Laporkan Masalah

Kejawen dalam transformasi :: Gaya hidup penganut muda dan reinterpretasi ajaran di Magetan-Jawa Timur

HARYANTO, Bangun Sentosa Dwi, Dr. J. Nasikun

2002 | Tesis | S2 Sosiologi

Modernisasi telah memunculkan sekian banyak perubahan di sejumlah negara dunia yang secara khusus diidentifikasikan dengan adanya sistem teknologi tinggi universal. Modernisasi juga telah memebawa beberapa perubahan kultural sebagai ‘virus global’ seperti gaya hidup nontradisional, pandangan umum dunia populer , dan masih banyak lagi seperti juga terbutnya paradigma posmodemisme yang sesungguhnya menyisakan kejutan budaya (cultural shocks) yang secara revolusioner melanda sejumlah besar negara dunia ketiga, seperti juga Indonesia. Perubahan-perubahan tersebut juga tengah menerpa masyarakat Jawa, khususnya masyarakat Kejawen yang memiliki normalhukum etniktradisionalnya agar manusia mencapai kehidupan ideal dan sempurna. Dengan demikian, modemisasi merupakan fenornena besar yang jelas-jelas mengancam masyarakat Kejawen. Kejawen dalam modemitas ini dituntut untuk mampu bertahan mati-matian rnenjaga budaya luhumya sebagai ‘agama Jawa’, atau melakukan sejumlah ‘tindakan yang perlu’. Dan realitas kekinian temyata mengetengahkan kenyataan bahwa Kejawen dengan penganut mudanya masih cukup kokoh eksis. Mereka hidup dalam Kejawen yang ‘berbeda’, yaitu bergaya hidup modem dan pop, namun masih menjaga dan meyakini ideologi Kejawen sebagai bagian pribadi dalam hidup mereka. Di sebuah kota pegunungan bernama Magetan di Jawa Timur di mana penelitian ini dilakukan, penganut muda telah membuat sekian perubahan dan reinterpretasi penghayatan dalam situasi modem ini, sehingga membentuk Kejawen dalam format baru sebagai spiritualitas di masa kini. Kejawen baru diyakini nyaman dan sesuai bagi mereka tanpa harus kehilangan efek esensial ajaran Kejawen yang khas seperti mistisisme dan kekuatan supranatural. Penganut muda Kejawen telah menciptakan satu genarasi baru yang unik (eksotik) di dunia yang pekat dengan transformasi modemitas dan gelom bang posmodemisrne ini. Mereka mem bentuk generasi Ethno-Posmo yang tetap sejalan dengan tujuan besar Kejawen : Menjadi manusia dengan ‘kemanusiaan’ sempuma, memanusiakan manusia.

Modernity have appeared a lot of changes in all conutry of the world that identified especially by the existing of high technology system. Modernity have also brought some cultural changes as ‘global viruses’, such as rasional and non-traditional live style, populair world view, and so many more, like postmodernity paradigm that actually have remained cultural shock , especially in the third country like Indonesia. The changes have been already happened in javanese society, especially Kejawen society that have some ethnic-traditional norms or rules for its people in order to reach ideal and perfect life. So, modernity is a big deal phenomena have threatened Kejawen society. Kejawen as ‘Javanese Religion’ have had to try hard to survive their original culture in this modernity. And actual reality shows tha Kejawen with its young people have been still strongly exist. They live in ‘different Kejawen religion’; modern and populair live style but still keep Kejawen ideology alive within their private life. In a mountain town in East Java, where this study were done, they have made so many changes or reinterpretting to their Kejawen dailly activities, besides the modernity that they get. “New Kejawen’ tend to confortable and suitable spiritality for them without decrease special essencial Kejawen rules effects, like mistics and supernatural powers. Kejawen young people have created a new exotics generation as an Ethno-postmo generation. They all live in traditional ideology (Kejawen) but have special modern live style. Ethno-postmo generation, as they said, is one of big purposes of Kejawen ideology: The human with perfect humanity .

Kata Kunci : Sosiologi,Modernisasi,Kejawen,Penganut Muda, Modernity, Kejawen, Young People of Kejawen, Live style, reinterpretation


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.