Laporkan Masalah

Kinerja Program Jaga Warga di Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Sleman

NIKEN ARTANTI P, Dr. Suripto, S.IP, MPA

2020 | Tesis | MAGISTER ILMU ADMINISTRASI PUBLIK

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana kinerja program Jaga Warga di Sleman di mana program ini dikoordinir oleh Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Sleman. Jaga Warga merupakan bentuk Community Policing di Yogyakarta yang berbasis pada partisipasi masyarakat. Dalam mengukur kinerja Jaga Warga, penulis menggunakan 3 (tiga) indikator dari teori Community Policing oleh Trojanowicz. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisa data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Dalam penelitian ini disimpulkan bahwa kinerja Jaga Warga di Kabupaten Sleman masih belum maksimal. Hal ini dikarenakan capaian pada 3 indikator yang ada masih jauh dari ideal. Walaupun pada indikator responsivitas keamanan sudah cukup bagus, namun responsivitas di bidang kesejahteraan masih sangat rendah. Untuk indikator terwujudnya keamanan dan kesejahteraan Jaga Warga belum maksimal karena dari 1.212 pedukuhan baru terbentuk 16%. Selain itu banyaknya Jaga Warga yang berstatus kurang aktif juga menjadi pertimbangan tersendiri dalam penghitungan kinerja ini. Sedangkan untuk indikator responsibilitas belum maksimal karena komunikasi masih sangat terbatas dan pelaporan belum berjalan. Dari hasil temuan di lapangan, kurangnnya kinerja program Jaga Warga ini disebabkan oleh 1) Buruknya komunikasi antara Jaga Warga dengan lembaga yang terlibat. 2) Buruknya konsep kemitraan yang terjalin, terutama antara Satuan Polisi Pamong Praja dengan Jaga Warga 3) Banyaknya Jaga Warga di Sleman yang masih terjebak dalam tupoksi keamanan belaka dan mengabaikan tupoksi kesejahteraan. 4) Kurang maksimalnya koordinasi dan peran lembaga pemerintah. 5) Belum maksimalnya swakarsa dan swadaya masyarakat karena masing-masing pedukuhan mempunyai kemampuan yang berbeda-beda. 6) Masih minimnya sumber dana yang dialokasikan baik dari pemerintah daerah, kecamatan maupun desa.

This study is intended to determine how the performance of the Jaga Warga program in Sleman, where this program is coordinated by the Civil Service Police Unit of Sleman Regency. Jaga Warga is a form of Community Policing in Yogyakarta that is based on community participation. In measuring the performance of Jaga Warga, the author uses 3 (three) indicators from the Community Policing theory by Trojanowicz. In this study, the authors used a qualitative approach with a descriptive type. Data collection was done by using observation, interview and documentation techniques. The data analysis technique used is data reduction, data presentation, and drawing conclusions. In this study it was concluded that the performance of Jaga Warga in Sleman Regency is still not optimal. This is because the results of the 3 indicators are still far from ideal. Even though the security responsiveness indicator is quite good, the responsiveness in the welfare sector is still very low. The indicators for the realization of the security and welfare of Jaga Warga have not been maximized because of the 1,212 dukuhs only 16% were formed. In addition, the number of Jaga Warga who is less active is also a separate consideration in calculating this performance. Meanwhile, the responsibility indicator is not optimal because communication is still very limited and reporting is not yet running. From the findings in the field, the lack of performance of the Jaga Warga program was caused by 1) Poor communication between Jaga Warga and the institutions involved. 2) The poor concept of the partnership, especially between the Civil Service Police Unit and Jaga Warga. 3) The number of people taking care of the residents in Sleman are still trapped in mere security duties and neglect the main duties and functions of welfare. 4) Inadequate coordination and role of government agencies. 5) Self-reliance and community self-help has not been maximized because each hamlet has different abilities. 6) There are still few sources of funds allocated either from local, sub-district or village governments.

Kata Kunci : Community Policing, Kinerja, Jaga Warga, Satpol PP

  1. S2-2020-449098-abstract.pdf  
  2. S2-2020-449098-bibliography.pdf  
  3. S2-2020-449098-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2020-449098-title.pdf