Laporkan Masalah

Analysing the Possibilities of Channelling "Unemployment Benefit" Policy Implementation through Vocational Training Program (BLK) in Semarang, Central Java

MEDI RAHMATIKA DEWI, Amalinda Savirani

2021 | Tesis | MAGISTER SOSIOLOGI

Tingginya tingkat pengangguran di kalangan kaum muda di banyak negara berkembang hingga mencakup 40 persen dari populasi pengangguran di seluruh dunia termasuk Indonesia (United Nation, 2012). Oleh karena itu, penyusunan program pelatihan vokasi merupakan salah satu pilihan untuk meningkatkan kemampuan kerja dan mengintensifkan penciptaan lapangan kerja dalam suatu perekonomian serta menyesuaikan antara keterampilan dan harapan para pencari kerja. Kajian ini akan mengevaluasi dan menilai efektivitas program pelatihan vokasi yang telah dilaksakan dalam rangka menciptakan lapangan kerja dan mengakomodir keterampilan yang dibutuhkan oleh para pemberi kerja. Selanjutnya, penelitian ini akan mengamati efektivitas BLK (Balai Latihan Kerja), yang merupakan program dari Kementerian Ketenagakerjaan dan dilaksanakan di tingkat daerah oleh Dinas Tenaga Kerja di Kota Semarang sebagai studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan melalui wawancara dengan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Balai Latihan Kerja, dan peserta program. Tesis ini memiliki tiga temuan utama. Pertama, sulitnya mengukur efektivitas program pelatihan karena adanya ketidaksesuaian kapasitas lembaga, adanya perbedaan kualitas instruktur pelatihan antara instruktur tetap dan instruktur tidak tetap. Program yang tersedia di BLK tidak selalu sesuai dengan permintaan pemberi kerja dan kompetensi peserta. Oleh karenanya, sebagian besar peserta yang mengikuti program pengembangan keterampilan sulit untuk dapat memasuki pasar tenaga kerja. Kedua, skema kegiatan di BLK hanya terfokus pada saat pelatihan, dan tidak terfokus pada kegiatan pasca pelatihan. Dengan kata lain tidak ada evaluasi dari BLK teehadap para peserta setelah mereka menyelesaikan kursus. Peserta tidak difasilitasi dan dimonitor apa yang terjadi setelah pelatihan. Akibatnya peserta kurang termotivasi untuk memulai usaha mandiri karena keterbatasan modal dan kemampuan berwirausaha. Oleh karena itu, tunjangan pengangguran dapat menjadi pilihan yang akan digunakan dalam memperkuat BLK untuk menciptakan kinerja yang lebih baik dari program pelatihan vokasi yang bertujuan untuk memfasilitasi peserta memasuki pasar tenaga kerja.

Unemployment among youth is extremely high in a lot of developing countries and comprises 40 per cent of the world's unemployed population (United Nations, 2012). This includes Indonesia. Therefore, the arrangement of Vocational training programme is one of the options to create to increase the employability and to intensify jobs creation in an economy and match the skills and expectations of the unemployed. This study will evaluate and assess, regarding the effectiveness of the existing vocational training programme in order to create job opportunity and match the skills of the unemployed in Indonesia. Furthermore, this research will investigate the effectiveness of BLK (Balai Latihan Kerja), a Programme of ministry of manpower and executed at local level by office of manpower (Dinas Tenaga Kerja) in Semarang Municipality as a case study. Although the participants do not necessary come from Semarang Municipality, but beyond that. The data will be provided by conducting interviews with the manpower and transmigration office, vocational training programme institution (Balai Latihan Kerja), and participants of the programme. This thesis have three main findings. First, it is hard to measure the effectiveness of the vocational training programme due to institutional capacity discrepancy, the quality of training instructor is somewhat different between the permanent instructor and the temporary instructor. The available programme at BLK does not necessarily link to on-demand job and the participant's competency. As a result most of the participant join the program for skill development instead of enter the labor force. Second, the design of the activities at BLK focused too much during the training, and not so much in post-training activities. The programs at BLK do not paying attention to what happened to participants after they completed the course Participants are not facilitated and monitored what happened after their training. As a result, the participants are less motivated to create new job due to capital and entrepreneurship skill boundaries. Therefore, unemployment benefit can be an option to be spent in strengthening BLK to create a better performance of the vocational training programme aim to facilitate participants entering job market.

Kata Kunci : Pengangguran, usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, kebijakan pengangguran, tunjangan pengangguran, program pelatihan kejuruan

  1. S2-2021-434375-abstract.pdf  
  2. S2-2021-434375-bibliography.pdf  
  3. S2-2021-434375-Tableofcontent.pdf  
  4. S2-2021-434375-title.pdf