Pengaruh Eosinofil dan Limfosit pada Histopatologis terhadap Luaran Fungsional Pasien Hirschsprung Pasca Operasi Transanal Endorectal Pull-Through
FADHILA PRATAMA RIZQI RAMADHANI, dr. Gunadi, Sp.BA, Ph.D; dr. Eko Purnomo, Sp.BA, Ph.D
2021 | Skripsi | S1 KEDOKTERANMeskipun gangguan defekasi pasca operasi yang dialami sejumlah pasien dengan penyakit Hirschsprung pasca operasi telah diasosiasikan dengan inflamasi, belum banyak penelitian yang secara spesifik mendeskripsikan hubungan luaran fungsional dengan eosinofil dan limfosit jaringan. Penelitian ini dilakukan secara retrospektif melalui tinjauan rekam medis pasien dengan penyakit Hirschsprung yang telah melalui operasi transanal endorectal pull-through di RSUP Dr. Sardjito. Luaran fungsional dianalisis sesuai dengan klasifikasi Krickenbeck, terdiri dari voluntary bowel movement, soiling, dan konstipasi. Evaluasi histopatologis spesimen dilakukan untuk menentukan eosinofilia dan limfositosis jaringan. Dari total 64 pasien, terdapat 96,9% dengan voluntary bowel movement normal, 7,8% dengan soiling, dan 3,1% dengan konstipasi. Sementara itu, spesimen dengan hanya eosinofilia ditemukan pada 10,9% dari pasien, hanya limfositosis pada 37,5% subjek, dan kombinasi eosinofilia dengan limfositosis pada 9,4% subjek. Terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik dalam aspek konstipasi pasca operasi yang dipengaruhi oleh eosinofilia (odds ratio = 22,391; p = 0,039) dan sedikit perbedaan dalam aspek voluntary bowel movement oleh karena kombinasi eosinofilia dan limfositosis (p = 0,088). Hasil penelitian menyimpulkan bahwa eosinofilia pada pasien dengan penyakit Hirschsprung dapat mempengaruhi konstipasi pasca operasi, sementara limfositosis memiliki kecenderungan untuk mempengaruhi voluntary bowel movement apabila muncul bersamaan dengan eosinofilia.
Although previously linked to inflammation, bowel problems experienced by patients with Hirschsprung disease after definitive surgery have only been scarcely described specifically in relation to tissue eosinophil and lymphocyte. A retrospective study was conducted through reviewing medical records of patients with Hisrchsprung disease who underwent a transanal endorectal pull-through operation at Dr. Sardjito Hospital. Functional outcome was assessed using the Krickenbeck classification, consisting of voluntary bowel movement, soiling, and constipation. Rectal biopsy specimens were evaluated for tissue eosinophilia and lymphocytosis. Among a total of 64 patients, 96.9% had normal voluntary bowel movement, 7.8% experienced soiling, and 3.1% experienced constipation. Meanwhile, 10.9% of patients had only eosinophilia, 37.5% had only lymphocytosis, and 9.4% had both eosinophilia and lymphocytosis. There was a statistically significant difference in constipation due to eosinophilia (odds ratio = 22.391; p = 0.039) and a slight difference in voluntary bowel movement due to a combination of eosinophilia and lymphocytosis (p = 0.088). In conclusion, Hirschsprung-associated tissue eosinophilia may affect constipation, while lymphocytosis has the tendency to affect voluntary bowel movement if it appears alongside eosinophilia.
Kata Kunci : Eosinofilia, konstipasi, limfositosis, luaran fungsional, penyakit Hirschsprung, soiling, transanal endorectal pull-through, voluntary bowel movement