RAJABAN PUNCAK MENOREH: RUANG PUBLIK DALAM BINGKAI UPACARA ADAT
KHOIRUL RAHMAN, Hakimul Ikhwan, Dr., S.Sos., M.A.; Muhamad Supraja, Dr., M.Si.; Fina Itriyati, M.A. Ph.D
2021 | Skripsi | S1 SOSIOLOGITulisan ini menjelaskan bagaimana upacara adat Rajaban yang dilakukan oleh masyarakat Banyunganti dan Gunung Kelir menjadi ruang publik yang dapat mempertemukan banyak unsur, terutama Islam dan Budha sebagai agama dominan di wilayah tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif serta pendekatan deskriptif. Penggunaan metode kualitatif diharapkan peneliti dapat mengeksplore lebih jauh fenomena sosial yang terjadi. Sedangkan dengan pendekatan deskriptif akan mempermudah peneliti untuk memberikan gambaran serta penjelasan detail yang disajikan dalam bentuk naratif. Terdapat empat temuan utama penelitian ini. Pertama, Rajaban bukan hanya milik salah satu golongan umat beragama tetapi milik seluruh warga masyarakat tanpa melihat latar belakang agama yang dianut. Dalam konteks inilah Rajaban bukan lagi menjadi upacara agama tetapi upacara budaya yang tidak berafiliasi kepada sebuah agama tertentu. Kedua, upacara Rajaban memiliki setidak tiga dimensi berbeda, yaitu (1) dimensi transenden sebagai syukur kepada Tuhan YME; (2) dimensi horizontal sebagai penghormatan dan ngabekti kepada leluhur yang menjadi cikal bakal masyarakat; dan (3) dimensi ekspresi kebahagian atas rezeki dari alam, atau biasa di sebut nylameti bumi. Ketiga, sesaji yang mereka gunakan tidak dianggap sebagai bentuk penyimpangan norma agama melainkan bentuk imajinasi sosial di dalam masyarakat Padukuhan Banyunganti dan Gunung Kelir untuk berkumpul dan mengungkapkan rasa ngabekti mereka kepada leluhur. Keempat, upacara Rajaban ini telah menjadi ruang publik yang mampu mempertemukan banyak unsur di dalamnya, termasuk mereka yang memiliki kepercayaan yang berbeda. Sehingga dengan adanya upacara Rajaban ini solidaritas dan kerukunan umat beragama di Padukuhan Banyunganti dan Gunung Kelir dapat meningkat. Tetapi dinamika upacara Rajaban tidak selalu berjalan mulus. Ruang publik yang pada dasarnya mempersatukan serta menjadi tempat inklusif, tetapi ternyata terdapat pula kosekuensi atas persatuan itu, yaitu perpecahan.
This paper explains how the Rajaban traditional ceremonies carried out by the Banyunganti, and Gunung Kelir people become a public space that can bring together many elements, especially Islam and Buddhism, as the region's dominant religions. This research uses qualitative methods and a descriptive approach. The use of qualitative research methods can further explore the social phenomena that occur. Meanwhile, the descriptive approach will make it easier for researchers to provide detailed descriptions and explanations presented in narrative form. There are four main findings of this study. First, Rajaban does not only belong to one religious group but also to all members of society regardless of their religious background. In this context, Rajaban is no longer a religious ceremony but a cultural ceremony that is not affiliated with a particular religion. Second, the Rajaban ceremony has at least three different dimensions, namely (1) the transcendent dimension of gratitude to God Almighty; (2) the horizontal dimension as respect and honour to the ancestors who became the forerunners of society; and (3) dimensions of expression of happiness over sustenance from nature, or commonly called nylameti of the earth. Third, the offerings they use are not considered a form of deviation from religious norms, but rather a form of social imagination in the people of Padukuhan Banyunganti and Gunung Kelir to gather and express their sense of self-reliance to their ancestors. Fourth, this Rajaban ceremony has become a public space that can bring together many elements, including those with different beliefs. So that with the Rajaban Ceremony, the solidarity and harmony of religious communities in Banyunganti and Gunung Kelir can be increased. But the dynamics of the Rajaban Ceremony do not always run smoothly. The public sphere unites and becomes an inclusive place, but it turns out that there are consequences for this unity, namely division.
Kata Kunci : Upacara Rajaban, Ruang Publik, Prulalisme Beragama