Laporkan Masalah

Twitter: Media Sosial Sebagai Medium untuk Mengekspresikan Emosi Negatif Anak Muda

M RIZKY YOGA Z, R Derajad Sulistyo Widhyharto, S.Sos., M.Si.

2020 | Skripsi | S1 SOSIOLOGI

Di era dunia digital dan di tengah maraknya pembicaraan mengenai kesehatan mental, Twitter muncul sebagai media sosial yang mampu memenuhi kebutuhan anak muda terkait ruang untuk berekspresi. Melalui pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode etnografi virtual, penelitian ini menggali aktivitas anak muda dalam mengekspresikan emosi negatif melalui Twitter serta apa yang melatari aktivitas tersebut. Emosi negatif pada penelitian ini didefinisikan sebagai simptom atau tanda dari gangguan kesehatan mental. Subjek penelitian ini adalah anak muda berusia antara 17 - 24 tahun, yang sehari-hari menggunakan Twitter untuk mengekspresikan emosi negatif. Gagasan �Virtual Self� oleh Ben Agger, digunakan dalam melihat representasi emosi negatif yang diekspresikan oleh anak muda di Twitter. Dalam penelitian ini, keempat narasumber menceritakan pengalaman tidak menyenangkan dalam hidupnya sebagai apa yang melatari kondisi mereka hingga dapat memicu emosi negatif. Keterbatasan ruang berekspresi yang mereka alami muncul dari ketidak-inginan mereka untuk diketahui oleh orang yang mereka kenal dari dunia nyata. Mereka mengekspresikan kondisi mereka melalui tweet bermuatan kata-kata yang merepresentasikan emosi negatif. Melalui penelitian ini, terdapat beberapa aspek yang membuat narasumber merasa leluasa di Twitter, yaitu; merasa tidak terhakimi, minimnya kehadiran orang yang mereka kenal, menemukan ruang aman, dan merasa ter-representasikan oleh konten dari pengguna lain.

In this digital era along with many discussions about mental health, Twitter has become a space for youth to express their insecurities. Through a qualitative approach by using virtual ethnography, this research tries to explore the usage of Twitter by youth in expressing negative emotions. In this research, these negative emotions are defined as symptoms of mental conditions. There are four individuals selected as informants for this research, ranging from age 17 to 24. The concept of Virtual Self by Ben Agger, is being used to analyze the activity of young people expressing their negative emotions through technology, specifically Twitter as a social media. The result of this research, shows how the four informants unfortunate experiences became the main trigger for their needs in expressing negative emotions. Twitter virtually provides them with a sense of freedom to express their discomfort and insecurities, something which the real-physical world cannot give them. There are some aspects that lead them to feel free about being honest with themselves on Twitter; lack of judgements, the absence of people they knew in the real world, Twitter as a safe space, and the feeling of being related with others on Twitter.

Kata Kunci : Twitter, technology, youth, mental health, Twitter, anak muda, teknologi, kesehatan mental

  1. S1-2020-399474-abstract.pdf  
  2. S1-2020-399474-bibliography.pdf  
  3. S1-2020-399474-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2020-399474-title.pdf