Laporkan Masalah

Persepsi Hambatan Bersepeda di Kalangan Pelajar Kota Yogyakarta

ISA INDRAWAN, Dr. Eng. Muhammad Zudhy Irawan, S.T., M.T.; Prof. Ir. Siti Malkhamah, M.Sc., Ph. D.

2020 | Tesis | Magister Sistem dan Teknik Transportasi

Hampir setiap ruas jalan utama di Kota Yogyakarta telah memiliki lajur sepeda, tetapi masih lengang dari pesepeda. Pelajar remaja tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) merupakan potensi pesepeda yang besar untuk pilihan moda perjalanan harian. Saat ini, mayoritas pelajar bergantung pada kendaraan bermotor yang menghasilkan polusi udara sebagai pilihan moda utama, untuk perjalanan harian sekolah walaupun jarak perjalanan sangat dekat, dikarenakan terkait penerapan peraturan zonasi dalam penerimaan peserta didik baru. Hal tersebut tentu mengkhawatirkan bagi kesehatan dan kemandirian pelajar, serta transportasi ramah lingkungan di Kota Yogyakarta. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik perjalanan sekolah, kemudian hambatan tersulit sampai termudah yang dipersepsikan pelajar menggunakan sepeda, termasuk perbedaan abilitas pelajar terhadap hambatan berdasarkan jenis kelamin, tingkat sekolah, maupun kombinasi keduanya dan jarak optimal bersepeda, sehingga skenario prioritas kebijakan penanganan terpenting dapat dilakukan. Dengan pendekatan Rasch model, analisis hambatan bersepeda dilakukan pada 535 responden pelajar tingkat SMP dan SMA Negeri di Kota Yogyakarta, dengan berbagai latar belakang moda perjalanan mereka saat ini, jika menggunakan sepeda sebagai moda perjalanan harian sekolah. Metode tersebut dapat mengetahui tingkatan hambatan dimulai dari sesaat sebelum perjalanan di tempat tinggal mereka, sampai dengan tujuan akhir sekolah atau sebaliknya, dan tingkat abilitas pelajar bersepeda. Kemudian dilakukan uji beda dalam 4 kelompok tersebut di atas, untuk mempertajam skenario prioritas kebijakan yang diperlukan secara berurutan. Penelitian menemukan bahwa saat ini mayoritas pelajar tidak mandiri untuk perjalanan sekolah, dengan mayoritas diantar dengan sepeda motor. Kemudian rata-rata abilitas pelajar bersepeda lebih rendah 0,23 logit dari rata-rata tingkat hambatan bersepeda. Keterbatasan waktu merupakan hambatan tersulit, dan rasa gengsi merupakan hambatan yang termudah untuk mereka atasi dalam bersepeda. Selain itu, dalam abilitas bersepeda pelajar SMP lebih tinggi dibandingkan pelajar SMA, pelajar laki-laki lebih tinggi dari pelajar perempuan, pelajar SMP perempuan sama dengan pelajar SMA laki-laki, dan pelajar yang tinggal dalam radius < 5 km lebih tinggi dari pelajar yang tinggal pada jarak > 5 km. Maka dari itu penanganan terkait manajemen mobilitas pelajar merupakan prioritas terpenting, untuk mendorong penggunaan sepeda pada perjalanan harian sekolah sebagai salah satu moda transportasi ramah lingkungan.

Almost every major road in Yogyakarta City has bicycle lanes, but it is still quiet from cyclists. Junior High School (SMP) and Senior High School (SMA) students are most potential cyclists as travel mode choice. Currently, the majority of students depend on motorized vehicles that produce air pollution as the main mode for daily school trips, even though the travel distance is very close due to the application of zoning regulations in the admission of new students. This is certainly worrying for the health and independence of students, as well as environmentally friendly transportation in Yogyakarta City. For this reason, our study aims to determine the characteristics of school trips, then the most difficult to the easiest barriers that perceived by students in using a bicycle, including differences in students ability to resist barriers based on gender, school level, as well as a combination of both, and the optimal distance cycling, to create the most important priority handling scenario. Using the Rasch model approach, the analysis of cycling barriers was carried out on 535 respondents of Junior and Senior High School students in Yogyakarta City, with various backgrounds of their current travel modes, if using bicycles as the mode of daily school trips. This method can determine the level of resistance starting from their residences to the final destination at school or vice versa, and the level of student cycling ability. Then, the difference test was carried out in the 4 groups above, to refine the policy priority scenarios needed in sequence. This study found that currently the majority of students are not independent for school trips, with the majority being delivered by motorcycle. Then, the average level of students ability was 0,23 logit lower than the average level of barriers to cycling. Time constraints were the main barrier, and a sense of pride was the easiest barrier for them while cycling. Furthermore, the cycling ability of junior high school students is higher than senior high school students, male students are higher than female students, female junior high school students are the same as male senior high school students, and students who live within a radius of < 5 km are higher than students who live. at a distance of > 5 km. Therefore, handling student mobility management is the most important priority, to encourage the use of bicycles on daily school trips as an environmentally friendly mode of transportation.

Kata Kunci : Perjalanan sekolah, Pelajar, Pilihan moda, Sepeda, Model rasch.