ARAH AJUN SEBAGAI LANDASAN TATA RUANG PERMUKIMAN DAN KAWASAN DI DESA MALIKI AIR-JAMBI
RIA HERDAYANI, Prof. Ir. Sudaryono, M.Eng., Ph.D.
2020 | Tesis | MAGISTER PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTAKeunikan dari Desa Maliki Air sebagai desa awal terbentuknya permukiman penduduk di wilayah adat Datuk Cahayo Depati, bahwa Desa Maliki Air merupakan desa adat yang menerapkan prinsip matrilineal dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya untuk harta pusaka, seperti lahan permukiman maupun lahan pertanian dipegang oleh perempuan. Namun, keputusan untuk mengelola dan memanfaatkan sumberdaya tersebut, justru berada di tangan laki-laki (patriarki) yaitu Depati dan Ninik Mamak selaku pemangku adat di Desa Maliki Air. Selain itu, Desa Maliki Air juga merupakan desa adat yang hingga saat ini, masih memegang teguh, menjaga keberlangsungan dan menerapkan adat Datuk Cahayo Depati dengan baik dalam keruangan masyarakatnya. Seperti diketahui bahwa selain dihuni oleh suku-suku asli Datuk Cahayo Depati itu sendiri, Desa Maliki Air juga dihuni suku-suku lainnya yang hidup berdampingan dengan baik hingga saat ini. Suku-suku yang beragam tersebut membaur dengan baik dan menjalankan tata kehidupan sesuai aturan maupun hukum adat yang berlaku. Depati dan Ninik Mamak memberikan pengaturan keruangan tertentu pada lingkungan permukiman dan kawasan di Desa Maliki Air, berdasarkan aturan adat Datuk Cahayo Depati yang sangat kental dengan budaya matrilineal. Seperti misalnya pada aturan adat dalam membangun dan menempati rumah di atas tanah ulayat, aturan adat dalam menggarap lahan pertanian di atas tanah ulayat, maupun yang terkait dengan aktivitas keruangan sehari-hari masyarakat lainnya. Beberapa hal tadi dapat ditunjukkan dengan baik dalam kehidupan masyarakat adat di Desa Maliki Air saat ini dan sudah menjadi tradisi yang dijalankan secara turun temurun. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menemukan konsep tata ruang permukiman dan kawasan di Desa Maliki Air. Lokasi penelitian ini adalah di Desa Maliki Air yang termasuk dalam wilayah adat Datuk Cahayo Depati. Metode penelitian yang digunakan adalah induktif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dokumentasi dan pengumpulan data sekunder. Selanjutnya data-data tersebut dianalisis. Mulai dari informasi lapangan yang banyak berupa unit-unit informasi khusus, dikelompokkan berdasarkan hubungan antara tema satu dengan yang lainnya, menjadi tema-tema yang lebih umum. Kemudian dilakukan perumusan konsep dan penyusunan teorisasi atau teori lokal. Temuan penelitian berupa teori lokal tersebut selanjutnya dibahas dengan konsep-konsep yang telah ada sebelumnya, sehingga diketahui kontribusi teoritik yang dihasilkan dari penelitian ini. Penelitian ini menghasilkan tiga konsep ruang yang saling terkait menguatkan satu dengan yang lain dan saling bersinergi dalam membentuk teorisasi terkait tata ruang permukiman dan kawasan, yaitu: (1) ruang historis dan tradisi turun temurun sebagai pembentuk aktivitas keruangan masyarakat, (2) kehidupan masyarakat berbasis arah ajun, serta (3) Depati dan Ninik Mamak sebagai pilar masyarakat dan penetap arah ajun. Hubungan ketiga konsep ruang inilah yang menjadi landasan tata ruang permukiman dan kawasan di Desa Maliki Air-Jambi.
The uniqueness of Maliki Air Village, as a village began where people settled in customary area of Datuk Cahayo Depati, Maliki Air Village is a traditional village that applies matrilineal principles to the management and utilization of resources for an inheritance, such as settlement and agricultural land owned by a female. However, the decision to manage and utilize these resources rests in the hands of the male (patriarchy), namely Depati and Ninik Mamak as customary stakeholders in Maliki Air Village. Besides, Maliki Air Village is also a traditional village which until now, still holds and maintains sustainability and applies the customs of Datuk Cahayo Depati in its community. As known, that apart from being inhabited by the indigenous tribes of Datuk Cahayo Depati, Maliki Air Village is also inhabited by other tribes who live side by side peacefully to this day. These diverse tribes blend in well and continue living by the rules and customary law. Depati and Ninik Mamak provide certain spatial arrangements for settlement and area in Maliki Air Village, based on the customary rules of Datuk Cahayo Depati which are very influenced by matrilineal culture. For example, the customary rules for building and occupying houses on tanah ulayat, customary rules in working on agricultural land on tanah ulayat, as well as those related to daily spatial activities of other people. Some of these things can be seen in the life of the indigenous people in Maliki Air Village today and have become a tradition that has been carried out from generation to generation. Based on this, this study aims to find the concept of spatial arrangement of settlements of Maliki Air Village. This research took place in Maliki Air Village, included in the customary area of Datuk Cahayo Depati. The research method used was qualitative inductive with a phenomenological approach. Data collection was done through observation, interviews, documentation, and secondary data collection. The data was then analyzed. Beginning with the field information which was mostly in the form of special information units, grouped based on the relationship between one theme to another, to become more general themes. Then the formulation of the concept or local theory was done. The research findings in the form of local theory which were then discussed with concepts that had been there before, so that the theoretical contributions resulting from this research were known. This research resulted in three spatial concepts that were interrelated to strengthen one another and work together in forming a theory related to settlement and area spatial planning, namely: (1) historical space and hereditary traditions as forming community spatial activities, (2) community life based on arah ajun, and (3) Depati and Ninik Mamak as the pillars of community and people who set arah ajun. The relationship among these three spatial concepts was the basis of spatial arrangement of settlements of Maliki Air Village-Jambi.
Kata Kunci : tata ruang permukiman adat, desa adat, masyarakat adat, arah ajun, Depati Ninik Mamak, Desa Maliki Air-Jambi