SUBJEK SEMAR DALAM BUDAYA JAWA DAN NOVEL GERAKAN PUNAKAWAN ATAWA ARUS BAWAH (1994) KARYA EMHA AINUN NADJIB SERTA SEMAR MENCARI RAGA (1996) KARYA SINDHUNATA: PERSPEKTIF SUBJEKTIVITAS POST-MARXISM
INNEZDHE AYANG M., Dr. Aprinus Salam, M.Hum.
2021 | Tesis | MAGISTER SASTRASemar merupakan bagian punakawan yang memberikan pengaruh besar pada praktik budaya Jawa, seperti bagaimana Semar tidak mengajarkan manusia untuk mengejar hal-hal duniawi semata dan justru lebih menekankan tenggang rasa sesama manusia untuk mewujudkan serta merawat tepa salira. Oleh sebab itu, diperlukan kajian mengenai Semar sebagai subjek baik dalam budaya Jawa maupun dalam karya sastra modern, seperti Gerakan Punakawan Atawa Arus Bawah (1994) karya Emha Ainun Nadjib dan Semar Mencari Raga (1996) karya Sindhunata. Dalam budaya Jawa, Semar dikonstruksi oleh unsur paradoksal dan konsep manunggaling kawula-gusti yang dibawanya. Hal ini dapat dijelaskan oleh perspektif pemikir pemikir post-marxist seperti Slavoj Zizek, Jacques Ranciere, Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe, Felix Guattari dan Gilles Deleuze, serta Jean-Luc Nancy tentang subjek. Dalam hal ini, Semar sebagai subjek merepresentasikan lack dalam manusia yang hanya dapat terpenuhi dalam fantasi ideologis tentang suatu tatanan masyarakat yang tenteram dan damai; melalui sebuah gerakan menembus partisi oleh Semar sebagai subjek emansipatoris seperti yang tampak dalam Gerakan Punakawan Atawa Arus Bawah (1994). Namun bila ditelisik lagi, masyarakat hanya mengingat roh Semar sebagai perwujudan nilai-nilai kebaikan dan kebijaksanaan yang mengacu mereka kepada kemuliaan. Oleh sebab itu dalam Semar Mencari Raga (1996), Semar sebagai body without organs kemudian menubuh melalui media tanah dan memeluk manusia dalam kebersamaan. Dari sini, tampak perbedaan antara subjek Semar di masyarakat dan dalam karya sastra, di mana dalam karya sastra, Semar tak hanya dijadikan tokoh utama punakawan yang memegang teguh pakem, tetapi juga menunjukkan upaya menyeimbangkan jagat semesta manusia secara keseluruhan.
Semar is one of the Punakawan who has a major influence on Javanese cultural practices, such as how Semar does not teach humans to only pursue mundane things and instead emphasizes the tolerance between human in order to maintain tepa selira. Therefore, it is necessary to study Semar as a subject both in Javanese culture and in modern literary works, such as the Gerakan Punakawan Atawa Arus Bawah (1994) by Emha Ainun Nadjib and Semar Mencari Raga (1996) by Sindhunata. In Javanese culture, Semar is constructed by paradoxical elements and the concept of manunggaling kawula-gusti that it carries. This can be explained by the perspectives of post-Marxist thinkers such as Slavoj Zizek, Jacques Ranciere, Ernesto Laclau and Chantal Mouffe, Felix Guattari and Gilles Deleuze, and Jean-Luc Nancy on the subject. In this case, Semar as a subject represents a lack in man which can only be fulfilled in an ideological fantasy about a peaceful and serene social order; through a movement that passed the partition by Semar as an emancipatory subject as seen in the Gerakan Punakawan Atawa Arus Bawah (1994). However, if we examine it again, people only commemorate the spirit of Semar as the embodiment of the values of goodness and wisdom which leads to their glory. Therefore, in Semar Mencari Raga (1996), Semar as a body without organs then buries through the soil and embraces humans in togetherness. From this, it can be seen the difference between Semar's subject in society and in literary works, where in literary works, Semar is not only used as the main figure of Punakawan who upholds the norm, but also shows an effort to balance the human universe as a whole.
Kata Kunci : Subjek Semar, subjek post-marxism, manunggaling kawula-gusti, lack, becoming