Dampak Keragaman Pandangan Pemangku Kepentingan terhadap Sumber Daya Ruang di Kawasan Perbatasan Gunung Kelud
REZHA PUTRA E, Doddy Aditya Iskandar, S.T., MCP., Ph.D.
2020 | Skripsi | S1 PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTAGunung Kelud merupakan satu dari sekian kenampakan alam yang memiliki fungsi sebagai batas administratif suatu daerah. Gunung Kelud merupakan batas dari Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar dan Kabupaten Malang. Seperti gunung pada umumnya, Gunung Kelud juga menyimpan berbagai potensi dan masalah yang melekat di dalamnya. Pengelolaan kawasan perbatasan tentu memiliki tantangan yang cukup berbeda karena dampak yang bisa dirasakan lintas daerah. Metode analisis pada penelitian ini dibagi menjadi 3 tahapan yaitu (1) identifikasi sumber daya ruang yang ada pada kawasan perbatasan Gunung Kelud melalui wawancara dan pengumpulan data sekunder (2) identifikasi sudut pandang pengelolaan oleh pemerintah daerah melalui wawancara yang diolah dengan proses koding (3) identifikasi dampak dari keragaman pandangan melalui wawancara dengan pemerintah dan masyarakat setempat yang kemudian diolah melalui skoring dan disajikan dalam bentuk peta untuk melihat bagaimana dampak yang ada secara spasial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gunung Kelud memiliki arti penting bagi pengembangan ekonomi kedua Kabupaten serta ekonomi masyarakat sekitar. Dalam pengelolaannya, masing-masing pemangku kepentingan memiliki perbedaan pandangan terhadap kawasan puncak Gunung Kelud. Perbedaan sudut pandang ini menghadirkan dampak yang beragam pula bagi para pemangku kepentingan. Secara umum bentuk pengelolaan yang dilakukan oleh Kabupaten Kediri dengan memandang Kelud sebagai sumber daya ekonomi memunculkan dampak yang lebih baik bagi masyarakat dalam segi ekonomi dibanding pengelolaan oleh Kabupaten Blitar yang memandang Kelud sebagai sumber daya cepat rusak
Mount Kelud is one of the several natural features that has a function as an administrative boundary of two or more regions. Mount Kelud is the boundary of Kediri Regency, Blitar Regency and Malang Regency. Like a mountain in general, Mount Kelud also has various potentials and problems inherent in it. Management of border areas certainly has quite different challenges because the impact can be felt across regions. The analytichal method in this research is divided into 3 stages, (1) identification of spatial resources in the border area of Mount Kelud through interviews and secondary data collection (2) identification of border area management perspectives by local governments through interviews processed with coding (3) identification of the impact of the diversity of perspectives through interviews with the governments and local communities, then processed through scoring and presented in the form of a map to see spatially how the impacts are. The results show that Mount Kelud has an important meaning for the economic development of the two districts and the economy of the community around. In its management, each stakeholder has different perspectives on the peak area of Mount Kelud. These different points of view also have various impacts for stakeholders. In general, the form of management carried out by Kediri Regency by viewing Kelud as an economic resource has a better impact on the community in an economic aspect than management by Blitar Regency which views Kelud as an easily damaged resource.
Kata Kunci : Borders Areas, Regional Management, Impact from Diversity of Perspectives