Strategi Pengembangan Usahatani Bawang Putih di Kecamatan Kaliangkrik Kabupaten Magelang
DJAKA LUHUNG PRANATA, Prof. Dr. Ir. Irham, M.Sc
2021 | Tesis | Magister Manajemen AgribisnisUsahatani Bawang Putih di Kecamatan Kaliangkrik Kabupaten Magelang memiliki potensi untuk memenuhi permintaan pasar Indonesia yang masih menggunakan impor bawang putih. Tingginya Permintaan bawang putih tidak diikuti dengan jumlah produksi dalam negeri. Luas panen dan produksi bawang putih lokal di Kabupaten Magelang mengalami penurunan yang disebabkan daya saing terhadap bawang putih impor yang mengakibatkan turunnya minat petani untuk menanam bawang putih dan dibutuhkan strategi untuk mengembangkan usahatani tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui keaktifan dan kerja sama kelompok tani pada usahatani bawang putih, (2) merumuskan strategi pengembangan usahatani bawang putih berbasis petani, (3) merumuskan strategi pengembangan usahatani berbasi kelompok tani. Lokasi penelitian dipilih dengan purposif di Kecamatan Kaliangkrik Kabupaten Magelang Desa Adipuro dan Desa Munggangsari. Jumlah sampel pada petani bawang putih dilakukan secara Proposional Random Sampling sebanyak 40 responden dan Purposive Sampling pada kelompok tani sebanyak 30 responden. Analisis yang digunakan adalah analisis tabel, IFAS (Internal Factor Analysis Summary) dan EFAS (External Factor Analysis Summary) serta SWOT. Kelompok tani di Kecamatan Kaliangkrik merupakan kelompok tani lanjutan yang aktif karena terbentuk lebih dari 10 tahun dan kemampuan anggota dalam melaksanakan tugas. Hasil analisis SWOT petani bawang putih berada pada kuadran satu (I) yang terletak pada strategi S-O (Strenght – Opportunities) dengan memanfaatkan peluang yang ada. Untuk analisis SWOT kelompok tani berada pada kuadran dua (II) yang terletak pada strategi W-O (Weakness – Opportunities), memperbaiki faktor – faktor internal untuk memanfaatkan peluang yang ada.
Garlic Farming in Kaliangkrik Subdistrict, Magelang Regency has the potential for demand of the Indonesian market which still uses imported garlic. The high demand for garlic is not followed by the amount of domestic production. The area of harvest and local garlic production in Magelang Regency has decreased due to the competitiveness of imported garlic which has resulted in decreased interest of farmers to grow garlic and a strategy is needed to develop this farming. This study aims to (1) determine the activeness and cooperation of farmer groups in garlic farming, (2) formulate a farmer-based garlic farming development strategy, (3) formulate a farmer group that based farming development strategy. The research location was chosen purposively in Kaliangkrik District, Magelang District, Adipuro Village and Munggangsari Village. The number of samples of garlic farmers was carried out by Proposional Random Sampling as many as 40 respondents and purposive sampling in farmer groups as many as 30 respondents. The analysis used is table analysis, IFAS (Internal Factor Analysis Summary) and EFAS (External Factor Analysis Summary) and SWOT. The farmer group in Kaliangkrik District is an active advanced farmer group because it has been formed for more than 10 years and the ability of the members to carry out their duties. The results of the SWOT analysis of garlic farmers are in quadrant one (I) which lies in the S-O strategy (Strength - Opportunities) by taking advantage of existing opportunities. For SWOT analysis, farmer groups are in quadrant two (II) which lies in the W-O (Weakness - Opportunities) strategy, improving internal factors to take advantage of existing opportunities.
Kata Kunci : Bawang Putih, keaktifan dan kerja sama kelompok tani, IFAS dan EFAS, Analisis SWOT; Garlic, farmer group activity and cooperation, IFAS and EFAS, SWOT analysis