Laporkan Masalah

Evaluasi Penangkaran Jalak Suren Jawa (Gracupica jalla) Sebagai Upaya Konservasi Ex-Situ di Kabupaten Klaten

RIDWAN WIBISONO, Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko, S.Hut, M.Sc.

2020 | Skripsi | S1 KEHUTANAN

Jalak Suren Jawa (Gracupica jalla) adalah satu dari tiga jenis jalak suren yang dapat ditemukan di Indonesia. Jenis ini tidak dilindungi oleh Permen LHK no. 106 Th. 2018, meskipun menurut IUCN statusnya Critically Endangered. Salah satu upaya pelestarian Jalak Suren Jawa yang paling mungkin dilakukan saat ini sadalah dengan cara konservasi ex-situ dalam bentuk penangkaran. Terdapat 1031 tempat penangkaran Jalak Suren Jawa di kabupaten Klaten pada tahun 2018 , yang seharusnya dapat membantu menambah populasinya di alam , serta mengurangi potensi penangkapan liar. Penyelenggaraan penangkaran diatur dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 19 Tahun 2005 tentang Penangkaran Tumbuhan dan Satwa Liar dan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa Liar. Oleh karena itu, evaluasi penangkaran yang ada di Kabupaten Klaten perlu dilakukan untuk mengetahui apakah penangkaran yang ada sudah memenuhi persyaratan teknis dan administrasi agar dapat dikatakan sebagai upaya konservasi ex-situ. Pada tahap awal penelitian, dilakukan pencarian data sekunder, berupa lokasi penangkaran. Data sekunder diperoleh melalui Google maps dan BKSDA. Setelah mendapatkan lokasi tersebut, dilakukan pengamb ilan data teknis dan administrasi penangkaran dengan metode In-depth Interview serta data lokasi penangkaran lain dengan snowball method. Data teknis dan administrasi penangkaran kemudian dibuat distribusi frekuesi, sedangkan data lokasi penangkaran didigitasi dalam bentuk peta sebaran lokasi. Semua penangkaran Jalak Suren Jawa di Kabupaten Klaten sudah memenuhi persyaratan teknis. Hal ini dibuktikan dari produktivitas Jalak Suren Jawa di penangkaran dapat dibilang cukup tinggi. Satu pasang indukan Jalak Suren Jawa dapat menghasilkan hingga 29 anakan pertahun dan produtivitas rata-rata penangkaran di Kabpaten Klaten mencapai 304 anakan pertahun. Namun belum ada yang memenuhi persyaratan administrasi. Pemenuhan persyaratan administrasi perlu dilakukan guna memenuhi persyaratan penyelenggaraan penangkaran sehingga penangkaran dapat dikatakan sebagai sarana konservasi ex-situ. Salah satu persyaratan administrasi penangkaran yang harus dipenuhi adalah pelepasliaran 10% dari hasil penangkaran. Pelepasliaran tentu dapat membantu menambah jumlah Jalak Suren Jawa di alam.

Javan Pied Starling (Gracupica jalla) is one of three species of genus Gracupidae that can be found in Indonesia. This species is not protected by ministry regulation in Indonesia (Minister of Environtment and Forestry Regulation No. 106 Year. 2018), despite its status is Critically Endangered according to IUCN. One of the efforts to preserve Javan Pied Starling which likely to be done nowadays is ex-situ conservation in captive breeding place. There were 1031 captive breeding places of Javan Pied Starling in Klaten Regency in 2018, which should be able to help increase its population in nature, as well as reduce the potential of poaching. The holding of captive breeding is regulated in Minister of Forestry Regulation Number 19 Year 2005 about The Captive Breeding of Wild Plants and Wildlife and Government Regulation Number 8 Year 1999 about The Use of Wild Plants and Wildlife. Thus, evaluation of captive breeding place in Klaten Regency needs to be done to find out whether the captive breeding has met the technical and administrative requirements so it can be said as ex-situ conservation. In the beginning stage of the study, secondary data were collected, which are captive breeding locations. Secondary data were obtained through Google maps and BKSDA. After obtaining the locations, technical and administrative data of the captive breeding were collected with In-depth Interview method and other captive breeding locations data with snowball method. The technical and administrative data of the captive breeding were then made into frequency distribution, while the captive breeding location data were digitized as a location distribution map. All captive breeding places of Javan Pied Starling in Klaten Regency have fulfilled technical requirements. This was proven from the productivity of the Javan Pied Starling in captive breeding places can be considered quite high. One pair of Javan Suren Starlings can produce up to 29 hatchlings per year and the average breeding productivity in Klaten Regency is 304 hatchlings per year. But no captive breeding places have fulfilled the administrative requirements. Fulfillment of administrative requirements needs to be done in order to fulfill the requirements of holding captive management so that captivity can be said as an ex-situ conservation. One of the captive administration requirements that must be fulfilled is a release of 10% of the captive yield. Releasing certainly can help increase the number of Javan Pied Starling in the wild.

Kata Kunci : penangkaran, Jalak Suren Jawa, Gracupica jalla, ex-situ, Klaten

  1. S1-2020-382916-abstract.pdf  
  2. S1-2020-382916-bibliography.pdf  
  3. S1-2020-382916-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2020-382916-title.pdf