Karakteristik industri tahu di Kecamatan Srandakan dan kecamatan Kasihan Kabupaten Bantul
HARYONO, Edy, Prof.Drs. H.R. Bintarto
2002 | Tesis | S2 GeografiPenelitian ini menyoroti industri tahu di Kecamatan Srandakan dan Kasihan Kabupaten Bantul, yang bertujuan untuk mengetahui karakteristik industn tahu ditinjau dari faktor-faktor produksi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian survei.Populasi sebanyak 142 industri tahu, terdiri dari 102 pengusaha tahu di Kecamatan Srandakan dan 40 di Kecamatan Kasihan. Sampel di Kecamatan Srandakan sebanyak 80, dan di Kecamatan Kaslhan sebanyak 40 pengusaha tahu. Sampel selwuhnya 120 pengusaha tahu. Data yang dikumpulkan data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data menggunakan, observasi, kuesioner, dan dokumentasi. Analisis data dengan analisis tabel frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; usaha industri tahu di Kecamatan Srandakan lebih menguntungkan dari pada usaha industri tahu di Kecamatan Kasihan. Rata-rata keuntungan produksi tahu per unit modal kerja Rp 100.000,-di Kecamatan Srandakan sebesar Rp 17.250 dan di Kecamatan Kasihan sebesar Rp 10.500,-. Rata-rata keuntungan dari rata-rata satu unit modal kerja industri tahu di Kecamatan Srandakan sebesar 17,25 % dan Kasihan sebesar 10,50%. Faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan: Di Kecamatan Srandakan memiliki aksesibilitas industri tahu yang lebih ba& dari pada di Kecamatan Kasihan yakni tersedianya badan perkreditan untuk meminjam modal, tersedianya tokotoko kedelai, tersedianya kios-kios bahan bakar, tersedianya tenaga kerja, tersedianya bahan bakar tambahan, tersedianya angkutan khusus tahu. Perbedaan-perbedaan harga pembelian bahan baku kedelai, biaya bahan bakar tambahan, biaya transportasi, biaya makan dan upah tenaga kerja, per unit modal kerja di Kecamatan Srandakan dan di Kasihan, apabila di jumlahkan ternyata lebih murah biaya produksi di Kecamatan Srandakan daripada di Kecamatan Kasihan.
This research focuses attention on the tofu industry in Srandakan and Kasihan Subdistncts and aims to investigate the characteristics of the tofi industry in terms of factors of production, The research method used is the survey method. The population comprised 142 tofu producers consisting of 102 entrepreneurs in Srandakan and 40 entrepreneurs in Kasihan. The samples taken fiom Srandakan and Kaslhan consisted of 80 and 40 entrepreneurs respectively, thereby totalling 120 entrepreneurs. The data collected were primary and secondary data. The techniques used for data collection were observation, questionnaire and documentation. The data were analyzed using a frequency table analysis. The result of the research indicates that the tofu industry in Srandakan Subdistrict is more profitable than the tofb industry in Kasihan Subdistrict. The average profit fiom tofi products with a working capital of Rp 100,000 is Rp 17,250 in Srandakan and Rp 10,500 in Kasihan. The average profit fiom the average unit of worlung capital is 17.25% in Srandakan and 10.50% in Kasihan. The factors that cause this difference are as follows. Srandakan has better accessibility of the tofu industry than Kasihan because of the availability of a loan facility fiom a credit providing agency, fuel vendors, manpower, additional fuels, and a special means of transportation. The differences in the prices of raw materials and additional fuels as well as in the costs of transportation, the workers’ wages and meals per unit of working capital in the two subdistricts indicate that the cost of production in Srandakan is lower than that in Kasihan.
Kata Kunci : Industri Tahu,Geografi Manusia