Arsitektur Kontemporer Kota Pada Penggal Jalan D. I. Panjaitan Kampung Cina Bengkulu
DWI RINA UTAMI, Dr. Ir. Djoko Wijono, M. Arch
2021 | Tesis | MAGISTER ARSITEKTURBerbeda dengan elemen-elemen arsitektur kota di kota lama Bengkulu yang berada dalam lingkup individual, Kampung Cina berada dalam lingkup kawasan. Kampung Cina adalah bagian dari pusat kota lama dan memiliki peninggalan-peninggalan arkeologi berupa bangunan-bangunan arsitektur Cina. Penggal jalan D. I. Panjaitan di Kampung Cina di pilih menjadi lokus karena merupakan jalan kolektor utama yang selalu dilewati kendaraan, sehingga berpengaruh besar dalam pembentukan citra kawasan pecinan Bengkulu dan citra kawasan kota lama. Pada penggal jalan ini juga terdapat kompleksitas arsitektur kontemporer kota (ruang geometris dan ruang fungsional) berupa indikasi perbedaan wujud antar bangunan, perbedaan solid, void, dan persil, serta perbedaan okupasi bangunan dan ruang. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan merumuskan arsitektur kontemporer kota pada penggal jalan D. I. Panjaitan dengan menggunakan metode deduktif kualitatif. Penelitian ini menghasilkan rumusan arsitektur kontemporer kota yang terdiri dari karakteristik arsitektur bangunan Cina asli di sisi utara dan karakteristik arsitektur bangunan Cina modern di sisi selatan dimana fungsi kawasan secara kontemporer adalah sebagai kawasan perdagangan, permukiman dan wisata. Ditemukan pula karakteristik arsitektur (ruang geometris dan ruang fungsional) serta faktor-faktor pembentuknya yang cenderung memiliki keterkaitan dengan arsitektur kosmologi Cina yaitu angka 3 (Sanqing), angka 5 (Wuxing), angka 8 (Bagua) atau Feng Shui, dan angka 9 (Jiugongtu dan Jingtianzhi). Keterkaitan tersebut terlihat dari wujud bangunan, batasan lokasi, orientasi bangunan, perletakan vihara, pengkondisian air hujan yang mengalir dari timur ke barat, pemakaian aksis Jin dan Lu pada gugusan bangunan, dan okupasi ruang pada kegiatan Cap Go Meh. Adapun terbentuknya karakteristik tersebut karena pengaruh sejarah, kebijakan penguasa, lokasi, sosial, budaya, dan peristiwa penting.
Otherwise the urban architectural elements in the old city of Bengkulu which were in the individual sphere, Chinese Town in Bengkulu was within the scope of the region. Chinese Town is part of the old city center and has archaeological remains in the form of Chinese architectural buildings. The D. I. Panjaitan street was chosen as the locus because it is the main collector street that vehicles always pass when crossing the Chinese Town area, therefore it has a major influence in shaping the image of the Bengkulu Chinese Town area and the image of the old city area. In addition, this area shows the complexity of geometric space and functional space in the form of an indication of the difference in shape between old buildings, old buildings and new buildings, indications of differences in solid, void, and parcel rows. Indication of differences in occupation of buildings, space and activities. Therefore, this study aims to formulate contemporary city architecture on the D. I. Panjaitan street section using qualitative deductive methods. This research results that the contemporary architecture of the city in the street section of D. I. Panjaitan street consists of the architectural characteristics of the original Chinese buildings on the north side and the architectural characteristics of modern Chinese buildings on the south side. The area covers various functions including a trade area, a settlement, and a tourism area. Geometric space characteristics, functional space characteristics, and the factors forming is related to Chinese cosmological architecture, namely number 3 (Sanqing), number 5 (Wuxing), number 8 (Bagua) or Feng Shui, and number 9 (Jiugongtu and Jingtianzhi). This relationship can be seen from the building shape, the location boundary, the building orientation, the placement of the monastery, the condition of rainwater flowing from east to west, the use of Jin and Lu axes in building clusters, and the space occupation in Cap Go Meh activities.The characteristics are influenced by several factors such as history, government policies, location, social factors, culture, and important events.
Kata Kunci : Arsitektur Kontemporer, Kota, Kampung Cina, Bengkulu