Laporkan Masalah

SELASA WAGE SEBAGAI RUANG TUMBUH MODAL SOSIAL ANTAR PELAKU PARIWISATA DI MALIOBORO

ANA NDARI PERTIWI, Fuji Riang Prastowo, S.Sos., M.Sc

2021 | Skripsi | S1 SOSIOLOGI

Selasa Wage adalah sebuah agenda pariwisata baru di Malioboro yang diinisiasi pada tahun 2017 oleh Dinas Pariwisata DIY dalam rangka memperingati hari lahir Sri Sultan Hamengku Buwono X. Agenda ini diperingati setiap 35 hari sekali dalam kalender Jawa, tepatnya pada hari Selasa Wage. Ketika agenda Selasa Wage berlangsung, kawasan trotoar Malioboro yang biasanya penuh oleh pedagang kaki lima (PKL) dijadikan sebagai kawasan pedestrian yang ramah pengunjung. Dikatakan sebagai agenda pariwisata baru karena dalam pelaksanaanya, setiap hari Selasa Wage para pelaku pariwisata diwajibkan untuk meliburkan diri dari aktivitas ekonomi, diantaranya pedagang kaki lima (PKL), andong, dan becak. Liburnya aktivitas ekonomi kemudian digantikan dengan gotong royong untuk membersihkan kawasan di sepanjang Malioboro. Penelitian ini melihat fakta dibalik agenda Selasa Wage, lebih tepatnya bagaimana Selasa Wage dikonstruksikan oleh pemerintah dan juga pelaku pariwisata, dan bagaimana proses tumbuhnya modal sosial antar pelaku pariwisata di Malioboro selama pelaksanaan Selasa Wage. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dengan pendekatan metode kualitatif deskriptif, temuan lapangan memaparkan bahwa konstruksi Selasa Wage berkaitan dengan membangun ulang memori kerajaan yang didukung dengan basis kebijakan pemerintah berdasarkan undang-undang keistimewaan, sehingga Malioboro dapat menjadi ruang kolaboratif bersama. Ditemukan modal sosial (social capital) antar pelaku pariwisata di Selasa Wage yang terlihat dari tiga unsur, pertama kepercayaan (trust) dari masyarakat yang mengaplikasikan "sendiko dawuh" terhadap Kesultanan. Kedua, jaringan (network) tercerminkan dari relasi masyarakat pendatang di area Magersari yang membentuk solidaritas bersama dalam kepatuhan. Ketiga, eksistensi nilai dan norma, terutama patronasi yang kuat. Unsur-unsur modal sosial tersebut dapat tercipta dari proses interaksi di ruang publik. Dalam hal ini, Malioboro berperan sebagai ruang publik dialektis untuk menyepakati nilai-nilai yang telah disebutkan guna mendukung Selasa Wage sebagai agenda pariwisata baru di Malioboro.

The Selasa Wage is a new tourism agenda in Malioboro which was initiated in 2017 by the DIY Tourism Authorities in commemoration of the birthday of Sri Sultan Hamengku Buwono X. This agenda was held every 35 days in the Javanese calendar, on the day of Selasa Wage. When the Selasa Agenda agenda took place, Malioboro sidewalk area which was usually full of street vendors (PKL) was cleared as a visitor-friendly pedestrian area. It is said to be a new tourism agenda because in its implementation, tourism actors are required to take a break from economic activities; its including street vendors (PKL), horse carts (andong), and pedicabs (becak). The suspension of economic activity were then replaced by mutual cooperation to clean up the area along Malioboro. This research looks at the facts behind the Selasa Wage agenda, precisely on how the Selasa Wage constructed by the government and tourism actors and how the process of social capital growth among tourism actors in Malioboro during the Selasa Wage implementation. Based on research conducted with a descriptive qualitative method approach, field findings show that the construction of Selasa Wage is related to rebuilding the memory of the kingdom which is supported by the basis of government policies based on the privilege law, so that Malioboro can become a collaborative space together. There were found social capital among tourism actors on Selasa Wage which can be seen from three elements, the first is the trust of the people who shows the act of "sendiko dawuh" to the Sultanate. Second, the network in the relations of immigrant communities in the Magersari area which form mutual solidarity in compliance. Third, the existence of values and norms, especially strong patronage. These elements of social capital created by the form of interaction process in the public sphere. In this case, Malioboro acts as a dialectical public sphere to agree on the values that have been mentioned to support Selasa Wage as a new tourism agenda in Malioboro.

Kata Kunci : Selasa Wage, social capital, sociak construction

  1. S1-2021-414946-abstract.pdf  
  2. S1-2021-414946-bibliography.pdf  
  3. S1-2021-414946-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2021-414946-title.pdf