Laporkan Masalah

Evaluasi Pelaksanaan Si Kesi Gemes (Sistem Penguatan Kelurahan Siaga dalam rangka Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) di Kota Yogyakarta

MEIRINA ULFAH, Dr. Supriyati, S.Sos, M.Kes; Nurhadi, S.Sos, M.Sc, Ph.D

2020 | Tesis | MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

Latar belakang: Kelurahan siaga merupakan bentuk pemberdayaan masyarakat. Data terakhir yang diperoleh dari Pusdatin tahun 2013 jumlah desa dan kelurahan siaga aktif di Indonesia sebesar 65,2% dan DIY sebesar 94,3%. Jumlah kelurahan Siaga di Kota Yogyakarta tahun 2016 mencapai 100% namun mengalami mati suri. Revitalisasi kelurahan siaga dilakukan dengan menetapkan jejaring Si Kesi Gemes. Tujuan Penelitian: Mengevaluasi pelaksanaan Si Kesi Gemes di Kota Yogyakarta. Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif eksploratif dengan rancangan studi kasus tunggal. Pemilihan informan dilakukan secara purposive sampling. Informan yang dipilih adalah perangkat daerah dan lembaga swadaya masyarakat yang terdaftar dalam jejaring Si Kesi Gemes. Pengambilan data dilakukan dengan FGD, wawancara mendalam dan observasi. FGD dilakukan pada 2 kelompok, wawancara mendalam pada 21 orang. Keabsahan data dilakukan dengan cara triangulasi dan peer debriefing. Hasil: Pembentukan Si Kesi Gemes dilakukan dengan kombinasi top-down dan partisipatif. Top-down karena jejaring diinisiasi dan dibentuk oleh Dinas Kesehatan, sedangkan partisipastif karena melibatkan Kesi dalam pembentukan jejaring wilayah. Si Kesi Gemes berperan dalam mengaktifkan koordinasi Kesi dan memperluas kerja sama dengan fasyankes swasta, perguruan tinggi kesehatan dan pengusaha lokal. Hambatan pelaksanaan peran terutama pada ketidakpahaman peran pembinaan, kompetensi petugas promkes yang tidak sama, komitmen pembinaan yang rendah dan tidak adanya sinergi program kelurahan siaga dan kota sehat. Peran jejaring dipengaruhi persepsi terhadap Si Kesi Gemes, motif keterlibatan yang berbeda dan modal sosial yang kuat. Efektivitas Si Kesi Gemes dilihat melalui akomodasi Kesi dalam dana kelurahan, aktifnya forum koordinasi kelurahan, pendanaan dari CSR, peningkatan keaktifan UKBM posbindu, serta memunculkan inovasi kegiatan. Pembinaan UKBM masih didominasi puskesmas dan pelatihan tidak sesuai kebutuhan. Kesimpulan: Pembentukan Si Kesi Gemes sangat dibutuhkan untuk mengikat keterlibatan jejaring dalam mendukung kelurahan siaga. Kesi, FKKS dan FKS diharapkan mengagendakan koordinasi jejaring secara rutin di tingkat kelurahan, kecamatan dan kota.

Background: Kelurahan siaga is a form of community empowerment. The latest data obtained from Pusdatin in 2013 shows that the percentage amount of desa and kelurahan siaga aktif in Indonesia was 65.2% and in DIY was 94.3%. The percentage amount of kelurahan siaga in Yogyakarta City in 2016 reached 100% but it had experienced torpidity. The revitalization of kelurahan siaga was carried out by establishing the Si Kesi Gemes network.. Objective of research : Evaluating the implementation of Si Kesi Gemes in Yogyakarta City. Research Methods: This research used a qualitative descriptive exploratory study with a single case study design. The selection of informants was carried out by purposive sampling. The selected informants were local officials and non-governmental organizations registered in the Si Kesi Gemes network. Data were collected by means of Focussed Group Discussion (FGD), in-depth interviews and observations. FGDs were conducted in 2 groups by undertaking in-depth interviews with 21 participants. The data validity was done by means of triangulation and peer debriefing. Result: The formation of Si KesiGemes was carried out by using a combination of top-down and participatory approaches. Top-down approach means that the network is initiated and formed by the Health Office, while participatory approach means that Kesi is involved in the regional network formation. Si Kesi Gemes plays a role in activating the coordination of Kesi and extending the cooperation with private health service facilities, health colleges, and local employers. The effectiveness of Si Kesi Gemes is indicated through the accommodation of Kesi in the village fund, the livelines of the village coordination forums, the funding from CSR, the activeness of UKBM Posbindu, and the presence of innovative activities. UKBM coaching is still dominated by the public health centers and the training does not meet to the needs of participants.. Conclusion: The formation of Si Kesi Gemes is indispensable for binding the involvement of the networks in supporting Kelurahan Siaga. Kesi, FKKS and FKS are expected to schedule regular coordination at the level of village, sub-district and city.

Kata Kunci : Si Kesi Gemes, jejaring, kelurahan siaga, efektivitas/Si Kesi Gemes, network, kelurahan siaga, effectiveness