Exclusivism in Interfaith Dialogue Titik dua A Case Study of Pentecostal Christians in Yogyakarta
JENNY ERFINA SARAGIH, Dr . Izak Y . M . Lattu
2020 | Tesis | MAGISTER AGAMA DAN LINTAS BUDAYAKajian ini akan mengupas tentang batasan hubungan lintas iman antara jemaah Pantekosta dengan umat Islam di Yogyakarta yaitu dengan mengkaji pengalaman dialog lintas iman jemaah. Dialog lintas iman menurut Knitter merupakan bagian dari strategi membangun kerukunan yang sebagian besar skeptis terhadap kelompok agama eksklusif. Knitter berpendapat bahwa ada empat macam karakteristik besar dari sebuah kelompok agama, yaitu penggantian, pemenuhan, mutualitas, dan penerimaan. Ciri pertama menurut pendapatnya dikategorikan sebagai kelompok eksklusif atas klaim pemahaman teologis sebagai satu-satunya kebenaran, sekaligus menilai agama lain sebagai keyakinan yang sangat berlawanan. Jadi, model pertama ini tidak memiliki pendekatan damai terhadap agama lain dan rentan menjadi sumber intoleransi. Argumen ini berimplikasi pada paradigma bahwa dialog antaragama hanya mungkin terjadi jika orientasi teologis komunitas sebuah keagamaan diubah menjadi inklusif atau pluralisme. Namun, ketiga ciri kelompok agama tersebut sangat berlawanan dengan pandangan teologis dan kepercayaan kelompok Pantekosta. Knitter mengatakan, pemahaman teologis kelompok agama yang dikategorikan sebagai model pertama, karakter keagamaan seperti ini tidak memungkinkan para penganutnya untuk memiliki ruang dalam menghormati dan menjaga kerukunan terhadap kelompok agama lainnya. Kajian ini akan mencoba memeriksa pandangan yang diterima secara umum tersebut dengan mengkaji pendapat, sikap, dan pengalaman jemaah gereja Pantekosta di Yogyakarta terhadap praktek dialog lintas iman dengan umat Islam sebagai kelompok agama dengan jumlah populasi terbesar di Indonesia. Selain itu, Yogyakarta adalah miniatur Indonesia yang masyarakatnya sangat beragam dari berbagai latar belakang kepercayaan dan budaya. Oleh karena itu, sangat menarik meneliti bagaimana jemaah Pantekosta dapat mempertahankan kepercayaan teologis mereka yang ketat di kota yang majemuk ini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui observasi dan wawancara mendalam serta data sekunder dari penelitian sebelumnya tentang Kristen konservatif di Indonesia. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa jemaah Pantekosta memiliki cara pandang yang beragam dalam mengekspresiakan padangan teologis mereka yang eksklusif. Mereka juga memiliki strategi dalam membangun harmoni dengan umat Islam tanpa harus mengkompromikan keyakinan teologis mereka.
This study is going to explore interfaith boundaries among Pentecostal congregants with Muslims in Yogyakarta by examining their interfaith dialogue experiences. Interfaith dialogue according to Knitter is a part of a strategy in building harmony which mostly skeptical to the exclusive religious groups. Knitter argues that there are four kinds of a big characteristic of the religious group, such as replacement, fulfillment, mutuality, and acceptance. The first characteristic according to his opinion is categorized as the exclusive group for their claim of their internal theological understanding as to the only truth, at the same time judging other religions as extreme opposite beliefs. Therefore, this first model does not have a kind of peaceful approach to the other faiths and counted as challenging and vulnerable to be the source of intolerance. This argument implies to the paradigm that interfaith dialogue is only possible when the theological orientation of religious communities is changed into inclusive or pluralism, which relates to the other characteristics of the religious group according to Knitter���¢�¯�¿�½�¯�¿�½s argument. However, those three characteristics of the religious group are in extreme contrast to the theological perspective with the Pentecostal���¢�¯�¿�½�¯�¿�½s belief. Knitter said that the theological understanding of the religious group which is categorized as the first model religious character is not possible to have space for respecting and maintaining harmony and tolerance toward others. This study will examine this generally accepted view by studying the opinion, attitude, and experiences of Pentecostal���¢�¯�¿�½�¯�¿�½s congregants in Yogyakarta toward interfaith dialogue with Muslims as the majority of religious groups in Indonesia. Besides, Yogyakarta is the miniature of Indonesia where the people are very diverse from different backgrounds of faith and culture. Hence, the writer is curious about how the Pentecostal could maintain their strict theological belief in this plural city. This study employs qualitative methods through observation and depth interviews as well as the secondary data from the previous study on conservative Christian in Indonesia. The research concludes that the Pentecostal���¢�¯�¿�½�¯�¿�½s congregants have their kind of perspective and strategy in building harmony with Muslims without compromising their theological beliefs.
Kata Kunci : Jemaah Pantekosta , Eksklusivitas , Dialog Lintas Agama , Kerukunan / Pentecostal congregants , Exclusivism , Interfaith Dialogue , Harmony