HUBUNGAN TEMPAT PERSALINAN DENGAN KELENGKAPAN IMUNISASI DASAR PADA ANAK USIA 12-23 BULAN (ANALISIS DATA SDKI 2017)
MUSDALIFAH, Prof. dr. Siswanto Agus Wilopo, S.U., M.Sc., Sc.D ; dr. Rosalia Kurniawati Harisaputra, MPH.
2020 | Tesis | MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKATLatar Belakang: Imunisasi merupakan salah satu cara untuk memberikan kekebalan pada anak dari penyakit infeksi tertentu. Proporsi imunisasi dasar lengkap di Indonesia masih rendah dari target yang tercantum dalam Renstra Kemenkes tahun 2015-2019 sebesar 65% sedangkan target imunisasi dasar lengkap sebesar 93%. Persalinan yang dilakukan di fasilitas kesehatan meningkatkan cakupan imunisasi dasar lengkap karena beberapa imunisasi dasar diberikan setelah bayi lahir di fasilitas kesehatan. Proporsi persalinan yang dilakukan di rumah sebanyak 20,4%, hal ini diperkirakan menyebabkan menurunnya angka cakupan imunisasi dasar lengkap. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tempat persalinan dengan imunisasi dasar lengkap pada anak usia 12-23 bulan di Indonesia Tahun 2017. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain Kohort Retrospektif menggunakan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017. Subjek penelitian ini adalah 3.403 Wanita Usia Subur yang memiliki anak berusia 12-23 bulan, besar sampel adalah 1.924. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, analisis resiko relatif dan analisis regresi logistik dengan tingkat kepercayaan CI 95%. Hasil: Pada penelitian didapatkan hasil analisis multivariabel bahwa ibu yang melahirkan di fasilitas kesehatan pemerintah [AOR 1,71; CI 95% 1,24-2,37] dan ibu yang melahirkan di fasilitas kesehatan swasta [1,65; 1,19-2,30] meningkatkan peluang anak mendapatkan imunisasi dasar lengkap dibandingkan ibu yang melahirkan di rumah. Faktor-faktor yang signifikan meningkatkan kelengkapan imunisasi dasar adalah ibu yang tinggal di regional NTT, Maluku dan Papua [2,64; 1,37-5,08], indeks kekayaan pada kuintil 5 [1,56; 1,01-2,29], urutan kelahiran pada anak kedua atau ketiga [1,64; 1,15-2,33], dan frekuensi ANC 4-7 kali [4,35; 1,19-15,78] serta ANC 8 kali atau lebih [5,69; 1,57-20,64]. Penolong persalinan menjadi faktor confounding terhadap hubungan tempat persalinan dan kelengkapan imunisasi dasar. Kesimpulan: Tempat persalinan memiliki hubungan terhadap kelengkapan imunisasi dasar. Frekuensi ANC memiliki pengaruh yang paling kuat terhadap kelengkapan imunisasi dasar. Kata Kunci: Imunisasi Dasar Lengkap, Tempat Persalinan, SDKI, penolong persalinan
Background: Immunization is a way to provide immunity to children from certain infectious diseases. The proportion of complete basic immunization in Indonesia is still lower than the target of the Ministry of Health Strategic Plan 2015-2019 of 65% while the target is 93%. Delivery at a health facility increases the coverage of complete basic immunizations because some basic immunizations are given after births in a health facility. The proportion of births performed at home is 20.4%, this is estimated as a cause of low complete basic immunization coverage Purpose: This study aims to determine the relationship between place of delivery and complete basic immunization in children aged 12-23 months in Indonesia in 2017. Method: Type of this research is a quantitative study with a retrospective cohort design using Indonesian Demographic and Health Survey (IDHS) 2017. Subjects of this study were 3,403 women of childbearing age who had children aged 12-23 months, the sample size was 1,924. Data analysis used in this study were descriptive, relative risk and logistic regression analysis with 95% confidence level. Result: The research found on multivariable analysis, that mothers who gave birth in government health facilities [AOR 1.71; 95% CI 1.24-2.37] or in private health facilities [1.65; 1,19-2,30] increased the chances of a child to get complete basic immunization compared to mothers having given birth at home. Factors that significantly improved the completeness of basic immunization were mothers living in the NTT, Maluku and Papua regions [2,64; 1.37-5.08], wealth index in quintile 5 [1.56; 1.01-2.29], second or third birth children [1.64; 1,15-2,33], and 4-7 times of ANC visit [4,35; 1,19-15,78] and 8 times or more [5,69; 1.57-20.64]. Birth attendant became confounding factor to the relationship between place of delivery and completeness of basic immunizations. Conclusions: Place of delivery has a relationship with the completeness of basic immunization. Frequency of ANC has the strongest influence on the completeness of basic immunization. Keywords: Complete basic immunization, place of delivery, IDHS, birth attendant
Kata Kunci : Imunisasi Dasar Lengkap, Tempat Persalinan, SDKI, penolong persalinan