PENGALAMAN PERAWATAN MASA NIFAS BALLEYNGANA PADA IBU POSTPARTUM SUKU BAJO DI KECAMATAN SOROPIA KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGGARA
DWI PURNAMA PUTRI P, Widyawati S.Kp.,M.Kes.,Ph.D;Dr. Wenny Artanty Nisman, S.Kep,Ns., Mkes
2020 | Tesis | MAGISTER KEPERAWATANLatar Belakang: Suku Bajo merupakan Suku yang mendiami daerah pesisir di Kecamatan Soropia. Suku Bajo masih melakukan praktek budaya masa nifas pada ibu postpartum yang disebut balleyngana. Tujuan: Mengeksplorasi pengalaman perawatan masa nifas balleyngana pada ibu postpartum Suku Bajo di Kecamatan Soropia Kabupaten Konawe Sulawesi Tenggara. Metode: Menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan rancangan fenomenologi. Pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam dan observasi pada 10 partisipan yang diambil berdasarkan tehnik purposive sampling. Tehnik analisis data menggunakan Colaizzi. Keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi metode. Hasil: Tiga tema yang memberikan gambaran terkait pengalaman ibu postpartum Suku Bajo dalam menjalani tradisi perawatan balleyngana. Tema - tema tersebut adalah: (1) Tradisi balleyngana menjadi ritual yang wajib dan di dukung oleh keluarga serta masyarakat karena diyakini manfaatnya bagi ibu nifas; (2) Proses ritual balleyngana mengandung beberapa rincian aturan yang telah ditentukan; (3) Pelaksanaan budaya balleyngana tetap dipilih walaupun terdapat proses yang tidak menyenangkan dan dilakukan dengan keterpaksaan untuk menghindari resiko terjadinya gangguan. Kesimpulan: Tradisi perawatan balleyngana masih tetap dipertahankan oleh Suku Bajo karena dipercaya dapat memberikan manfaat yang baik untuk kesehatan ibu postpartum serta untuk menghindari terjadi dampak buruk apabila tradisi tidak dijalankan. Tradisi balleyngana di sisi lain memberikan ketidaknyamanan pada saat dilakukan perawatan serta pantangan terhadap jenis makanan tertentu menyebabkan ibu postpartum beresiko mengalami masalah kesehatan setelah melahirkan. Tenaga kesehatan perlu menerapkan asuhan keperawatan peka budaya dengan pendekatan strategi keperawatan untuk membantu masyarakat Suku Bajo dalam mengambil keputusan terkait praktek budaya yang mendukung kesehatan mereka.
Background: The Bajo tribe is an ethnic group that inhabits the coastal areas of Soropia District. The Bajo tribe still performs a traditional practice called balleyngana, which is conducted to new mothers during the peurperium period. Objective: The study aims to explore the experience in balleyngana peurperium period maternity care of Bajo tribe women in Soropia District, Konawe Regency, Southeast Sulawesi Province. Methodology: The qualitative approach with a phenomenological design were used in the current research. Data were collected through in-depth interviews and observations of 10 participants who were selected by using the purposive sampling technique. Data analysis was carried out using Colaizzi�s method. Data validity was achieved by triangulating the sources and methods. Results: There are three themes that describe the experiences of Bajo tribe women postpartum in undergoing the balleyngana traditional care. The themes are: (1) The balleyngana tradition is a mandatory ritual that is supported by the family and community as it is believed to be beneficial for puerperal mothers; (2) The balleyngana ritual contains several detailed and defined stipulations; (3) The practice of balleyngana ritual is still preferred although it involves an unpleasant process and it is done by force to avoid any risk of complications. Conclusion: The balleyngana care tradition remains to be maintained by the Bajo tribe as it is believed to provide health benefits for postpartum mothers and as to avoid any bad consequences for not complying with traditions. The balleyngana tradition, on the other hand, causes discomfort when it is performed, and there are also restrictions pertaining to certain types of food that may lead postpartum mothers to be at risk of experiencing health issues after birth. Health personnel need to apply culture-sensitive nursing care by using a strategic approach in nursing to help the Bajo community in making decisions relating to cultural practices that maintain their health.
Kata Kunci : Budaya perawatan masa nifas, Suku Bajo, balleyngana, Sulawesi tenggara