Karakteristik Lempung dan Pengaruhnya terhadap Kerusakan Bangunan di Daerah Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta
ATMA NAWAKSARA, Ir. A. Dewi Titisari, M.T., Ph.D., IPU.
2020 | Skripsi | S1 TEKNIK GEOLOGIManusia memerlukan bangunan baik sebagai tempat tinggal maupun tempat beraktivitas. Namun, terdapat fenomena swelling akibat aktivitas tanah ekspansif yang dapat menjadi masalah karena dapat merusak bangunan. Salah satu lokasi dimana fenomena tersebut dapat ditemukan adalah Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi karakteristik lempung dan pengaruhnya terhadap kerusakan bangunan di daerah tersebut dengan melakukan pengamatan lapangan dan analisis laboratorium. Pada pengamatan lapangan dilakukan pengamatan kondisi geologi dan pengumpulan sampel tanah dan batuan. Metode analisis laboratorium yang dilakukan meliputi analisis petrografi untuk penamaan batuan, analisis XRD (X-Ray Diffraction) dan SEM (Scanning Electron Microscopy) untuk identifikasi mineralogi lempung, dan Atterberg Limit untuk mengetahui potensi swelling. Data pengamatan lapangan yang dikumpulkan dari 31 titik pengamatan dan penamaan batuan hasil analisis petrografi kemudian dikorelasikan untuk menghasilkan peta geologi. Informasi tersebut kemudian diintegrasikan dengan hasil identifikasi mineral lempung dan potensi swelling untuk menginterpretasi karakteristik lempung daerah penelitian. Karakteristik lempung tersebut kemudian diintegrasikan dengan identifikasi kerusakan bangunan untuk menginterpretasi pengaruh aktivitas tanah ekspansif terhadap kerusakan bangunan di daerah penelitian. Berdasarkan hasil penelitian, litologi daerah penelitian dapat dikelompokkan menjadi satuan andesit dan breksi andesit dengan mineralogi lempung yang disusun oleh smektit, kaolinit, ilit, dan klorit. Dominasi mineral smektit, yang merupakan agen utama yang mengontrol fenomena swelling, menghasilkan potensi swelling yang tinggi pada tanah satuan andesit dan potensi swelling yang rendah pada tanah satuan breksi andesit. Aktivitas tanah ekspansif daerah penelitian kemudian menyebabkan kerusakan bangunan berupa retakan vertikal yang semakin melebar semakin keatas. Hal tersebut mengindikasikan mekanisme center heave yang umum terjadi pada rentang waktu penelitian, yaitu musim kemarau.
Humans need buildings as residence or place to do activities. But, there is swelling phenomenon because of expansive soil activity that can be a problem because it could damage buildings. One of the locations where the phenomenon can be found is Purwosari Village, Girimulyo District, Kulon Progo Regency, Special Region of Yogyakarta. The research is done to identify clay charactersitics and its effects on buildings damages in that regions by doing field observation and laboratorium analysis. On field observation, geological conditions and soil and rock samples collection is done. Laboratorium anaylisis methods that is done includes petrography for rock naming, XRD (X-Ray Diffraction) and SEM (Scanning Electron Microscopy) for clay mineralogy identification, and Atterberg Limit to know the swelling potentials. Field observation data that was collected from 31 observation points and rock naming from petrography then is correlated to produce geological map. Those informations then is integrated with the clay minerals identification and swelling potentials to interpret the clay characteristics of the research area. Clay characteristics then is integrated with building damage identification to interpret soil activity effects to building damages of the research area. Based on the research results, the litology of the research area is grouped into andesite unit and andesite breccia unit with clay mineralogy that is consisted of smectite, kaolinite, illite, and chlorite. Smectite mineral domination, which is the main agent that controls the swelling phenomenon, produced high swelling potential on andesite unit�¢ï¿½ï¿½s soil and low swelling potential on andesite breccia unit�¢ï¿½ï¿½s soil. Expansive soils�¢ï¿½ï¿½s activity then caused building damages in the form of vertical cracks that is widening to the top. That indicates the center heave mechanism which is common to happen in the time range of the research which is the dry season.
Kata Kunci : geologi, lempung, swelling, tanah, Kulon Progo