HUBUNGAN LETAK AKSIAL DAN PENYUSUNAN SKEDUL PENGERINGAN KAYU BALSA (Ochroma pyramidale (Cav. Ex Lam.) Urb) PADA UMUR 3 DAN 4 TAHUN
SARAH MAGRIBAN A, Tomy Listyanto, S.Hut., M.Env.Sc., Ph.D.
2020 | Skripsi | S1 KEHUTANANBalsa (Ochroma pyramidale (Cav. Ex Lam.) Urb) merupakan kayu potensial yang belum banyak dikenal. Kayu balsa memiliki berat jenis berkisar 0,17 yang berpotensi untuk memenuhi pasokan bahan baku kayu konstruksi ringan. Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas kayu balsa adalah dengan pengeringan. Proses penting dalam pengeringan adalah penyusunan skedul pegeringan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan umur, letak aksial, dan berat jenis terhadap penyusunan skedul pengeringan kayu balsa. Penelitian ini menggunakan sampel kayu balsa yang terdiri dari dua faktor yaitu umur pohon (3 dan 4 tahun) dan letak aksial batang (pangkal, tengah, dan ujung) sebanyak 3 ulangan pada masing-masing faktor perlakuan. Skedul pengeringan disusun dengan menggunakan metode Terazawa, yaitu pengeringan dengan menggunakan suhu 100oC selama 72 jam. Parameter yang diamati antara lain berat jenis, perubahan dimensi, dan cacat perubahan bentuk (warping). Hasil penelitian dianalisis menggunakan Rancangan Acak Lengkap (Completely Randomized Design) yang disusun secara faktorial. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan 4 variasi skedul pengeringan kayu balsa. Hasil analisis dengan metode chi square menunjukkan tidak adanya signifikansi faktor umur, letak aksial dan berat jenis terhadap penyusunan skedul pengeringan sehingga kayu balsa dapat dilakukan dalam satu oven yang sama dengan menggunakan skedul terpilih dengan suhu awal 45oC, depresiasi bola basah 1,5oC, dan suhu akhir 65oC.
Balsa (Ochroma pyramidale (Cav. Ex Lam.) Urb) is a less known potential wood. Balsa wood has 0.17 wood density which conceivably meets light construction wood raw materials demand. One of the efforts to improve the quality of balsa wood is through drying. An important process in drying is the schedule itself. This research aims to uncover the relationship between age, axial location, and wood density toward balsa wood drying schedule. Two variables of balsa wood were used in this research, they were the age of the tree (3 and 4 years) and the axial location of the trunk (base, middle, and bole-limit) and replicated three times on each variable. The drying schedule is arranged using Terazawa method, drying at 100oC for 72 hours. Observed parameters were wood density, dimension changes, and warping. Two-factorial Completely Randomized Design was were used in this research to be then analyzed. Based on the results of the study four variations of drying schedule are obtained. The results of the analysis by chi-square method showed no significance of age factor, axial location, and wood density against the schedule, therefore balsa wood drying process can be done in the same oven using a selected schedule with an initial temperature of 45oC, wet balls depreciation 1.5oC, and a final temperature within 65oC.
Kata Kunci : batang balsa, letak aksial, umur pohon, skedul pengeringan, metode Terazawa