PENGHUNIAN SITUS LIANG ALAREBENG, LEMBATA, NUSA TENGGARA TIMUR MASA HOLOSEN AKHIR (TINJAUAN EKOFAK KERANG)
MUHAMMAD SALEH SAPUTRA, Dr. Mahirta, M. A.
2020 | Skripsi | S1 ARKEOLOGIPemanfaatan sumber daya akuatik di pulau kecil terutama di Wallacea penting dilakukan untuk mengetahui usaha adaptasi manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup. Penulis kemudian mengambil fokus penelitian mengenai pemanfaatan kerang sebagai usaha adaptasi dengan batasan penelitian di situs Liang Alarebeng, Lembata, Nusa Tenggara Timur pada masa Holosen Akhir. Tujuan penelitian ini, penulis ingin mengetahui apa saja jenis kerang yang dimanfaatkan pendukung situs Liang Alarebeng. Sejauh mana distribusi kerang dilakukan sehingga dapat membantu untuk mengetahui area jelajah dan lingkungan tangkapan dari habitat kerang. Melalui perhitungan besaran kuantitas, penulis ingin mengetahui tren pemanfaatan kerang dari waktu ke waktu dan dominasi jenis kerang di setiap waktu yang dikelompokkan dalam tiap spit. Permasalahan dibuat dengan mempertanyakan mengenai jenis kerang yang dimanfaatkan di situs Liang Alarebeng dalam kaitan dengan pemanfaatan sumber daya akuatik. Penulis menjawab permasalahan tersebut dengan menggunakan metode identifikasi taksonomi temuan ekofak kerang. Sampel yang digunakan berupa temuan ekofak kerang dari kotak A spit 1 (A1) hingga spit 10 (A10). Identifikasi dilakukan dengan melakukan perbandingan referensi buku, katalog online, serta melakukan identifikasi secara komparasi terhadap koleksi referensi kerang yang terdapat di laboratorium. Analisis NISP dilakukan untuk menghitung besaran kuantitas tiap jenis kerang karena mempertimbangkan temuan kerang yang banyak berupa fragmen. Kesimpulan dari tulisan ini, terdapat tiga jenis kerang yang mendominasi situs Liang Alarebeng diantaranya, Neritidae 339 unit atau 32,75%, Turbinidae 94 unit atau 9,08%, dan Trochidae 88 unit atau 8,5% dari populasi keseluruhan 1.035 unit. Tiga dominasi habitat kerang terungkap dari hasil identifikasi jenis kerang, diantarnya pantai berbatu, terumbu karang, dan pantai berpasir. Diantara tiga habitat tersebut, penulis berpendapat bahwa pantai berbatu dan terumbu karang menjadi area yang sering dikunjungi yang didasarkan pada temuan tiga dominasi famili kerang. Melalui identifikasi habitat, diketahui jarak jangkauan area tangkapan kerang sejauh 6 hingga 10 km dari lokasi hunian. Selain itu, pemanfaatan kerang diketahui mulai meningkat setelah memasuki spit 5 dengan penanggalan sekitar 1.894 - 1.741 tahun yang lalu dan mencapai tingkat intensitas tertinggi pada spit 4 dan spit 3. Pemanfaatan fauna lain (dilihat dari temuan ekofak tulang) selain kerang menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi tren pemanfaatan kerang sebagai sumber makanan.
Utilization of aquatic resources in small islands, especially in Wallacea, is important to determine human adaptation efforts to meet the needs of life. The author then takes a research focus on the use of shellfish as an adaptation effort with research limitations at the Liang Alarebeng site, Lembata, East Nusa Tenggara during the Late Holocene period. The purpose of this study, the author wanted to know what types of shells were used to support the Liang Alarebeng site. The extent to which the distribution of shells is carried out so that it can help to determine the home range and catchment environment of shellfish habitat. By calculating the quantity, the author wanted to know the trend of shellfish utilization over time and the dominance of shellfish species at each time grouped in each spit. The problem was created by questioning the type of shellfish used at the Liang Alarebeng site concerning the utilization of aquatic resources. The author answers this problem by using the taxonomic identification method of shellfish ecofact findings. The samples used were shellfish ecofacts from box A spit 1 (A1) to spit 10 (A10). Identification is done by comparing reference books, online catalogues, as well as making comparative identification of shells reference collections found in the laboratory. The NISP analysis was carried out to calculate the quantity of each type of shell, considering that many shellfish were found in the form of fragments. This paper concludes that three types of shellfish dominate the Liang Alarebeng site, including, Neritidae 339 units or 32.75%, Turbinidae 94 units or 9.08%, and Trochidae 88 units or 8.5% of the total population of 1,035 units. Three dominance of shellfish habitat was revealed from the identification of shellfish species, including rocky shores, coral reefs and sandy shores. Among the three habitats, the authors argue that rocky beaches and coral reefs are the most frequently visited areas based on the findings of three dominance of shellfish families. Through habitat identification, it is known that the coverage area of the shellfish catchment area is 6 to 10 km from the residential location. Besides, the use of shellfish is known to have started to increase after entering spit 5 with a date of about 1,894 - 1,741 years ago and reached the highest level of intensity in spit 4 and spit 3. Utilization of other fauna (seen from the findings of bone ecofacts) other than shellfish is one of the factors which influence trends in the use of shellfish as a food source.
Kata Kunci : Ekofak Kerang, Liang Alarebeng, Lembata, Nusa Tenggara Timur, Holosen Akhir