Laporkan Masalah

Pertambahan Bobot Badan Pedet Friesian Holstein dengan Metode Pemberian Susu yang Berbeda pada Peternak Rakyat di Cangkringan Sleman

FAROS Z SYAH ALBAR, Ir. Yustina Yuni Suranindyah, M.S., Ph.D., IPM. ; Prof. Dr. Ir. Endang Baliarti, S.U.

2021 | Skripsi | S1 ILMU DAN INDUSTRI PETERNAKAN

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pertambahan bobot badan pedet sapi perah dengan metode pemberian susu yang berbeda pada peternak rakyat di Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. Kelompok pertama (P1), pedet setelah lahir dipelihara secara terpisah dari induk, diberi susu dengan menggunakan ember. Kelompok kedua (P2) dipelihara dengan induk, sehingga pedet dapat berinteraksi dan menyusu langsung pada induk. Pedet yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 20 ekor jantan prasapih yang dibagi menjadi dua perbedaan metode pemberian susu. Pengukuran terhadap pertambahan bobot badan dan durasi menyusu dilakukan 3 kali, dan konsumsi pakan diukur setiap minggu selama 30 hari penelitian. Data pertambahan bobot badan dianalisis dengan Ancova, sedangkan data konsumsi nutrien pakan dan durasi pedet menyusu dianilisis menggunakan Independent Sample T-test. Hasil konsumsi nutrien pakan pada kedua kelompok pedet yang terdiri atas konsumsi nutrien pakan cair (susu) dan pakan kasar (hijauan dan konsentrat) menunjukkan hasil yang signifikan (P kurang dari 0,05), kecuali pada konsumsi protein kasar pakan cair. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang nyata (P kurang dari 0,05) pada pertambahan bobot badan (PBB) antara kedua metode pemberian susu. Kelompok pedet P2 memiliki pertambahan bobot badan yang lebih tinggi daripada kelompok pedet P1 yakni 12,3 lebih kurang 3,35 Kg (P1) vs. 18,625 lebih kurang 3,37 Kg (P2). Hasil pengamatan durasi pedet menyusu juga menunjukkan perbedaan nyata (P kurang dari 0,05) yakni 1,957 lebih kurang 0,89 menit (P1) dan 9,426 lebih kurang 2,2 menit (P2). Kesimpulan dari penelitian ini adalah perbedaan metode pemberian susu pada pedet menghasilkan perbedaan yang nyata yang mana kelompok pedet menyusu langsung memiliki pertambahan bobot padan yang lebih tinggi.

This study aims to compare Friesian Holstein calves weight gain fed with different methods of milk feeding in farmer group in Cangkringan, Sleman. The first group (P1) calves were separated from their dam and were fed milk using bucket. The second group (P2) were allowed to suckle and made interaction with the dam. Sample consisted of 20 male calves. The samples were divided into two different methods of milk feeding. Weight gain and the duration of milk consumption were measured 3 times, and were carried out every week during the 30 days of the study. Data on body weight gain were analyzed using Ancova, while data on dietary nutrient consumption and calves milk feeding duration were analyzed using Independent Sample T-test. The results of the dietary nutrients consumption in both groups of calves consisting of the consumption of liquid feed nutrients (milk) and crude feed (forages and concentrates) showed significant results (P less than 0.05), except for the consumption of liquid feed crude protein. The results showed significant difference (P less than 0.05) in weight gain between two methods. The group of P2 had higher weight gain than P1, 12.3 plus minus 3.35 Kg (P1) vs. 18.625 plus minus 3.37 Kg (P2). The results of the observation on the duration of the calves to suckle also showed significant differences (P less than 0.05), 1.957 plus minus 0.89 minutes (P1) and 9.42 plus minus 2.2 minutes (P2). The conclusion of this study is that the difference methods of milk feeding for calves resulting significant difference which was the group of direct suckling had higher weight gain.

Kata Kunci : pedet/calves , menyusu langsung/ direct suckling , menyusu tidak langsung/ indirect suckling, pertambahan bobot badan/ weight gain

  1. S1-2021-394461-abstract.pdf  
  2. S1-2021-394461-bibliography.pdf  
  3. S1-2021-394461-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2021-394461-title.pdf