Analisis kerugian produksi padi akibat serangan hama di Propinsi DIY
GUNAWAN, Dr.Ir. Irham, MSc
2002 | Tesis | S2 Ekonomi PertanianKeberhasilan pembangunan suatu daerah dapat diukur dengan menggunakan berbagai macam metode, yang paling umum dan banyak digunakan adalah dengan menganalisis struktur dan perkembangan PDRB suatu daerah dari tahun ke tahun. Dengan menganalisisnya akan diketahui sektor basis perekonomian di masa lalu dan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam membuat perencanaan pembangunan di masa yang akan datang. Penelitian ini menggunakan metode purposive dalam penentuan sampel. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah PDRB menurut harga konstan tahun 1993. Berdasarkan hasil analisis LQ dan Shift Share untuk sektor primer, ada sepuluh daerah yang konsisten dalam pertumbuhannya adalah kabupaten: Purbalingga, Purworejo, Wonosobo, Sukoharjo, Wonogiri, Blora, Demak, Batang, Pemalang dan Brebes. Sedangkan untuk sektor sekunder ada enam daerah yaitu kabupaten: Sukoharjo, Karanganyar, Semarang, Kendal setts kotamadya Surakarta dan Semarang. Selanjutnya untuk sektor tersier ada tiga daerah adalah kotamadya: Surakarta, Salatiga dan Semarang. Berdasarkan hasil analisis LQ dan Tipologi Klassen, maka daerah yang konsisten dalam per untuk sektor primer yaitu kabupaten Wonosobo dan untuk sektor sekunder adalah kabupaten: Cilacap, Sukoharja, Karanganyar, Semarang, Kendal serta kotamadya Surakarta dan Semarang. Selanjutnya untuk sektor tersier adalah kotamadya: Surakarta, Semarang, Salatiga dan Tegal. Berdasarkan basil analisis LQ dan Mix and Share Analysis untuk sektor primer, maka daerah-daerah yang konsisten dalam pertumbuhannya dengan nilai perubahan PDRB tahun 1988-1999 di kabupaten positif dan dipengaiuhi oleh komponen pertumbuhan nasional/propinsi balk secara nasional maupun propinsi adalah kabupaten: Banyumas, Banjarnegara, Kebumen, Magelang Boyolali, Sragen, Rembang, Pati, Jepara, Kendal dan Tegal. Daerah-daerah yang perubahan PDRB tahun 1988-1999 di kabupaten positif yang disebabkan karena adanya pertumbuhan secara nasional dan regional serta adanya regional share adalah kabupaten Purbalingga, Sukoharjo, Blora, Temanggung, dan Batang. Daerah-daerah yang nilai perubahan PDRB tahun 1988-1999 di kabupaten positif yang disebabkan adanya pertumbuhan secara nasional dan regional serta adanya regional share secara nasional dan propinsi adalah kapubaten: Purworejo, Wonosobo, Wonogiri, Demak, Pemalang dan Brebes. Dan hasil analisis LQ dan Mix and Share untuk sektor sekunder, maka kabupaten yang konsisten dalam pertumbuhannya, dengan nilai pertibahan PDRB tahun 1988-1999 di kabupaten positif dan dipengaruhi oleh kamponen pertumbuhan nasional/propinsi baik secara nasional maupun propinsi serta oleh komponen bauran sektoral baik secara nasional maupun propinsi yaitu hanya di kabupaten Cilacap. Daerah-daerah yang nilai perubahan PDRB tahun 1988-1999 di kabupaten positif dan dalam pertumbuharmya dipengaruhi oleh nilai komponen pertumbuhan nasional/propinsi, komponen bauran sektoril serta regional share baik secara nasional maupun regional adalah kabupaten: Karanganyar, Semarang dan Kendal. Selanjutnya daerah-daerah yang nilai peruhan PDRB tahun 1988-1999 di kabupaten dipengaruhi oleh komponen pertumbuhan nasional/propinsi baik secara nasional maupun propinsi dan komponen bauran sektoral baik secara nasional maupun propinsi serta nilai regional share hanya pada tingkat propinsi, berada di kabupaten Sukoharjo dan kotamadya Surakarta serta Semarang. Berdasarkan basil analisis LQ dan Mix and Share untuk sektor tersier, maka daerah yang konsisten dalam pertumbuhannya, dengan nilai perubahan PDRB tahun 1988-1999 di kotamadya dipenganihi oleh komponen pertumbuhan nasional/ propinsi balk secara nasional maupun propinsi dan oleh komponen bauran sektoral pada tingkat propinsi serta nilai regional share pada tingkat nasional dan propinsi adalah di kotamadya: Surakarta, Salatiga dan Semarang. Rata-rata inefisiensi pendapatan di propinsi Jawa Tengah sebesar 1,5 persen yang artinya 98,5 persen pendapatan dari sektor basis berada di wilayah yang bersangkutan, dengan demikian tingkat efisiensi pendapatan tinggi. Rata-rata inefisiensi pendapatan untuk sektor sekunder di propinsi Jawa Tengah sebesar 1,2 persen dan sektor tersier sebesar 1,2 persen.
