ARAB-TUWAN DAN ARAB-RADEN:(Pencarian) Identitas Kolektif Arab-Jawa di Pekalongan dan Kedu Abad ke-19 dan Abad ke-20
AHMAD ATHOILLAH, Prof. Dr. Bambang Purwanto, MA ; Dr. Abdul Wahid, M. Phil
2021 | Disertasi | DOKTOR ILMU-ILMU HUMANIORAPenelitian historis ini menjelaskan identitas kolektif komunitas Arab-Jawa di wilayah Keresidenan Pekalongan dan Kedu pada abad ke-19 dan abad ke-20. Berangkat dari proses asimilasi para pendatang Arab Hadrami di Pekalongan dan Kedu yang selalu berubah-ubah bentuknya sampai pertengahan abad ke-20, maka proses pembentukan identitas kolektif komunitas Arab-Jawa ketika berhadapan dengan dominasi sosiologi kultural Jawa, politik identitas kolonial, nasionalisme pribumi, dan kebangkitan identitas Arab menjadi permasalahan yang penting untuk diteliti. Metode sejarah kritis dengan menggunakan data-data arsip koleksi keturunan Arab-Jawa, arsip kolonial, telaah referensi yang relevan dan wawancara (oral history) diinterpretasikan serta disajikan dalam bentuk tulisan (historiografi). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa identitas kolektif Arab-Jawa pada awal abad ke-19 dibangun oleh jalinan kekerabatan baru antara pendatang dan keturunan Arab dengan aristokrat Jawa serta usaha pemunculan narasi kolektif keluarga Arab dan Jawa. Juga ditemukan tentang munculnya varian baru dari komunitas Arab-Jawa pada akhir abad ke-19 yaitu kelompok Jawa-Arab yang lebih kental dengan identitas kolektif Jawa dibandingkan identitas kolektif Arab di wilayah Keresidenan Pekalongan dan Kedu. Selain itu, juga disebutkan adanya gerakan kolektif untuk kembali menjadi Arab baik dari kalangan Arab-Jawa dan Jawa-Arab pada pergantian abad ke-20 yang melahirkan istilah baru yaitu sayid baru seperti Arab ndara atau Arab tuwan bagi Arab-Jawa dan Arab raden untuk Jawa-Arab. Istilah tuwan pada Arab-Jawa membuat identitas kearaban bagi masyarakat Jawa sama dengan etnis asing dan non-Jawa, sementara status raden pada Jawa-Arab juga tidak dapat disamakan begitu saja esensinya dengan gelar raden pada umumnya priayi Jawa. Kata kunci : komunitas Arab-Jawa, identitas kolektif, Pekalongan, Kedu.
This historical study exsplains the collective identity of the Arab-Javanese community in Pekalongan and Kedu residency in the 19th and 20th centuries. Originated from the ever-changing process of assimilation of Hadrami Arab settlers in Pekalongan and Kedu until the mid-20th century, the process of establishing the collective identity of the Arab-Javanese community when dealing with Javanese cultural sociology dominance, colonial identity politics, indigenous nationalism, and the rise of Arab identity became an important issue to investigate. Critical historical methods using archive data of Arab-Javanese descents, colonial archives, relevant reference studies, and oral history are interpreted and presented in the form of historiography. The results of this study show that the collective identity of Arab-Javanese in the early 19th century was built by a new kinship between migrants and Arab descents with Javanese aristocrats and efforts to establish a collective narrative of Arab and Javanese families. It was also discovered about the emergence of a new variant of the Arab-Javanese community in the late 19th century which is a Javanese-Arab group that is more identical with the Javanese collective identity than the Arab collective identity in Pekalongan and Kedu residency. In addition, there is also mentioned a collective movement to return to being Arab from both Arab-Javanese and Javanese-Arab circles at the turn of the 20th century which created a new term namely sayid baru (new sayid) such as Arab ndara or Arab tuwan (Sir) for Arab-Javanese makes Arab identity for Javanese people same as foreign ethnic and non-Javanese while raden in Java-Arab does not share the same meaning as the title of raden for Javanese priayi in common. Keywords: Arab-Javanese community, collective identity, Pekalongan, Kedu.
Kata Kunci : komunitas Arab-Jawa, identitas kolektif, Pekalongan, Kedu.