Musik terbangan di gereja Ganjuran :: Sebuah kajian inkulturasi musik liturgi
SANTOSA, Yohanes Climacus Boedi, Drs. Triyono Bramantyo, M.Mus.Ed.,PhD
2002 | Tesis | S2 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni RupaInkulturasi suatu istilah yang sampai saat ini belum dapat didefinisikan secara definitif, banyak para pemikir budaya, beranggapan bahwa; inkulturasi bermakna “campur aduk budayaâ€, “pertemuan budayaâ€, “pembudayaan baruâ€, “adaptasi budayaâ€, “adopsi budayaâ€, dan masih banyak lainnya. Penelitian inkulturasi musik terbangan di Gereja Katolik Ganjuran membuktikan bahwa; musik tersebut mampu dipakai sebagaisalah satu sarana mengungkapkan iman; doa, pewartaan, syukur, perenungan, bagi umat kristiani. Peran musik terbangan dalam ibadat yakni sebagai doa dan memperindah ibadat, sehingga budaya Jawa terangkat nilainilainya. Inkulturasi bukanlah suatu tujuan, melainkan suatu proses yang tidak pernah mandeg karena sejalan dengan perkembangan kebudayaan itu sendiri. Inkulturasi ini dapat kita pelajari sebagai salah satu model perjalanan kehidupan berbudaya dan membudaya, jika kita tidak ingin kehilangan budaya yang dibangun dengan susah payah oleh para leluhur kita, dan pernah kita miliki. Musik terbangan sebagai musik iringan di Gereja Ganjuran sekedar menggunakan sarrina alat musiknya, dan bukan pola pemainannya, teknik permainan musik terbangan di Gereja ganjuran mengacu pada pola ritme alat perkusi sehingga alat musik terbangan tidak dimainkan seperti musik slawatan pada umumnya tetapi dimainkan seperti alat ritmis pada umumnya. Dari penelitian ini dihasilkan kesirnpulan bahwa, kontribusi musik terbangan di Gereja Ganjuran dapat dirasakan dan diterirna umat paroki Ganjuran, sekaligus sebagai tanggapan gereja terhadap pesan konsili Vatikan 11
‘In-culture’ is an indefinite terminology despite its implementation widely in liturgical music of the Catholic churches. It is considered that ‘in-culture’ means the “mixing of cultureâ€, or “culture intercourseâ€. Moreover it is also mean the “new culturationâ€, Culture adaptationâ€, etc. The study of terbangan music of Ganjuran church prove that the genre can be implemented as the instruments for the liturgical music of the church, such as in expressing faith, praying, reporting, thanking and reflecting the Christian believe. The role of the terbangan music in these liturgical and ceremonial events is as a prayer and beautifymg the religious ceremonial. On the other hand, the use of the instruments also reflected the music culture of the society of Yogyakarta itself. The ‘in-culture’ is not the most part to be investigated here, however, the continuation of the process itself which is so interesting to be described. This can be viewed as a model of a cultural living course, in order that this is one of the ideas in revitalizing our own traditional values. The terbangan music as a musical instrument in the Ganjuran church is designed not to emphasize the technicalities use of the instrument but as to enrich the rhythm patterns. Therefore it cannot be compared to the use of the instruments in the seluwatan music where it is originally comes from. After the investigation, it can be concluded that the contribution of the ferbangan music in the church has been accepted widely by the , church’s community as it is also in coincidence with the Consili Vatikan 1l in 1965.
Kata Kunci : Musik Tradisional,Terbangan,Liturgi Gereja Ganjuran