The success of development programs of a region can be measured by means of various methods, the most common of which, and widely use, is the one that analyses the structure and development of the gross regional domestic product (GRDP) of the region over the years. Analyzing the GRDP, one will find out the basic economic sector of the region in the past and the result could be considered in the development planning in the future. The sample regions were taken accordingly to the purposive sampling method. The data analyzed in the research were the GRDP at 1993 constant price. The Location Quotient (LQ) and Shift. Share analysis on primary sector indicated that there were ten region with consistent growth, namely Purbalingga, Purworejo, Wonosobo, Sukoharjo, Wonogiri, Blora, Demak, Batang, Pemalang, and Brebes regencies. In secondary sector there were six regions, namely Sukoharjo, Karanganyar, Semarang, Kendal, and the municipalities of Surakarta and Semarang In tertiary sector there were three regions, namely the municipalities of Surakarta, Salatiga, and Semarang. Based on the LQ analysis and the Klassen - Typology, the regions with consistent growth in primary sector was Wonosobo regency; in secondary sector were Cilacap, Sukuharjo, Karanganyar, Semarang. Kendal, and the municipalities of Surakarta and Semarang. In tertiary sector were the municipalities of Surakarta, Semarang, Salatiga, and Tegal. Based on the LQ and the Mix and Share analysis, the regions with consistent growth in the primary sector having positive changes in GRDP during the period of 1988-1999 and were affected by the national/provincial, growth component were Banyumas, Banjarnegara, Kebumen, Magelang, Boyolali, Sragen, Rembang, Pati, Jepara, Kendal, and Tegal regencies. The regions with positive changes in GRDP during the period of 1988-1999 caused by the national and regional growth and the regional share were Purbalingga, Sukoharjo, Blora, Temangung, and Batang. The regions with positive changes in GRDP during the period of 1988-1999 caused by national and regional growths and regional share, nationally and provincially, were Purworejo, Wonosobo, Wonogiri, Demak, Pemalang, and Brebes regencies. Based on the LQ and Mix and Share analysis in the secondary sector, the regencies with the consistent growth having positive changes in GRDP during the period of 1988-1999 and whose growth were affected by the national/provincially, were Karanganyar, Semarang, and Kendal regencies. The regions with changes in its GRDP affected by the national/provincial growth component, both nationally and provincially, and by sector mix components, both nationally and provincially, and by the regional share only in provincial level, were Sukoharjo regency and the municipalities of Surakarta and Semarang. Based on the LQ and Mix and Share analysis in tertiary sector, the regions with consistent growth with positive changes in GRDP affected by the national/provincial growth components, either nationally or provincially, and by the sectoral mix components at provincial level by the regional share at the national and provincial levels were the municipalities of Surakarta, Salatiga, and Semarang. The average income inefficiency in the province of Central Java was 1,5 percent which implied that 98,5 percent of the income from basic sector were in the region itself Thus, the rate of income efficiency was high. The average income inefficiency of the secondary sector in the province of Central Java was 1,2 percent and that of the tertiary sector was 1,2 percent.
Kata Kunci : Ekonomi Pertanian,Hama Padi,Kerugian Produksi, GRDP (gross regional domestic product), Basic Sector, Income Inefficiency