Laporkan Masalah

KLASIFIKASI JENIS DAN SEBARAN SEDIMEN MENGGUNAKAN DATA MULTIBEAM ECHOSOUNDER MULTI-TEMPORAL DI ALUR PELAYARAN BARAT DAN TIMUR SURABAYA

FADILLA IVANA A, Bambang Kun C., S.T., M.Sc.

2020 | Skripsi | S1 TEKNIK GEODESI

Secara konvensional, sifat-sifat sedimen dasar laut diperoleh dari hasil sampel coring dan sedimen grab. Namun cara ini bersifat lambat, mahal, memerlukan banyak tenaga, dan tidak memberikan pengumpulan data yang sifatnya real time atau in situ. Dengan menggunakan sistem akustik untuk klasifikasi sedimen dasar laut mampu memperkirakan secara akurat, mendekati real time, sifat-sifat akustik, tipe sedimen, dan beberapa sifat geoteknik pada kedalaman beberapa meter dari dasar laut pada saat survei sedang berlangsung. Salah satu sistem akustik yang dapat digunakan untuk pendugaan substrat sedimen adalah dengan nilai backscatter dari data multibeam echosounder (MBES). Kegiatan aplikatif ini difokuskan untuk klasifikasi sedimen dasar laut menggunakan backscatter yang diperoleh dari raw data hasil pengukuran MBES oleh Distrik Navigasi Kelas I Surabaya di Alur Pelayaran Barat dan Timur Surabaya di tahun 2017, 2018, dan 2019. Karena pengendapan sedimen di suatu perairan akan mempengaruhi bentuk topografi di dasar perairan maka diperlukan pengukuran secara rutin untuk memelihara keselamatan alur pelayaran dari pengendapan material sedimen. Raw data pengukuran di akuisisi menggunakan instrumen MBES tipe Odom MB2. Dan pengolahannya menggunakan perangkat lunak CARIS HIPS and SIPS versi 11.2 Training License. Pengklasifikasian nilai backscatter dilakukan dengan mengadopsi persamaan linear contrast stretch sebagai koreksi nilai backscatter yang dimiliki dan membandingkan nilai respon backscatter yang didapat dengan nilai backscatter penelitian sebelumnya di lokasi dan instrumen akusisi yang sama yang dilakukan oleh Nitriansyah dan Cahyono (2018). Pembagian kelas sedimen dilakukan berdasarkan respon backscatter dan dilakukan uji sampel sedimen dengan pengayakan menggunakan metode American Society for Testing and Materials (ASTM) sehingga dihasilkan 4 kelas yaitu clay, clayey silt, sandy silt, dan sand. Berdasarkan data pengukuran MBES tersebut, dihasilkan data kedalaman area studi yang baik karena kualitas data pengukuran tergolong ke orde khusus pada IHO SP-44 Tahun 2008. Tipe dasar perairan jenis sand memberikan nilai backscatter yang lebih kuat dan nilai nya semakin kecil seiring dengan bertambah lunaknya tipe dasar perairan. Dari kegiatan aplikatif ini juga diketahui bahwa sebaran backscatter di Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS) yaitu pada Lokasi 3 terdapat 4 tipe sedimen yaitu clay, clayey silt, sandy silt, dan sand. Sedangkan di Alur Pelayaran Timur Surabaya (APTS) yaitu Lokasi 1 dan 2 hanya terdapat 3 tipe sedimen yaitu clayey silt, sandy silt, dan sand.

Conventionally, the properties of seabed sediments are obtained from coring and grab sediment samples. But this method is slow, expensive, requires a lot of energy, and does not provide data collection that is real time or in situ. By using an acoustic system for seabed sediment classification, it is able to estimate accurately, close to real time, acoustic properties, sediment type, and some geotechnical properties at a depth of several meters from the seabed when the survey is in progress. One acoustic system that can be used to estimate sediment substrate is the backscatter value of the multibeam echosounder data (MBES). This applicative activity is focused on the classification of seabed sediments using a backscatter obtained from raw data from MBES measurements by the Class I Navigation District of Surabaya in West and East Access Channels Of Surabaya Port in 2017, 2018, and 2019. Because sediment deposition in a waters will affect the shape of the topography at the bottom of the waters, routine measurements are needed to maintain the safety of the shipping lane from the deposition of sediment material. Raw data measurements were acquired using the MBES type Odom MB2 instrument. And processing using CARIS HIPS and SIPS software version 11.2 Training License. Classification of backscatter values is done by adopting the linear contrast stretch equation as a correction to the value of backscatter owned and comparing the backscatter response values obtained with the backscatter values of previous studies at the same location and acquisition instruments conducted by Nitriansyah and Cahyono (2018). Sediment classes based on backscatter responses and tested sediment samples by sifting using the American Society for Testing and Materials (ASTM) method to produce 4 classes, namely clay, clayey silt, sandy silt, and sand. Based on the MBES measurement data, generated depth of study area data was good because the quality of measurement data is classified as a special order in IHO SP-44 of 2008. The sand bottom type gives a stronger backscatter value and the value decreases with the softening of the bottom waters. From this applicative activity it is also known that the distribution of backscatter in Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS), namely at Location 3 there are 4 types of sediments namely clay, clayey silt, sandy silt, and sand. Whereas in Alur Pelayaran Timur Surabaya (APTS), namely Locations 1 and 2 there are only 3 types of sediments, namely clayey silt, sandy silt, and sand.

Kata Kunci : backscatter, multibeam echosounder, klasifikasi dasar laut, sedimen

  1. S1-2020-399983-abstract.pdf  
  2. S1-2020-399983-bibliography.pdf  
  3. S1-2020-399983-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2020-399983-title.pdf