DINAMIKA KOLABORASI ANTAR STAKEHOLDER DALAM PROGRAM GANDENG GENDONG DI KOTA YOGYAKARTA
TIARA ANGGITA W, Hempri Suyatna, Dr., S.Sos., M.Si.
2020 | Tesis | MAGISTER ILMU ADMINISTRASI PUBLIKMasalah kemiskinan dan tingginya tingkat ketimpangan di Kota Yogyakarta masih menjadi sorotan utama pemerintah. Namun pemerintah Kota Yogyakarta tidak dapat menyelesaikan masalah kemiskinan ini sendiri. Berbagai program penanggulangan kemiskinan yang telah dilakukan pemerintah Kota Yogyakarta selama ini masih bersifat top down, hanya mencakup secara parsial saja dan sifatnya masih berupa bantuan dana atau fisik semata. Adapun, masalah kemiskinan dapat diselesaikan salah satunya dengan adanya pemberdayaan masyarakat dengan bentuk collaborative governance dimana kolaborasi berbagai stakeholder dibutuhkan. Model Collaborative governance ini dapat dilihat dari adanya kesetaraan dan keselarasan antara stakeholder yang terlibat, sifatnya yang partisipatif, struktur kelembagaan formal tetapi tetap fleksibel dan sederhana, serta fokus pada penyelesaian program secara lebih efektif sehingga Model ini dianggap sangat relevan untuk mendorong efektivitas program penanggulangan kemiskinan agar selaras dan tepat sasaran (Hadna, 2016). Untuk itu, Pemerintah Kota Yogyakarta kemudian membuat program gandeng gendong untuk menyelesaikan masalah kemiskinan dan ketimpangan yang terjadi di Kota Yogyakarta. Program gandeng gendong ini menekankan kolaborasi dan bekerjasama yang melibatkan lima stakeholder pembangunan di Kota Yogyakarta (5K) yakni Kota (Pemerintah), Korporasi, Kampus (Perguruan Tinggi), Komunitas dan Kampung (Masyarakat). Penelitian ini bertujuan untuk melihat dinamika kolaborasi atau gerak perubahan serta perkembangan kolaborasi yang berlangsung dalam program gandeng gendong di Kota Yogyakarta. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah dengan penelitian kualitatif. Alasan mengapa memakai metode kualitatif karena penelitian kualitatif dapat memberikan rincian dan data yang lebih mendalam bukan hanya sekedar angka dengan menggunakan perspektif holistik atau penelitian secara menyeluruh. Penelitian kualitatif juga dilakukan secara langsung dan hasilnya alamiah dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya dinamika kolaborasi antar stakeholder yang berjalan cukup dinamis. Dari kelima keterlibatan stakeholder yang diharapkan, hanya stakeholder komunitas saja yang belum terlibat aktif. Dinamika kolaborasi berjalan cukup baik dengan terpenuhinya aspek dalam dinamika kolaboratif yakni adanya keterlibatan berprinsip antar stakeholder, motivasi bersama yang cukup kuat, serta pemenuhan kapasitas aksi bersama yang memiliki tantangan dalam memaksimalkan distribusi pengetahuan dan sumber daya. Namun masih perlu adanya peningkatan berbagai sisi terutama dari stakeholder pemerintah yang berperan sebagai koordinator dan fasilitator yang masih belum memanfaatkan wewenangnya dengan maksimal dan adanya ego sektoral serta adanya overlapping program dan kegiatan yang dilakukan.
The problem of poverty and the high level of inequality in the city of Yogyakarta are still being the main focus of the government. But the Yogyakarta City of government cannot solve this poverty problem on its own. Various poverty reduction programs that have been conceded by the Yogyakarta government are still top down, only covering the issue partially and the form of supports are still in financial or physical assistance. The issue of poverty can be solved, one of the ways is by empowering programs in the form of collaborative governance in which the collaboration of various stakeholders is needed. This collaborative governance model can be seen from the equality and harmony between the stakeholders involved, its participatory nature, formal institutional structure but still flexible and simple, and focus on program completion more effectively so that this model is considered to be very relevant to encourage the effectiveness of poverty reduction programs (Hadna, 2016). The government of Yogyakarta then created a program called Gandeng Gendong to solve the problems of poverty and inequality in Yogyakarta. This program Gandeng Gendong focusing on collaboration involving five development stakeholders in Yogyakarta abbreviated as 5K: Kota (Government), Korporasi (Corporations), Kampus (Universities), Komunitas (Communities) and Kampung (Society). This research aims to examine the dynamic forces of the collaboration or the movement of change and the development of collaboration taken place in Program Gandeng Gendong in Yogyakarta. The method used in this research is qualitative research. The researcher uses qualitative methods because qualitative research focuses more on comprehensive details and data by using a holistic perspective. By doing thoroughgoing interviews and documentation then this research could provide natural and in-depth data collection. The results showed the dynamic forces of the collaboration between the mentioned stakeholders. Between the five supposedly involve parties, found that only community stakeholder in which had not been actively convoluted. Anyhow, the dynamic forces of collaboration running quite well as seen from the fulfillment of some aspects in collaborative dynamic, namely the existence of principled involvement between stakeholders, strong motivation together, and the contentment capacities of joint action that have challenges in maximizing the distribution of knowledge and resources. Nevertheless, improvement is still needed in some aspects, especially from the government�s side who perform as coordinators and facilitators. They have yet utilized their authority to the maximum level as well as there is a sectoral egos and overlapping programs and activities carried out.
Kata Kunci : Dinamika Kolaborasi, Stakeholder, Program Gandeng Gendong