Toer's Authorship Style and Its Translation: A Translational Stylistic Analysis of This Earth of Mankind
ARDIK ARDIANTO, Dr. Adi Sutrisno, M.A.
2020 | Tesis | MAGISTER LINGUISTIK"Peralihan budaya dan ideologis" belakangan ini telah menggeser perhatian utama studi terjemahan kepada politik penerjemahan, khususnya pada politik penerjemahan Anglo-Amerika (Spivak, 2012; Venuti, 2008), di mana "pengurangan etnosentris atas teks-teks asing berdasarkan nilai-nilai budaya sasaran" menjadi doktrin yang sangat ditekankan--jika tidak menjadi sesuatu yang dominan. Gaya khas seorang penulis asing, entah itu melibatkan bahasa maupun budayanya, cenderung diubah bahkan dihilangkan (Berman, 2012), yang pada akhirnya mengarah pada absennya status penerjemah di mata para pembaca. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah sejauh mana "pengurangan etnosentris" ini muncul dalam novel terjemahan This Earth of Mankind and bagaimana aktivisme penerjemah berkontribusi pada tingkat visibilitasnya dalam budaya sasaran. Beberapa teori digunakan dalam penelitian ini, yakni: 1) stilistika terjemahan dari Malmkjaer, yang berfokus pada dua kategori stilistika: grafologis dan leksikal; 2) metode terjemahan dari Vinay dan Darbelnet; 3) gerak hermeneutik dari Steiner; dan terakhir 4) kerangka sosiologis dari Bourdieu. Sumber data primer diambil dari dua novel, yakni Bumi Manusia dan This Earth of Mankind, sedangkan sumber data sekunder diambil dari beberapa periteks (misal, hasil wawancara dan beberapa ulasan baik dari ulasan akademik maupun ulasan koran). Hasil temuan menunjukkan bahwa "pengurangan etnosentris" umum terjadi pada novel terjemahan This Earth of Mankind. Lebih lanjut, hasil temuan juga menguatkan postulat Bermain terkait "penghilangan lapisan bahasa"--penerjemah cenderung menghilangkan jejak-jejak penggunaan bahasa lain yang digunakan dalam novel. Terakhir, aktivisme penerjemah berkontribusi, baik langsung maupun tak langsung, pada tingkat visibilitasnya dalam budaya sasaran. Meski demikian, kontribusi tersebut bervariasi dari positif hingga negatif.
The "cultural and ideological turn" has recently stirred the focus of translation studies on the politics of translation, especially that of Anglo-American (Spivak, 2012; Venuti, 2008) wherein "an ethnocentric reduction of the foreign text to receiving cultural values" has long prevailed as the preferable--if not dominant--doctrine. The idiosyncratic style of a foreign author, whether it involves his/her language and culture, is often inclined to be deformed or annexed (Berman, 2012) which ultimately leads to translator's invisibility in the target culture. This study primarily aimed at scrutinising to what extent such an ethnocentric reduction occurred in the translation This Earth of Mankind and how the translator's activism contributed to his visibility in the receiving culture. Numerous theories were used in this study: 1) Malmkjaer's translational stylistics, focusing on two stylistic categories, i.e., graphological and lexical; 2) Vinay and Darbelnet's translation method; 3) Steiner's hermeneutic motion; and last 4) Bourdieu's sociological framework. The primary data were taken from two novels, i.e., Bumi Manusia and This Earth of Mankind, whereas the secondary data from several peritexts (e.g., interviews and academic and newspaper reviews). The findings showed that the ethnocentric reduction dominantly occurred in the TT. Further, it also confirmed Berman's postulation on "the effacement of the superimposition of languages"--translator's inclination to erase traces of different language forms co-existing in the ST. Lastly, the translator's activism contributed, either directly or indirectly, to his visibility in the receiving culture. Although, the contribution varied from a positive one to a negative counterpart.
Kata Kunci : stilistika, stilistika terjemahan, visibilitas penerjemah