ANALISIS ALOKASI RUANG LAUT UNTUK KEGIATAN BERNILAI PENTING DAN STRATEGIS NASIONAL DI KAWASAN STRATEGIS TELUK BINTUNI, PAPUA BARAT
ASDIZTIA NURUL F, Dany Puguh Laksono, ST., M.Eng.
2020 | Skripsi | S1 TEKNIK GEODESIKawasan Teluk Bintuni merupakan wilayah yang dikelilingi oleh tiga Kabupaten yaitu Kabupaten Teluk Bintuni, Fak-fak dan Sorong Selatan. Secara geografis kawasan Teluk Bintuni berada antara 2o5'00'' - 2o42'35'' LS dan 132o9'5'' - 133o47'37'' BT. Kawasan tersebut memiliki potensi untuk dilakukan pengelolaan ruang laut. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2014 tentang Kelautan Pasal 42 ayat 2 menyebutkan bahwa pengelolaan ruang laut meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengawasan, dan pengendalian. Suatu pengelolaan ruang laut dapat dilaksanakan melalui perencanaan zonasi kawasan strategis nasional yang dapat memberikan manfaat terhadap suatu wilayah yang bersangkutan. Salah satu upaya untuk mendukung perencanaan zonasi kawasan strategis nasional adalah melakukan analisis alokasi ruang laut di kawasan Teluk Bintuni. Analisis alokasi ruang laut dilakukan menggunakan Sistem Informasi Geografik (SIG) untuk menentukan kriteria kesesuaian, sehingga menghasilkan suatu keluaran baru dalam bentuk peta kesesuaian. Analisis pada kegiatan penelitian ini diperlukan beberapa kriteria berdasarkan pada Pedoman Tata Cara Penyusunan Peta RZWP-3-K yang disusun oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan yaitu kriteria kawasan potensi perikanan tangkap, kawasan potensi perikanan budidaya tambak udang, kawasan potensi wisata pancing, kawasan potensi wisata selam, dan kawasan potensi konservasi mangrove. Kriteria, subkriteria, dan sub subkriteria pada masing-masing peruntukkan dilakukan perbandingan berpasangan untuk menghitung nilai bobot. Perhitungan ini dilakukan dengan perangkat lunak Expert Choice 11 yang memberikan nilai bobot dengan rasio konsistensi kurang dari 0,1. Kriteria tersebut menghasilkan peta alternatif kesesuaian alokasi ruang laut RZ KSN Teluk Bintuni yang diklasifikasikan menggunakan metode Equal Interval menjadi 3 kelas yaitu tidak sesuai, kurang sesuai, dan sesuai. Hasil proses analisis alokasi ruang laut menghasilkan beberapa peta kawasan potensi pada masing-masing kriteria yaitu kawasan potensi perikanan tangkap dengan luas 768.754,160 ha, kawasan potensi perikanan budidaya tambak udang dengan total luas 508.364,468 ha, kawasan potensi wisata pancing dengan total luas 0 ha atau tidak memiliki lokasi yang ideal, kawasan potensi wisata selam dengan total luas 486.265,176 ha, kawasan potensi konservasi mangrove dengan total luas 268.592,36 ha. Berdasarkan hasil peta dari masing-masing kriteria yang dilakukan overlay menunjukkan lokasi yang sesuai terdapat di wilayah pesisir kawasan Teluk Bintuni yang dapat dimanfaatkan untuk kawasan konservasi mangrove dengan luas yang diperoleh sebesar 145.407,181 ha.
The area of Teluk Bintuni is surrounded by three regencies, namely Teluk Bintuni, Fak-fak, and Sorong Selatan regencies. Geographically, the area of Teluk Bintuni is between 2o5'00'' - 2o42'35'' S and 132o9'5'' - 133o47'37'' E. This area has the potential to do sea space management. Based on Undang-Undang Number 32 of 2014 concerning Marine Article 42 paragraph 2 states that the management of sea space includes planning, utilization, supervision, and control. Management of sea space can be carried out through zoning, planning of the national strategic area that can provide benefits to the area concerned. One effort to support zoning, planning of the national strategic area is to conduct an analysis of sea space allocation in Teluk Bintuni area. Analysis of sea space allocation is carried out using a Geographic Information System (GIS) to determine conformity criteria, to produce a new output in the form o a conformity map. Analysis on this study activity requires several criteria based on Guideline for the Preparation of the RZWP-3-K Map that prepared by the Ministry of Marine Affairs and Fisheries Republic of Indonesia, namely the criteria of potential fishing area, the criteria of potential aquaculture for shrimp, the criteria of potential fishing tourism, the criteria of potential diving tourism, and the criteria of a potential mangrove conservation area. The criteria along with the sub-criteria and sub-sub-criteria are paired comparisons to calculate the weight values. This calculation was carried out with Expert Choice 11 software which provides weight values with a consistency ratio of less than 0.1. These criteria produce an alternative map of the suitability of RZ KSN Teluk Bintuni sea space allocation which is classified using the Equal Interval method into 3 classes, which are inappropriate, less appropriate, and appropriate. The result of the analysis of sea space allocation produces several maps of potential areas on each criterion namely the criteria of a potential fishing area with 768,754.160 hectares, the criteria of potential aquaculture for shrimp with 508,364.468 hectares, the criteria of potential fishing tourism with 0 hectares of it doesn't have an ideal location, the criteria of potential diving tourism with 486,265.176 hectares, and the criteria of potential mangrove conservation area with 145.407,181 hectares. Based on the results on a map of each criterion conducted overlay shows that the suitable location in the coastal area of Teluk Bintuni area can be utilized for a mangrove conservation area with an area of 145,407.181 hectares.
Kata Kunci : Alokasi Ruang Laut, Analisis Spasial, Rencana Zonasi Kawasan Strategis Nasional (RZ KSN), Analytical Hierarchy Process (AHP)