Laporkan Masalah

Hubungan antara kepadatan, toleransi sosial, keakraban dengan rasa sesak pada penghuni pemukiman padat di kota Yogyakarta

WAHYUDI, Indra, Dr. Djamaludin Ancok

2002 | Tesis | S2 Psikologi

Keberadan orang lain sangtlah penting bagi orang Jawa. Nilai-nilai dasar mereka yaitu “hidup selaras” sangat mendukung dan telah lama tertanamkan dalam adat istiadat dan interaksi sosial mereka yang disebut rukun. Bagi orang Jawa, kehadiran orang lain adalah hal yang baik dan hal tersebut merupakan sumber yang menyenangkan bagi pengembangan jati diri mereka. Menurut adat istiadat, kepercayaan dan tata nilai yang mereka anut, orang tak dapat hidup sendirian, sehingga mereka tak dapat mengabaikan kehadiran orang lain. Orang merasa senang jika dapat bertemu dengan orang lain, atau jika mereka dapat berhubungan sosial dengan orang lain. Hidup di permukaan padat atau kampong padat membuat orang tak mungkin menghindari orang lain. Keadaan ini mendorong mereka untuk saling bertegur sapa, berkomunikasi, mengunjungi, mendukung, menolong, menghormati bahkan saling menyayangi. Hal ini merupakan kesempatan yang sangat baik untuk merealisasikan pengembangan jati diri mereka. Toleransi sosial terjadi dan tumbuh berkembang dari rukun dan nilai Jawa tentang relativisme. Sementara keakraban terjadi dan tumbuh berkembang dari kedekatan jaak antar rumah pada pemukiman padat. Hal ini membuat penghuni saling bertemu, bertegur sapa, berkomunikasu , mengunjungi, mendukung, menolong, menghormati bahkan saling menyayangi. Penelitian ini bertujuan mencari hubungan antara kepadatan, toleransi sosial dan keakraban dengan rasa sesak. Penulis menduga bahwa rasa sesak akan berkurang oleh toleransi sosial dan keakraban. Hipotesis yang diajukan adalah (1) tidak ada hubungan antara kepadatan dengan rasa sesak. (2) ada hubungan negative antara toleransi sosial dengan rasa sesak. (3) ada hubungan negative antara keakraban dengan rasa sesak. Penelitian dilakukan di Yogyakarta dengan melibatkan 207 subyek berusia 17 tahun atau diatasnya. Semua subyek tinggal di dua Kecamatan terpadat di Yogyakarta yaitu Ngampilan dan Danurejan. Enam RT digunakan sebagai area penelitian, diasumsikan mewakili kecamatan terpadat tadi. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan skala toleransi sosial, keakraban dan rasa sesak. Semua skala disusun oleh penulis, untuk analisis data digunakan korelasi parsial. Hasilnya adalah bahwa hipotesis pertama diterima dengan (rumus) hipotesis kedua diterima dengan (rumus), dan hipotesis ketiga ditolak dengan (rumus).

Available in Fulltext

Kata Kunci : Interaksi Sosial, Rasa Sesak, Pemukiman Padat


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.