Pengembangan Model Rencana Pemulangan Terintegrasi (Relasi) untuk Meningkatkan Kesiapan Ibu Merawat Bayi Berat Lahir Rendah saat Pemulangan dari Rumah Sakit
SUNI HARIATI, dr. Retno Sutomo, Sp.A(K)., Ph.D
2020 | Disertasi | DOKTOR ILMU KEDOKTERAN DAN KESEHATANLatar belakang: Bayi berat lahir rendah (BBLR) berhubungan dengan masalah kesehatan bayi dan seringkali membutuhkan perawatan rumah sakit. Kepulangan bayi dari rumah sakit merupakan transisi yang berat bagi ibu karena harus merawat bayinya di rumah. Kegagalan untuk mencapai transisi yang sehat akan berakibat pada ketidaksiapan ibu untuk merawat BBLR di rumah. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan model rencana pemulangan untuk meningkatkan kesiapan ibu merawat BBLR. Tujuan penelitian: Mengembangkan model Rencana Pemulangan Terintegrasi (Relasi) berdasarkan analisis kebutuhan ibu BBLR dan mengevaluasi keefektifannya dalam meningkatkan kesiapan ibu merawat BBLR. Metode penelitian: Jenis penelitian yang digunakan adalah mixed method exploratory sequential design yang dimulai dengan studi kualitatif dan dilanjutkan dengan studi kuantitatif. Studi kualitatif menggunakan pendekatan fenomenologi deskriptif. Studi kuantitatif menggunakan desain eksperimental kuasi dengan pendekatan post-test only non-equivalent control group design with historical control . Studi ini dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama adalah penelitian kuantitatif sebagai pengkajian kebutuhan. Tahap kedua adalah persiapan instrument dan pengembangan model Relasi. Tahap ketiga merupakan tahap pengujian model Relasi pada kelompok intervensi. Hasil penelitian: Penelitian kualitatif pada tahap satu sebagai analisis kebutuhan menggambarkan enam tema dari pengalaman ibu BBLR dan tiga tema dari perawat. Intervensi model Relasi yang dikembangkan pada tahap kedua meliputi empat komponen yaitu dukungan psikologis, pendidikan kesehatan, pemberdayaan ibu dalam perawatan NICU, dan perawatan lanjutan. Secara statistik, model tersebut menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada kepuasan pengasuhan (p=0.000) dan menunjukkan effect size sangat kuat (d=1.028), frekuensi mengunjungi bayi (p=0.042) dengan effect size sedang (d=0.478), dan praktik perawatan bayi di rumah terutama pelaksanaan perawatan metode kanguru (PMK) (p= 0.039), memandikan bayi di rumah (p=0.000), dan imunisasi setelah pulang (p=0.023). Pada penelitian ini ditemukan tidak ada perbedaan yang signifikan pada variabel kesiapan pulang (p=0.167) dengan effect size sedang (d=0.283) dan kesulitan di rumah (p= 0.422) dengan effect size kecil (d=0.169). Secara keseluruhan skor kesiapan kesiapan ibu merawat BBLR meningkat pada kelompok intervensi. Kesimpulan: Model Relasi efektif meningkatkan kesiapan ibu merawat BBLR. Model ini dapat dijadikan sebagai salah satu model perencanaan pemulangan BBLR pada tatanan pelayanan kesehatan BBLR.
Background: Low birth weight (LBW) infants pose higher risk for having medical problems, which often requires hospitalization. Discharge from hospital to home is a difficult situational transition for parents because they have to take care of their baby at home. Failure to achieve a smooth transition will contribute to the unpreparedness of the mothers of LBW infants to take care their baby at home. Therefore, it is necessary to develop a discharge planning model to enhance the readiness of the mothers of LBW infants to take care of their baby. Aims: This study was aimed to develop an integrated discharge plan model (called in Indonesian mnemonic as �Relasi�) based on needs assessments from mothers of LBW infants and evaluate its effectiveness to improve readiness of mothers to take care of their babies. Methods: This study applied a mixed-method exploratory sequential design, including qualitative and quantitative approaches. The qualitative study used a descriptive qualitative approach. The quantitative study used a quasi-experimental design with post-test only non-equivalent control group design with historical control. Overall, the study consisted of three stages. The first stage was a qualitative study as a need assessment. The second stage was the stage of preparing the instrument and the Relasi model. The third stage involved testing the model with the intervention group. Results: Qualitative research in first stage as needs assessments revealed six themes from experiences of mothers of LBW infants and three themes from attending nurses. Intervention in Relasi model that developed in second stage included four components, that psychological support, health education, maternal empowerment program and continued care. We found that intervention with the model significantly improved the parental beliefs (p=0.000) with strong effect size (d=1.018), frequency of visiting infant in a day (p=0.042) with moderate effect size (d=0.478), and practice of baby care at home, especially Kangaroo Mother Care (KMC) implementation (p=0.039), bathing the baby (p=0.000), and immunization after discharge (p=0.023). However, no significant improvement in the readiness of hospital discharge (p=0.167) and difficulty at home (p= 0.422), although the mean score of readiness of hospital discharge in the intervention group was higher than the control group. Conclusions: The Relasi model is effective in improving the mothers� readiness to take care of LBW infants. This model can be used as part of the discharge planning for LBW infants in infant health services.
Kata Kunci : BBLR, rencana pemulangan, kesiapan pulang, kepuasan pengasuhan, NICU./LBW mother, discharge preparation, readiness to go home, parenting beliefs, NICU