Pergeseran Konstruksi Makna Keperawanan di Kalangan Mahasiswa & Mahasiswi Kampus UGM Yogyakarta
BALQIS D B, Desintha Dwi Asriani, M.A., Ph.D.
2021 | Skripsi | S1 SOSIOLOGIKeperawanan merupakan istilah yang begitu melekat dengan seksualitas kaum perempuan tak terkecuali di Indonesia. Melalui pergeseran yang kemunculannya ditandai dengan lonjakan aktivitas seksual kaum muda serta perkembangan paham dan kritik feminisme, keperawanan tidak lagi terbungkus dalam sebuah makna yang tunggal. Wacana ini melibatkan tidak hanya paham konservatif yang menuntut dijaganya status keperawanan pada perempuan lajang namun juga paham fleksibel yang sangat kontradiktif yakni mengutamakan kebebasan kaum perempuan atas tubuh mereka, termasuk keperawanan. Oleh karenanya, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi ragam makna keperawanan yang diamini oleh kalangan mahasiswa UGM Yogyakarta beserta konteks yang melatarbelakangi pemaknaan tersebut. Eksplorasi ini ditandai oleh dua pertanyaan kunci yakni 1) Bagaimana keperawanan kini didefinisikan & dimaknai oleh kelompok mahasiswa dan 2) Bagaimana definisi dan makna keperawanan pada kelompok mahasiswa tersebut terbentuk. Penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi ini menggunakan perspektif teori tubuh sosial (body social) serta ketubuhan (embodiment) dalam menganalisa hasil data penelitian, di mana pembentukan makna keperawanan (sebagai bagian dari tubuh yang tengah dikonstruksi secara sosial) dipercaya berkaitan erat dengan pengalaman hidup individu. Melalui proses olah data, ditemukan bahwa keperawanan tengah dimaknai secara beragam oleh para informan yang berkaitan erat dengan dunia sosial mereka. Wacana tersebut tidak hanya bermakna sebagai bahasan yang tabu, namun juga berkaitan dengan kehormatan perempuan, berkaitan dengan fenomena seks bebas, hingga akhirnya dipahami sebagai bagian dari urusan privat kaum perempuan melalui kesadaran atas tubuh yang reflektif oleh kaum muda. Selain itu, pembentukan ragam makna ini dipahami berkaitan erat dengan pengalaman hidup informan yang tidak hanya berbasis gender di mana tedapat pengaruh budaya patriarki dalam mebentuk peran tubuh. Namun juga dibentuk oleh pengalaman berbasis lingkup klaster informan yang tentunya menyimpan relasi, interaksi, dan juga kultur baik antar mahasiswa, dosen, ataupun dengan organisasi kemahasiswaan yang berbeda di dalamnya. Pada akhirnya, terdapat sebuah kesimpulan bahwa di tengah pergeseran yang membawa keperawanan untuk tidak lagi terbalut dalam pemahaman tunggal, keperawanan tetap menjadi wacana yang melahirkan keterbatasan bagi ruang gerak tubuh perempuan melalui kontrol, stigma, dan sanksi sosial yang ada. Bagaimanapun keperawanan masih sulit dikatakan sebagai miliki seorang perempuan seutuhnya.
Virginity is a term that is closely related to women's sexuality, including in Indonesia. Through a shift whose emergence is marked by the rising of of sexual activity of young people and the development of knowledge and awareness of feminism, virginity is no longer wrapped in a single meaning. This discourse involves not only a conservative notion that demands the preservation of virginity status in single women but also a very contradictory flexible thought of prioritizing women's freedom over their bodies, including virginity. Therefore, this study aims to explore the various meanings of virginity that are shared and believed by UGM Yogyakarta students and also the context and reasons behind these meanings. This exploration is represented by two key questions, 1) How is 'virginity' defined and interpreted by student groups now and 2) How is the definition and meaning of virginity in the student group formed. This qualitative research with a phenomenological approach uses the theoritical perspective of the social body and embodiment in analyzing the results of research data, in which the formation of the meaning of virginity [as part of the body being socially constructed] is believed to be closely related to individual lived experiences. Through the data construction process, it was found that virginity was being interpreted in various ways by informants which was closely related to their social world. This discourse does not only mean a taboo subject, but also relates to the honor of women, related to the phenomenon of free sex, until it is finally understood as part of the private affairs of women through reflective body awareness among youth. In addition, the formation of these various meanings is understood to be closely related to the informant's lived experiences which not only based on gender where there is the influence of patriarchal culture in shaping the role of the body. However, it is also formed by experience based on the scope of the informant's education cluster which of course stores different relationships, interactions, and also culture between students, lecturers, or even with student organizations in it. In the end, there is a conclusion that in the midst of the shift that brings virginity to no longer being wrapped in a single understanding, virginity remains a discourse that creates limitations for women's body space through control, stigma, and existing social sanctions. However virginity is still difficult to say as belonging to a woman completely.
Kata Kunci : Kata kunci: Makna Keperawanan, Seksualitas Perempuan, Pengalaman hidup.