congenital rubella syndrome.
Background: Pediatric cataract which is one of the main causes of childhood blindness is responsible for 5-20% of child blindness in the world. Blindness due to pediatric cataract can be treated with early and appropriate treatment. The most common clinical features of pediatric cataract are leukocoria, nystagmus, and strabismus, which most of it occur bilaterally. Because of the high number of childhood blindness due to cataract, it is necessary to evaluate the demographic status and clinical characteristics of pediatric cataract at RSUP Dr. Sardjito. Objective: To determine the demographic status and clinical characteristics of pediatric cataract patients at RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Method: This study is a descriptive retrospective study using the medical records of patients diagnosed with pediatric cataract or congenital cataracts in 2014-2019 at RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Result: Of the 131 patients, there were 55,7% males and most of them presented with the main complaint leukocoria (95,4%). And 72,5% of these cataracts occurred bilaterally. The majority age at presentation was >1 month - 1 year (71,0%) while the majority age at detection was less than equal to 1 month (55,0%). Most of them had >1 month - 6 months time interval between detection of eye abnormalities and presentation to hospital. Family history of congenital cataract was present in 4,6% of cases. History of maternal infection was the major cause of congenital cataract with congenital rubella syndrome (27,5%) was found to be the most common pediatric cataract-related syndromes. Based on laboratory results, 49,6% of patients were positive IgM/IgG against rubella. Nystagmus was present in 64,9% of patients. Conclusion: Pediatric cataract was found more frequently in males, aged >1 month - 1 year with the main complaint leukocoria. Most cataracts occur bilaterally with the most common pediatric cataract-related syndrome was congenital rubella syndrome.
Kata Kunci : katarak kongenital, katarak anak, demografi, karakteristik klinis