Pengaruh pemberian Gonadotrophin Releasing Hormone (GnRH) terhadap angka kebuntingan kambing peranakan etawah yang disinkronisasi estrus menggunakan medroxy progesterone acetate (MPA) dan Controlled Internal Drug Relsease (CIDR) intravagina
WAFIATININGSIH, drh. Sri Hartantyo, MSc.,PhD
2002 | Tesis | S2 Sain VeterinerPenelitian ini dilakukan untuk membandingkan efektivitas penggunaan Medroxy Progesterone Acetate (MPA) dan Controlled Internal Drug Release (CIDR) intra vagina untuk sinkronisasi estrus pada kambing PE serta untuk mengetahui pengaruh pemberian Gonadotrophin Releasing Hormone (GnRH) terhadap angka kebuntingan kambing PE yang disinkronisasi estrus menggunakan spon MPA/implant CIDR. Enam belas ekor kambing PE yang berumur 1,5 – 30 tahun dengan bobot badan 27-36 kg, setelah dilakukan prakondisi secara acak dibagi menjadi 4 kelompok dan masing-masing mendapat perlakuan yakni, I (MPA), II (MPA+GnRH), III (CIDR) dan IV (CIDR+GnRH). MPA dan CIDR diberikan secara vagna selama 18 hari. Perkawinan dilakukan secara alami sebanyak 2 kali. GnRH diberikan setelah perkawinan pertama. Rancangan penelitian yang dipakai adalah Rancangan Acak Lengkap pola searah. Data waktu induksi estrus dianalisis dengan t-tes, data lama estrus dan jumlah anak sekelahiran dengan analisa varians, data persentase kambing yang estrus dan persentae kebuntingandianalisis dengan khi-kuadrat, sedangkan data daya retensi implant, kemungkinan terjadinya vaginitis dan profil hormone progesterone dilaporkan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang nyata (p>0,05) terhadap persentase estrus (100; 100; 100%), waktu induksi estrus (46,05±10,14 dan 43,23±7,92 jam), lama estrus (25,63±8,30; 23,15±6,02; 24,79±14,22 dan 23,67±3,85 jam), persentase kebuntingan (50;50;50 dan 75%), jumlah anak sekelahiran (1,5±0,71; 2,0±0,00; 1,0±0,00 dan 1,0±0,00 ekor). Angka retensi implant baik spon MPA atau CIDR adalah 100% dan tidak menyebabkan vaginitis. Pemakaian baik spon MPA atau CIDR setelah 9 hari cenderung meningkatkan konsentrasi progesterone plasma dan akan menurun dengan tajam 48 jam setelah penghentian perlakuan. Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa baik spon MPA maupun CIDR efektif untuk sinkronisasi estrus pada kambingPE. Pemberian penambahan GnRH sebanyak 50 µg secara statistic tidak menunjukkan perbedaan yang nyata, namun demikian penambahan GnRH cenderung memiliki lama estrus yang lebih pendek dan pemakaian CIDR + GnRH cenderung menunjukkan angka kebuntingan yang lebih tinggi serta pemakaian CIDR cenderung menunjukkan estrus yang lebih cepat daripada MPA.
Available in Fulltext
Kata Kunci : Kebuntingan, Kambing Etawah, GnRH,MPA dan CIDR, ECB does, estrus synchronozation.