UJI TINGKAT KEMATANGAN BIO-SLURRY BIOGAS DENGAN VARIASI LAMA HYDRAULIC RETENTON TIME (HRT)
SANTOSO WAHYU N, Prof. Dr. Ir. Lilik Soetiarso, M. Eng., Dr. Joko Nugroho W.K, STP, M. Eng
2020 | Skripsi | S1 TEKNIK PERTANIANBio-slurry biogas merupakan limbah biogas dari campuran kotoran sapi segar dan air diproses tanpa oksigen (anaerobik). Bio-slurry dapat dimanfaatkan untuk mengurangi beban lingkungan, salah satunya dengan memanfaatkannya sebagai pupuk organik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kematangan bio-slurry biogas. Metode pengisian biogas yang digunakan adalah continues feeding ke dalam digester. Penelitian ini dilakukan dua kali percobaan dengan masing-masing pengamatan 30 hari di Pondok Pesantren Sabilul Huda Desa Pakembinangun, Pakem, Sleman. Penelitian dilakukan dengan 2 perlakuan. Perlakuan pertama, laju pembebanan pengisian biogas 200 liter/hari dengan pencampuran 50 kg kotoran sapi dan 150 liter air. Percobaan kedua, laju pembebanan pengisian biogas 120 liter/hari dengan pencampuran 30 kg kotoran sapi dan 90 liter air. Kemudian diperoleh kadar padatan bio-slurry awal sebesar 5,84% dan kadar padatan bio-slurry akhir sebesar 4,94%. Hasil penelitian menunjukkan, perlakuan pertama menghasilkan uji kematangan 4,94% pH rata-rata awal 7,3 dan pH rata bio-slurry akhir sebesar 7,1. Perlakuan kedua, pH awal 7,3 dan pH bio-slurry akhir sebesar 7,1. Tingkat pH pada perlakuan 1 dan perlakuan 2 mengalami penurunan dikarenakan mikroorganisme pada proses asidogenesis sangat cepat, sehingga menaikkan kadar keasaman. Aplikasi penyiraman bio-slurry ke benih sawi (Brassica juncea L.) mampu meningkatkan perkecambahan.
Bio-slurry is biogas waste from a mixture of fresh cow dung and processed water without oxygen (anaerobic). Bio-slurry can be used to reduce environmental burdens, one of which is by using it as organic fertilizer. This study aimed to determine the maturity level of the bio-slurry. The biogas filling method used a continue feeding into the digester. This study was carried out in two experiments for 30 days at the Sabilul Huda Islamic Boarding School, Pakembinangun Village, Pakem, Sleman. There were 2 treatments. The first, the loading rate of 200 liters of biogas per day by mixing 50 kg of cow dung and 150 liters of water. The second experiment, the loading rate of biogas filling 120 liters / day by mixing 30 kg of cow dung and 90 liters of water. The initial bio-slurry solids content was 5.84% and the final bio-slurry solids content was 4.94%. The results showed that the maturity bio-slurry was 4.94% with an initial average pH of 7.3 and an average pH of the final was 7.1. In the second treatment, the initial pH was 7.3 and the final bio-slurry pH was 7.1. The pH level in treatment 1 and treatment 2 decreased because the microorganisms in the acidogenesis process were very fast, thus increasing the acidity level. Application of bio-slurry watering to mustard greens (Brassica juncea L.) could increase the germination.
Kata Kunci : Uji kematangan Bio-slurry, Hydraulic Retention Time