Antibiotics Prescribing Patterns in Acute Respiratory Infection in Gadjah Mada Medical Center (GMC) Yogyakarta in 2019
NURPRATAMA B N, Dr. dr. Rustamaji, M.Kes; Dr. Tri Murini, M.Si, Apt
2021 | Skripsi | S1 KEDOKTERANLatar Belakang: Infeksi Saluran Pernafasan Akut atau ISPA digambarkan sebagai infeksi di bawah 14 hari atau 2 minggu sebelum diagnosis ditegakkan. Gejala yang diamati untuk menegakkan diagnosis adalah demam, batuk, flu/hidung tersumbat dan atau sakit tenggorokan. Setting untuk penelitian ini adalah Gadjah Mada Medical Center atau GMC sebagai pelayanan kesehatan primer. Pada tahun 2016, berdasarkan laporan Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia rata-rata penggunaan antibiotik pada ISPA 72,71%. Penggunaan antibiotik yang tinggi ini dapat menyebabkan resistensi antibiotik atau antimikroba. Konsekuensi dari resistensi antimikroba adalah penyakit yang berkepanjangan, peningkatan durasi rawat, dan biaya. Pelayanan Kesehatan Primer dapat membantu dalam kegiatan pencegahan di tingkat komunitas. Tujuan: Untuk menampilkan data resep antibiotik yang diberikan kepada pasien ISPA usia 18-65 tahun secara jelas dari rekam medis di Puskesmas Gadjah Mada tahun 2019. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif dengan menggunakan rekam medis sebagai data sekunder untuk menganalisis penatalaksanaan ISPA di Gadjah Mada Medical Center (GMC) Yogyakarta tahun 2019. Data yang digunakan dalam penelitian ini dianalisis dengan metode deskriptif observasional dan diolah secara statistik terkomputerisasi. Hasil: Pasien ISPA terbanyak adalah laki-laki (54%), datang bulan April sebagai masa transisi (14,4%), dan jenis yang paling banyak adalah infeksi saluran pernafasan atas akut (45,3%). Antibiotik yang paling banyak digunakan adalah kelompok antitusif (21,6%), dan antibiotik yang paling banyak digunakan adalah amoksisilin (54,1%). Kesimpulan: Jumlah penderita ISPA di Puskesmas Gadjah Mada sebanyak 16.070. Kelompok pasien menjadi pria dan wanita, bulan masuk, dan jenis ISPA. Ada dua pengobatan farmakologis yaitu antibiotik dan non-antibiotik. Regimen dosis obat berbeda satu sama lain. Manajemen penyakit sudah seusai dengan Standard Operational Guideline klinik. Selain itu, penggunaan antibiotik di Gadjah Mada Medical Center masih tinggi (26,6%) dibandingkan dengan penelitian lain, dan pedoman tentang manajemen ISPA dapat ditingkatkan.
Background: Acute Respiratory Infection or ARI is described as an infection below 14 days or 2 weeks prior the diagnosis is established. The symptoms that are observed to establish the diagnosis are fever, cough, flu/congested nose and or sore throat. The setting for this study is Gadjah Mada Medical Center or GMC as primary health care. In 2016, based on report of the Directorate General of Pharmaceutical and Medical Devices, the Ministry of Health of the Republic of Indonesia the average usage of antibiotic in upper respiratory infection 72.71%. This high usage of antibiotic can lead to antibiotic or antimicrobial resistance. The consequences of the antimicrobial resistance are prolonged illnesses, increased duration of stay, and cost. Primary Healthcare can help in community prevention activities. Objective: To present a clear data of antibiotic prescription that is given to the ARI patients at the age of 18-65 years old from medical records at the Gadjah Mada Medical Center in 2019. Method: This research is a descriptive retrospective study using medical records as secondary data to analyze the management in acute respiratory infection in at Gadjah Mada Medical Center (GMC) Yogyakarta in 2019. The data used in this study was analyzed with descriptive observational method and processed statistically computerized. Result: ARI patient's mostly are male (54%), came in April as the transition period (14,4%), and the most common types are acute upper respiratory tract infection (45,3%). The most used non-antibiotic was antitussive group (21,6%), and most used antibiotic drug was amoxicillin (54,1%). Conclusion: The total numbers of ARI patients in Gadjah Mada Medical Center are 16.070. Patient's group into male and female, month of admission, and ARI types. There are two pharmacologic treatment antibiotic and nonantibiotic. Dosage regimen of the drug are different to each one another. Treatment already based on the Standard Operational Guideline of the clinics. Furthermore, the usage of antibiotic in Gadjah Mada Medical Center is quite high (26,6%) compared to other studies, and guidelines can be improved.
Kata Kunci : Acute Respiratory Infection, Antibiotics, Antimicrobial Resistance, Primary Health Care, Yogyakarta, GMC