Serat Pustakaraja Puwara: Serat Witaradya Karya R Ng. Ranggawarsita 1863 M: Kajian Struktur Naratif-Lokasanggraha-Genealogi
DHANANJAYA SAJJANA A, Dr. Sri Ratna Saktimulya, M.Hum.
2020 | Tesis | MAGISTER SASTRASerat Witaradya (1863 M) adalah karya sastra sejarah gubahan pujangga R. Ng. Ranggawarsita sesudah Serat Pustakaraja dan Serat Ajipamasa (1862 M). Dalam konstruksi teks-teks Pustakaraja, Serat Witaradya termasuk kelompok Serat Maharaka, bagian Serat Pustakaraja Puwara. Teks Serat Witaradya sangat terkenal pada masanya, sehingga teks tersebut disalin dan dikoleksi di beberapa Perpustakaan. Teks Witaradya yang dipakai dalam penelitian ini adalah Serat Witaradya Jilid I (27 pupuh) dan Serat Witaradya Jilid II (19 pupuh), yang sudah dialihaksarakan dan dibuat ringkas ceritanya oleh Sudibjo Zaenudin Hadisutjipto (S.Z.) serta diterbitkan oleh Proyek Penerbitan Buku Bacaan Dan Sastra Indonesia Dan Daerah, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta (1979). Serat Witaradya menceritakan mengenai Prabu Kusumawicitra (Prabu Ajipamasa) menjadi raja di Pengging Witaradya sampai menyerahkan tahta kerajaannya kepada putranya, yakni: Prabu Citrasoma. Dalam penelitian ini dikemukakan tentang: Pengging dalam lintasan sejarah Jawa; versi-versi Serat Witaradya; struktur naratif Serat Witaradya dalam bentuk kernel dan satelitnya, lokasanggraha dalam Serat Witaradya, genealogi, mitos Pengging maupun kedudukan Kusumawicitra bagi dinasti raja-raja Kraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran, Surakarta. Penelitian ini menggunakan teori struktur naratif Seymour Chatman; teori lokasanggraha (teologi alam) yang dikemukakan oleh Cri Krsna dalam Bhagavadgita; serta teori genealogi Keeler. Hasil penelitian atas Serat Witaradya ini menunjukkan bahwa: 1. Terdapat 32 kernel yang terdiri dari 685 satelit; 2. Relasi dan hormonisasi antara dunia manusia dengan makhluk halus melalui tarian para makhkuk halus pada pesta syukuran di istana Pengging; 3. Harmonisasi ekologi di Herbanggi yang semula terganggu, akhirnya kembali terwujud setelah diadakan perjanjian sakral antara Bathara Gana dengan Raden Citrasena dan Prabu Jayasusena; 4. Genealogi yang mencakup: Prabu Kusumawicitra, Ajar Sidhiwacana, Raja Parwata, dan Gandarwa Bahidhi; 5. Pemitosan R. Ng. Ranggawarsita atas daerah Pengging sebagai pusat kekuasaan atas Tanah Jawa, sesudah Kediri; 6. Kusumawicitra dimasukkan ke dalam tokoh historis sebagai nenek moyang raja-raja dinasti Kraton Surakarta dan Pura Mangkunegara, sebaliknya melalui Kusumawicitra, raja-raja Kraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran dimasukkan ke dalam kerajawian Jawa yang secara konseptual terdapat dalam viracarita Mahabharata.
Serat Witaradya (1863 AD) is a historical literary work written by the poet R. Ng. Ranggawarsita after Serat Pustakaraja and Serat Ajipamasa (1862 AD). In the construction of Pustakaraja texts, Serat Witaradya belongs to the Serat Maharaka group, part of Serat Pustakaraja Puwara. The text of Serat Witaradya was so famous in its era that it was copied and collected by several Libraries. The Witaradya texts used in this study are Serat Witaradya Volume I (27 pupuh) and Serat Witaradya Volume II (19 pupuh), which have been translated and the story was being concise by Sudibjo Zaenudin Hadisutjipto (SZ) and published by the Indonesian and Regional Reading and Literature Book Publishing Project, Ministry of Education and Culture, Jakarta (1979). Serat Witaradya tells about King Kusumawicitra (Prabu Ajipamasa) who became a king in Pengging Witaradya until he handed over his royal throne to his son, namely: King Citrasoma. This study explains: Pengging in the trajectory of Javanese history; Serat Witaradya versions; Serat Witaradya's narrative structure in the form of kernels and satellites, locations in Serat Witaradya, genealogy, Pengging myths and the position of Kusumawicitra for the dynasties of the kraton of Kraton Surakarta and Pura Mangkunegaran, Surakarta. This research uses Seymour Chatman�s narrative structure theory; the theory of lokasanggraha (natural theology) presented by Cri Krsna in Bhagavadgita; and Keeler�s genealogy theory. The result of the research on Serat Witaradya shows that: 1. There are 32 kernels consisting of 685 satellites; 2. Relation and harmonization between the human world and spirits through the dances of spirits at syukuran party at the Pengging palace; 3. Ecological harmony in Herbanggi, which was initially disturbed, finally returned after a sacred agreement was made between Bathara Gana and Raden Citrasena and Prabu Jayasusena; 4. Genealogy that includes: King Kusumawicitra, Ajar Sidhiwacana, Raja Parwata, and Gandarwa Bahidhi; 5. Mitosan R. Ng. Ranggawarsita over the Pengging area as the center of power over the Java Land, after Kediri; 6. Kusumawicitra is included in the historical figure as the ancestor of the kings of the Kraton Surakarta and Pura Mangkunegara dynasties, on the other hand, through Kusumawicitra, the kings of the Kraton Surakarta and Pura Mangkunegaran are included in the Javanese Kerajawian which are conceptually contained in the Mahabharata viracarita.
Kata Kunci : Serat Witaradya; Pujangga R. Ng. Ranggawarsita; Struktur Naratif; Lokasanggraha; Genealogi.