Penurunan volume ekspirasi paksa akibat paparan debu kayu pinus dan sengon pada tenaga kerja PT Isanti di Semarang
PRIHANTOYO, Ir. Soedirman
2002 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan KerjaKayu sebagai salah satu produk alam yang sangat penting, banyak Qgunakan s e b w bahan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Dalam mengubah kayu gelondong menjadi berbagai produk jadi seperti meubelair dan bahan konstruksi m a h , banyak melibatkan proses yang menghasilkan debu kayu. Pemaparan debu kayu pinus dan sengon selama bertahun-tahun dapat mengurangi kapasitas fungsi paru khususnya pada tenaga kerja bagian produksi. Tujuan darr penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada perbedaan volume ekspirasi paksa detik pertama dan kapasitas vital paru antara knaga kerja yang terpapar dan tidak terpapar debu kayu pinus dan sengon serta untuk mengetahui apakah ada korelasi antara kadar debu kayu dengan gangguan ventilasi paru. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan rancangan cross sectional. Swpel pada kelompok terpapar sejumlah 70 orang, sedang pada kelompok tidak terpapar sejumlah 33 orang. Variabel terikat adalah kapasitas fungsi paru yang Qukur dengan spirometer. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kadar debu kayu yang diukur dengan Personal Dust Sampler tipe PCX-R8, dan masa kerja dalam satuan tahun. Faktor pmgganggu dalam penelitian ini yaitu kebiasaan merokok yang akan dikendalikan dengan jalan memilih semua sampel berjenis kelamin wanita dan tidak merokok. Data yang diperoleh dianalisis secara diskriptif dan analitis menggunakan program SPSS dengan interval kepercayaan Hasil pengukuran kadar debu respirabel menunjukkan bahwa kadar debu respirabel rata-rata di ruang Administrasi, ruang Laminating Board serta ruang Core Lumber Core adalah 2,34 mg/m3, sedang untuk debu total rata-rata 4,lO mg/m3. Pada pengujian statistik menggunakan hova 1 Jalur, diperoleh hasil bahwa ada perbedaan bermakna antara kapasitas vital paru dan volume ekspirasi paksa detik pertama kelompok terpapar dan tidak terpapar. Untuk kapasitas vital paksa memberikan harga F = 7,820 dan p < 0,05, sedangkan untuk volume ekspirasi paksa detik pertama diperoleh harga F = 12,743 dan p < 0,05. Kapasitas vital dan volume ekspirasi paksa detik pertama tenaga kerja yang terpapar debu kayu pinus dan sengon lebih rendah dibandingkan tenaga kerja yang tidak terpapar. Pengujian menggunakan analisis korelasi menunjukkan adanya korelasi yang kuat dan positip antara kadar debu kayu dengan gangguan ventilasi paru (r = 0,990 dan p < 0,05).
As one of the very important natural products, wood is used to fulfill the human needs. Dust will be produced by processing log into h t u r e and lumber. The forced expiratory volume one second of the workers at the production department who were exposed to wood dust of Pinus merkusii and Albazia falcataria for many years will decrease. The aims of this study were to identi@ whether there are differences in forced expiratory volume one second and lung vital capacity of between exposed and unexposed workers to wood dust, and to identify the correlation between wood dust concentration and lung ventilation disturbance. This was a non-experimental study using cross sectional design. Samples as much as 103 women were grouped in two; namely the exposed group (70 women) and the unexposed group (33 women). The dependent variables were the forced expiratory volume one second and lung vital capacity measured using spirometer. The independent variable was wood dust concentration measured using Personal Dust Sampler of PCX-RS type . The confounding factor was the cigarette smoking habit which was eliminated by selecting the women who do not smoke. The data were analyzed descriptively and analitically using SPSS program with 95 % confidence interval. The average of respirable wood dust in Adrmnistraton Department, Laminating Board Department and Core Lumber Core Department was 2.34 mg/m3. For total dust average was 4.10 mgim’. There is a significant &fference between the vital capacity and forced eixpiratory volume one second in exposed and unexposed workers. For Vital capacity F = 7.820 and p < 0.05 and the forced expiratory volume one second F = 12.743 and p < 0.05. The vital capacity and forced expiratory volume one second ofthe workers exposed to wood dust of Pinus merkusii and Albazia fklcataria is lower than the unexposed workers. There is a strong relation between wood dust concentration and the lung ventilation Qsturlxnce (r = 0.990 and p < 0.05).
Kata Kunci : Kesehatan Kerja,Debu Kayu Pinus dan Sengon