Perlawanan sehari-hari tuna kisma korban penggusuran terhadap dominasi kekuasaan negara, kontraktor dan elit lokal
FADOLI, Akhmad, Dr. Heru Nugroho
2002 | Tesis | S2 SosiologiSelama ini konsep pembangunan telah dijadikan sebagai kata kunci untuk memajukan kesejahteraan masyarakat pedesaan di Indonesia, yang diwujudkan melalui program Revolusi Hijau. Sebagai salah satu pendukung program tersebut dibangun waduk-waduk dalam skala yang besar. Celakanya, dalam proses pembangunan itu, seringkali disertai dengan praktek-praktek dominasi. Akibatnya banyak masyarakat yang telah diperlakukan tidak adil, melakukan perlawanan dengan caranya sendiri. Oleh karena itu permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimanakah bentuk-bentuk dominasi kekuasaan negara, kontraktor dan elit lokal yang dianggap tidak adil sehingga melahirkan berbagai bentuk perlawanan sehari-hari Tuna Kisma korban penggusuran. Penelitian dilaksanakan di Dusun Toto Margo Desa Way Harong Propinsi Lampung dengan menggunakan metode derkriptif kualitatif interpretatif. Sebagai unit analisisnya adalah 61 kepala keluarga Tuna Ktsma korban penggusuran dari pembangunan Waduk Batu Tegi. Teknik pengumpulan data primer dilakukan melalui wawancara terstruktur yang dipadu dengan wawancara mendalam dan pengamatan. Sedangkan untuk data sekunder dikumpulkan melalui studi dokumentasi. Dari data yang ada dianalisis melalui tiga mata rantai, yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan gambaran kesimpulan atau verifikasi data. Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa perlawanan seharihari Tuna Kisma korban penggusuran merupakan reaksi ketidakpuasan terhadap berbagai bentuk dominasi kekuasaan negara, kontraktor dan elit lokal. Cara yang ditempuh tidak hanya mengikuti sistem yang ada, tetapi juga dilakukan diluar sistem. Sebagai sasarannya, walaupun bersifat nyata yaitu orang-orang yang telah melakukan praktek dominasi, namun tidak diarahkan pada sumbernya langsung, melainkan melalui simbol-simbol yang dapat mewakilinya, mirip dengan perlawanan yang dilakukan oleh orang-orang Samin di Jawa Tengah pada akhir abad ke 19. Pada saat dominasi kekuasaan semakin menguat dan kebutuhan subsistensi semakin terdesak maka perlawanan yang dilakukan menjadi lebih dinamis, dalam arti berani menekan dan mengarah pada aksi perbanditan tradisional. Tujuan perlawanan tidak sekedar untuk mempertahankan subsistensi, melainkan juga berusaha mengurangi dominasi. Selain itu perlawanan yang ada di Toto Margo nampaknya akan terus berlangsung atau bersifat endemis selama yang menjadi faktor penyebabnya tidak ditanggulangi secara tuntas. Dalam penelitian ini diketahui juga bahwa tidak munculnya perlawanan terbu ka di Toto Margo dikarenakan tidak terjadinya perasaan ketersingkiran yang mendalam terhadap warisan kultural. Masyarakat yang tergusur merupakan warga pendatang sehingga ikatan kulturan terhadap tanah miliknya tidak bersifat ketat. Selain itu kemiskinan yang dialami juga jarang sampai pada kekurangan makanan, melainkan hanya sampai pada kesulitan pemenuhan kewajiban-kewajiban seremonial dan sosialnya
So far, the development concept had been the key to increase the society’s welfare in the villages in Indonesia, which was implemented through the program of Green Revolution. As one of the support of the program, it was built big-scale cavities. Unfortunately, in the development process, was often followed by domination practices. As the result, many people were treated unfairly, carrying out resistance with their own manner. Therefore, the problem studied here was how the domination form of state authority, contractor, and local elite, assumed unfair, causing the birt of many kinds hidden transcript of Formhand condemnation victim. The research was carried out in Toto Margo District of Way Harong village, in Lampung province, by using interpretative qualitative descriptive method. As the analysis units were 61 family chief of Formhand condemnation victim of the Batu Tegi Cavity building.The primary data collecting technique was carried out trough structural interview combined with In-depth interview and observation. While, for the secondary data, it was collected through the documentation study. From the existing data, then, the data was analysed through three chains, comprising of data reduction, display, and data verification. Based on the result of this study, it was found out that the hidden transcript of Formhand condemnation victim, was the reaction of unsatisfaction on many forms of state authority domination, contractor and local elite. The way taken, was not only following the existing system, but also carried outside the system. The target, although it was real, was the people, who had carried out domination practice, but not directed directly to the source, but through representative symbols. It was similar with the resistance carried out by the people of Samin in middle Java at the end of 19* century. When the power domination was greater, and the need of subsistence was pressed, thus the resistance carried out became dynamic, meaning brave to press and directing to traditional banditry action. The aim of the resistance was not only to defence the subsistence, but also to try to reduce the domination. Besides, the resistance existing in Toto Margo, seemed would be the cause, which could not be overcome completely. In this sudy, it was also found out that the absence of publict transcript in Toto Margo, was caused by the absence of the feeling of being remote toward the cultural art. The omitted society was the comer, so that the cultural relationship on the land owned was not strict. Beside, the poverty experienced also rare until reaching food lack, but only until the difficulty the fulfilment of ceremonial and social obligations.
Kata Kunci : Masyarakat Tuna Kisma,Perlawanan Penggusuran, Resistance, Formhand, Domination, Cavity and Condemnatiom