Laporkan Masalah

MOBILITAS MANDIRI SISWA SMP PASCA PENERAPAN SISTEM ZONASI PENERIMAAN SISWA BARU DI KOTA YOGYAKARTA

FAJAR ZAWA TRI MULYA, Dr. Yori Herwangi, S.T., M.URP.

2020 | Tesis | MAGISTER PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

Jarak sekolah yang jauh dan waktu tempuh yang lama sering kali membuat para pelajar perlu menggunakan kendaraan bermotor pribadi untuk berangkat dan pulang sekolah. Sedangkan kondisi kota yang tidak ramah anak, maupun layanan transportasi yang belum tertata dengan baik, membuat anak perlu diantar-jemput untuk pergi ke sekolah. Salah satu tujuan penerapan sistem zonasi sekolah adalah untuk mendekatkan lingkungan sekolah dengan lingkungan keluarga. Sehingga dapat memberikan dampak dalam mobilitas mandiri anak dalam perjalanan ke sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan mobilitas mandiri anak setelah penerapan system zonasi sekolah dan faktor yang mempengaruhinya. Pada penelitian ini digunakan pendekatan deduktif kuantitatif dengan analisa statistik (deskriptif, korelasi dan regresi). Mobilitas mandiri anak diuku dari perjalanan berangkat dan pulang sekolah yang dilakukan sendiri tanpa didampingi orang dewasa dalam keluarga. Faktor berpengaruh yang digunakan adalah pola perjalanan, bentuk kota, sosio-ekonomi, persepsi anak dan aktifitas orang tua. Untuk memperdalam analisa, data dibagi dua kelompok, sekolah di pusat perkotaan dan di pinggiran kota. Sejumlah 313 siswa sebelum penerapan sistem dan 314 siswa setelah penerapan sistem zonasi dari 5 sekolah di Kota Yogyakarta menjadi responden dengan tingkat kepercayaan 90%. Hasil penelitian menunjukan perjalanan mandiri berangkat sekolah mengalami peningkatan pada semua lokasi sekolah dan secara keseuruhan sebesar sebesar 8,6%. Pada perjalanan pulang, keseluruhan meningkat sebesar 5,1%, namun menurun di pusat perkotaan sebesar 9,38%. Tipe mobilitas mandiri anak retalif sama di antara siswa sebelum dan setelah sistem zonasi, yaitu diantar-jemput sebesar 53% dan 47%, sedangkan berangkat-pulang mandiri sebesar 18% dan 27%. Tempat tinggal dalam area layanan menjadi faktor pendorong perjalanan mandiri berangkat sekolah. Rasio rute perjalanan <1,5 kali jarak lurus mendorong anak untuk berangkat dan pulang secara mandiri. Faktor non bentuk kota yang paling berpengaruh adalah ijin orang tua. Sedangkan menurunnya pengaruh jenis kelamin menunjukan kondisi lingkungan yang semakin ramah gender. Siswa mengharapkan perbaikan fasilitas kota untuk menunjang mobilitas mandiri mereka.

The distance of schools and travel times often make students need to use private motorized vehicles to go to school. While the condition of the city that is not child-friendly, as well as poor transportation services, make children need to be picked up. One of the goals of implementing the school zoning system is to bring the school closer to home. So that it can have an impact on children's independent mobility on the way to school. This study aims to determine changes in children's independent mobility and the factors that influence it. This research uses a quantitative deductive approach with statistical calculations (descriptive analysis, correlation and regression). Children's independent mobility is measured from trips to and from school without being accompanied by adults in the family. Influential factors used are travel patterns, city forms, socio-economic, perceptions and parents activities. A total of 314 students before implementing the system and 314 students after applying the zoning system from 5 schools in the city of Yogyakarta became respondents with a 90% confidence level. The data is divided into two groups, schools in urban centers and outskirts / residential areas. The results showed that independent trips to school had increased at all school locations and as a whole by 8.6%. Overall from school trips increased by 5.1%, but decreased in urban centers by 9.38%. The types children's independent mobility almost similiar among students before and after the zoning system, fully accompanied 53% and 47%, while fully independent 18% and 27%. Home in the service area are a facilitating factor for independent travel to school. Travel route ratio <1.5 times the straight distance encourages children to go to school independently. The most influential non-urban form factor is parental consent. Meanwhile, the decline in the influence of gender shows that environmental conditions are more gender friendly. Students expect improvements to city facilities to support their independent mobility.

Kata Kunci : Mobilitas Mandiri Anak, Siswa SMP, Penerapan Sistem Zonasi, Kota Yogyakarta

  1. S2-2020-419396-abstract.pdf  
  2. S2-2020-419396-bibliography.pdf  
  3. S2-2020-419396-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2020-419396-title.pdf