Laporkan Masalah

Kemitraan antara PT Cau Chcocolate dengan Petani Kakao di Kabupaten Tabanan

AYUNING TIYAS, Dr. Ir. Lestari Rahayu Waluyati, M.P

2020 | Tesis | Magister Manajemen Agribisnis

Kakao merupakan salah satu komoditas unggulan perkebunan Indonesia yang memegang peranan cukup penting pada perekonomian Indonesia yakni sebagai pengahasil devisa negara, sumber pendapatan petani, pencipta lapangan kerja, mendorong pengembangan agribisnis dan agroindustri wilayah. Kabupaten Tabanan sebagai salah satu kabupaten di Bali dengan luas lahan dan produksi kakao terbanyak, namun dalam menjalankan usahatani kakao petani mengalami beberapa kendala klasik terkait permodalan,kepastian pasar dan harga. Guna meminimalisir permasalahan tersebut perlu adanya jalinan kerjasama antara petani kakao dengan pelaku usaha melalui kemitraan. Pelaksanaan kemitraan salah satunya telah dilakukan oleh PT CAU Chocolate dengan petani kakao di Kabupaten Tabanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola kemitraan, melakukan evaluasi kemitraan, serta merumuskan strategi pengembangan kemitraan yang telah terjalin. Pengambilan sampel berdasarkan teori Arikunto (2013), sampel yang diambil antara 10-15% atau 20-25% bila populasi lebih dari 100. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 30 petani atau 11% dari 275 petani kakao mitra. Pola kemitraan dianalisis secara deskriptif dan penilaian terhadap pelaksanaan kemitraan dianalisis dengan mengukur derajad kemitraan. Strategi pengembangan kemitraan dianalisis mengunakan metode IPA (Importance Performance Analysis) dengan atribut penyusunan strategi dari model CIPP (Context, Input, Process dan Product). Hasil penelitian menunjukkan pola kemitraan menggambarkan pola kemitraan KOA (Kerjasama Operasional Agribisnis) dan penilaian derajat kemitraan sebesar 747,42 yang termasuk kategori tingkat kemitraan Madya (501-750), petani mitra telah mampu menjalankan usahatani kakao dalam pengadaan sarana produki dan permodalan. Berdasarkan perhitungan pendapatan petani mitra dan penilaian R/C rasio, usahatani kakao petani mitra menguntungkan dengan pendapatan terhadap biaya total sebesar Rp 27.319.334 dan nilai R/C rasio sebesar 8. Berdasarkan metode IPA, strategi pengembangan kemitraan yang dapat dilakukan yakni meningkatkan kinerja atribut pada kuadran I dan III menjadi kudran II. Atribut-atribut tersebut adalah perencanaan pelatihan dan bimbingan, kepercayaan dari pihak yang bermitra, kesiapan dalam menjalankan program kemitraan, kinerja petani dalam memenuhi kebutuhan pasokan perusahaan, dan frekuensi perusahaan dalam memonitor, mengevaluasi, dan memberikan pembinaan. Perencanaan pelatihan dan bimbingan perlu dilakukan secara bersama-sama antar pihak yang bermitra agar pelatihan dan bimbingan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan petani mitra. Adanya kontrak kerjasama secara tertulis dan peningkatkan kinerja masing-masing pihak yang bermitra dapat meningkatkan kepercayaan dalam program kemitraan. Selain itu, komunikasi secara intensif dan partisipatif juga dapat meningkatkan rasa saling percaya antara pihak yang bermitra.

Cocoa is one of Indonesia's leading plantation which plays an important role in Indonesia's economy, such as a source of foreign exchange, a source of income for farmers, increasing employment, encouraging the development of agribusiness and regional agro-industry. Tabanan regency one of districts in Bali which dominates the total area and production of cocoa, but cocoa farmer have problems in market certainly and prices. For minimize that problems, it is necessary to have cooperation between cocoa farmers and companies throught parnership program. One of the partnerships has been carried out by PT CAU Chocolate with cocoa farmers in Tabanan Regency. This study aims to determine the pattern of partnerships, evaluate partnerships, and formulate partnerships development strategies that have been established. Sampling is based on Arikunto's theory (2013), the sample is between 10-15% or 20-25% if the population is more than 100. The number of samples taken is 30 farmers or 11% of 275 partner cocoa farmers. Partnership patterns are analyzed descriptively and assess the implementation of partnerships by measuring the degree of partnership. Partnership development strategies are analyzed using the IPA (Importance Performance Analysis) method with the attributes of strategy formulation from the CIPP model (Context, Input, Process and Product). The results showed that the partnership pattern illustrates the KOA (Agribusiness Operational Cooperation) partnership pattern and the assessment of the degree of partnership is 747.42 which is included in the category of intermediate partnership level (501-750), partner farmers have been able to carry out cocoa farming in the procurement of means of production and capital. Based on the calculation of partner farmer income and R / C ratio assessment, partner farmer's cocoa farming is profitable with a total income to cost of Rp 27,319,334 and an R/C ratio of 8. Based on IPA method, partnership development strategies that can be done are improve attribute performance in quadran I and III it becomes quadran II. These attributes are training planning and guidance, trust from partners, readiness to carry out partnership programs, the performance of farmers to fulfill the supply needs of the company, and the company's frequency in monitoring, evaluating, and providing guidance. Training planning and guidance need to be carried out jointly between partner parties so that the training and guidance provided is in accordance with the needs of partner farmers. The existence of a written cooperation contract and improving the performance of each partnering party can increase trust in the partnership program. In addition, intensive and participatory communication can also increase mutual trust between the partners.

Kata Kunci : kemitraan, kakao, evaluasi kemitran, strategi pengembangan, importance performance analysis (IPA)

  1. S2-2020-408124-abstract.pdf  
  2. S2-2020-408124-bibliography.pdf  
  3. S2-2020-408124-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2020-408124-title.pdf