Pemilihan Teknologi Kereta Gantung di Gunungkidul sebagai Transportasi Ramah Lingkungan dengan Metode Analytical Hierarchy Process
RAHMA NUR FITRIA, Dr. Ir. Arif Kusumawanto, M.T., IAI., IPU; Ir. Alva Edy Tontowi, M.Sc., Ph.D.
2020 | Tesis | MAGISTER TEKNIK SISTEMPemerintah Kabupaten Gunungkidul mempunyai wacana untuk membangun moda transportasi yang ramah lingkungan dan berbasis green mobility berupa kereta gantung di obyek wisata yang saat ini sedang ramai, yaitu HeHa Sky View yang menghubungkan dengan The Manglung Resto yang terletak di Kecamatan Patuk sebagai upaya pengembangan potensi pariwisata. Banyaknya perusahaan produsen kereta gantung dengan berbagai kelemahan dan keunggulan masing-masing teknologi membuat perlu dilakukannya analisis teknologi kereta gantung seperti apa dan bagaimanakah yang paling tepat untuk diterapkan di Kabupaten Gunungkidul dengan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Kriteria-kriteria yang digunakan sebagai tolak ukur harus mencakup aspek teknis dan teknologi, aspek ekonomi, aspek sosial budaya, dan aspek lingkungan. Pada aspek teknis dan teknologi, kriteria yang digunakan adalah kualitas, spesifikasi mesin, maintenance, dan tingkat keamanan (safety). Pada aspek sosial budaya, kriteria yang digunakan adalah pengurangan kemiskinan, penyerapan lapangan kerja, dan pelestarian nilai-nilai budaya. Pada aspek ekonomi, kriteria yang digunakan adalah kontribusi terhadap PDRB, harga, pemanfaatan SDA sebagai daya tarik wisata, dan pemanfaatan sumber daya lokal. Pada aspek lingkungan, kriteria yang dipilih adalah pengurangan bahan baku fosil, pemeliharaan kondisi tanah dan batuan, dan industri berwawasan lingkungan. Hasil perhitungan dengan metode AHP menunjukkan bahwa teknologi yang terpilih adalah teknologi yang berasal dari China dengan merk BMHRI. Hasil analisis kelayakan investasi menunjukkan bahwa bisnis jasa kereta gantung ini layak dijalankan karena mempunyai nilai NPV yang positif yaitu Rp 4.781.793.893.24, IRR sebesar 14%, dan PB selama 5 tahun.
Gunungkidul Regency government has a discourse to build an environmentally friendly and green mobility-based mode of transportation in the form of a cable car in a tourist attraction that is currently crowded, namely HeHa Sky View which connects with The Manglung Resto located in Patuk Sub-district as an effort to develop tourism potential. The number of cable car manufacturers with various weaknesses and advantages of each technology makes it necessary to analyze what kind of cable car technology and how is the most appropriate to be applied in Gunungkidul Regency using Analytical Hierarchy Process (AHP) method. The criteria used as a benchmark must include technical and technological aspects, economic aspects, socio-cultural aspects, and environmental aspects. In technical and technological aspects, the criteria used are quality, machine specification, maintenance, and safety level. In the socio-cultural aspect, the criteria used are poverty reduction, job absorption, and preservation of cultural values. In the economic aspect, the criteria used are contribution to GRDP, price, utilization of natural resources as a tourist attraction, and utilization of local resources. In the environmental aspect, the criteria chosen are the reduction of fossil raw materials, the maintenance of soil and rock conditions, and environmentally minded industries. The results of calculations by AHP method shows that the selected technology is technology originating from China with the brand BMHRI. The investment feasibility analysis shows that the cable car service business is worth running because it has a positive NPV value of Rp 4,781,793,893.24, IRR of 14%, and PB for 5 years.
Kata Kunci : Analytical Hierarchy Process, kereta gantung, green mobility, pengambilan keputusan, analisis kelayakan investasi