Laporkan Masalah

Susutainability of Community-Based Disaster Risk Reduction Program, Case of Disaster Resilient Kampong in Lobaningratan and Prawirodirjan, Yogyakarta

SUHARJITO, Deva Fosterharoldas Swasto, S.T., M.Sc., Ph.D.

2021 | Tesis | MAGISTER PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

Indonesia secara geografis berada di wilayah rawan bencana alam. Oleh karena itu Indonesia menghadapi potensi ancaman bencana, seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, banjir, tanah longsor, tsunami, dll. Paradigma penanggulangan bencana alam telah berubah dari tanggap darurat dan bantuan kemanusiaan, ke pendekatan pengurangan risiko bencana. Pada tahun 2013, Pemerintah Kota Yogyakarta mulai mengembangkan program Kampung Tangguh Bencana (KTB) sebagai salah satu cara untuk mengurangi risiko bencana berbasis masyarakat itu sendiri. Beberapa KTB pertama yang ditunjuk adalah Kampung Lobaningratan dan Prawirodirjan. Keberlanjutan program seringkali menjadi masalah yang muncul dalam program berbasis masyarakat. Oleh karena itu, memahami keberlanjutan program itu penting. Program yang berkelanjutan akan menjamin keberlangsungan manfaatnya bagi masyarakat. Makalah ini bertujuan 1) mengidentifikasi variabel-variabel yang mempengaruhi keberlanjutan program Kampung Tangguh Bencana dan 2) mengukur keberlanjutan program Kampung Tangguh Bencana. Analisis telah mengkonfirmasi 7 variabel laten (yaitu, Stabilitas Pendanaan, Kemitraan, Kapasitas Organisasi, Evaluasi Program, Adaptasi Program, Komunikasi, dan Perencanaan Strategis) dan 28 variabel indikator yang secara signifikan berkontribusi pada keberlanjutan program. Hampir semua variabel laten memiliki skor rata-rata keberlanjutan yang tinggi kecuali Stabilitas Pendanaan yang memiliki skor rata-rata sedang. Skor keseluruhan juga tergolong tinggi.

Because Indonesia is geographically located in a naturally disaster-prone region, it faces potential threats of disaster, such as earthquakes, volcanic eruptions, floods, landslides, tsunami, etc. The paradigm of dealing with natural disasters has changed from a humanitarian and relief response to a disaster risk reduction approach. In 2013, the Yogyakarta Municipality government started to develop a Disaster Resilient Kampongs (DRK) program as a means of reducing disaster risk based on the community itself. Some of the first designated DRKs are Lobaningratan and Prawirodirjan Kampongs. The sustainability of the program is often the problem that arises in community-based programs. Moreover, understanding the sustainability of the program is important. A sustainable program will ensure the continuity of its benefit to the community. This paper aims 1) to identify variables that affect the sustainability of the Disaster Resilient Kampong program and 2) to assess the sustainability of the Disaster Resilient Kampong program. The analysis confirmed 7 latent variables (i.e., Funding Stability, Partnerships, Organizational Capacity, Program Evaluation, Program Adaptation, Communications, and Strategic Planning) and 28 indicator variables that significantly contribute to the sustainability of the program. Almost all latent variables have a high average score of sustainability except Funding Stability, which has a fair average score. The overall score is also considered high.

Kata Kunci : Disaster risk reduction, community-based, program sustainability

  1. S2-2021-434650-abstract.pdf  
  2. S2-2021-434650-bibliography.pdf  
  3. S2-2021-434650-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2021-434650-title.pdf