HUBUNGAN POLIMORFISME GEN ALCOHOL DEHYDROGENASE 1C (ADH1C) DENGAN STATUS FUNGSI GINJAL PADA ETNIS NUSA TENGGARA TIMUR PEMINUM ALKOHOL
BUDIATRI RETNO N, dr. Yudha Nurhantari, Ph.D, Sp.FM; Dr. Dra. Suhartini, Apt, SU
2020 | Tesis | MAGISTER ILMU KEDOKTERAN KLINISLatar Belakang dan Tujuan Permasalahan yang ditimbulkan oleh gangguan fungsi ginjal memberikan beban ekonomi yang besar. Alkohol dicurigai sebagai salah satu faktor yang berperan dalam gangguan fungsi ginjal melalui sifat polimorfisme gen yang mengode enzim ADH1C. Masih sedikitnya penelitian yang mencari hubungan antara polimorfisme gen ADH1C dengan status fungsi ginjal, mendorong penulis untuk meneliti hal ini pada populasi yang banyak mengonsumsi alkohol di Indonesia, yaitu etnis Nusa Tenggara Timur (NTT). Metode Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik komparatif tidak berpasangan dengan desain potong lintang (cross sectional). Pada 76 subyek yang memenuhi kriteria eligibilitas dilakukan wawancara, pengukuran, serta pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan deoxyribonucleic acid (DNA), kreatinin dan urea serum. Pemeriksaan DNA dilakukan untuk menentukan genotype dari ADH1C dengan metode polymerase chain reaction-restriction fragment length polymorphism (PCR-RFLP) yang didigesti menggunakan enzim restriksi endonuclease SspI. Analisis dilakukan untuk melihat adanya hubungan antara genotype ADH1C dengan status fungsi ginjal, dengan uji statistik chi-square. Hasil Dari 76 subyek penelitian, genotype ADH1C*1/*1 dimiliki oleh 1 orang subyek (1,3%), ADH1C*1/*2 oleh 39 subyek (51,3%) dan ADH1C*2/*2 pada 36 subyek (47,4%). Sehingga mayoritas alel pada etnis NTT adalah ADH1C*2 dengan frekuensi 73,03%, sedangkan frekuensi alel ADH1C*1 adalah 26,97%. Distribusi alel mengikuti hukum Hardy-Weinberg equilibrium (p=0,653). Terdapat hubungan yang bermakna antara polimorfisme gen ADH1C dengan status fungsi ginjal etnis NTT peminum alkohol (p=0,005). Genotype ADH1C*1/*2 memiliki kecenderungan untuk terjadinya penurunan eGFR pada batas 74,75 mL/menit/1,73m2 hingga 6,620 kali jika dibandingkan dengan ADH1C*2/*2, setelah variabel perilaku merokok dikontrol. Tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara polimorfisme ADH1C dengan kadar urea serum (p=0,123, 0,421 dan 0,335), maupun tingkat konsumsi alkohol (p=0,751). Kesimpulan Pada etnis NTT, genotype ADH1C adalah ADH1C*1/*2 (51,3%), ADH1C*2/*2 (47,4%) dan ADH1C*1/*1 (1,3%), dengan mayoritas alel adalah ADH1C*2 (73,03%). Memiliki genotype ADH1C*1/*2 berhubungan dengan kecenderungan penurunan status fungsi ginjal yang tercermin pada batas eGFR kurang dari 74,75 mL/menit/1,73m2 jika dibandingkan dengan ADH1C*2/*2. Namun, polimorfisme pada ADH1C tidak berhubungan dengan kadar urea serum, maupun tingkat konsumsi alkohol.
Objective The association between alcohol consumption and kidney function is still inconclusive. The conflicting results might be the result of ADH1C polymorphism's influence on alcohol metabolism rate. We investigate the correlation between ADH1C polymorphism and kidney function status in ethnic NTT, a population with highly prevalent alcohol consumption in Indonesia. Methods We had conducted a cross-sectional study of 76 subjects from NTT. DNA was extracted and genotyping for ADH1C was done by PCR-RFLP using restriction endonuclease SspI. The ADH1C allele was then to be compared with the serum urea and eGFR that had been categorized according to percentiles analyzed using chi-square. Results The frequency distribution of ADH1C*1/*2 was the highest among ethnic NTT (51.3%), followed by ADH1C*2/*2 (47.4%) and ADH1C*1/*1 (1.3%). The majority of the population had the ADH1C*2 allele (73.03%), and the ADH1C*1 allele (26.97%) was carried by the rest. The distribution was in Hardy-Weinberg equilibrium (p=0.653). There was a significant association between ADH1C polymorphism and kidney function status among ethnic NTT (p=0.005) when eGFR was analyzed at the 25th percentile (74.75 mL/minute/1.73m2). The odds ratio shows that having ADH1C*1/*2 genotype increased the probability of decreasing eGFR 6.620 times compared to ADH1C*2/*2 after it was adjusted for smoking behavior. There were no associations between ADH1C polymorphism and serum urea level (p=0.123, 0. 421, and 0.335), and also between ADH1C polymorphism and alcohol consumption level (p=0.751). Conclusions This study shows that ethnic NTT have genotype of ADH1C*1/*2 (51.3%), ADH1C*2/*2 (47.4%) and ADH1C*1/*1 (1.3%). Hence, the most frequent allele was ADH1C*2. Carriers of ADH1C*1/*2 have higher odds ratio for eGFR below 74.75 mL/minute/1.73m2 than those with ADH1C*2/*2 genotype. There were no significant associations between ADH1C polymorphism and serum urea level, and between ADH1C polymorphism and alcohol consumption level.
Kata Kunci : polymorphism, alcohol dehydrogenase 1C, glomerular filtration rate.