Laporkan Masalah

Analisis Pengaruh Jenis Kelamin terhadap Kenyamanan Termal Manusia di Indonesia (Studi Kasus Mahasiswa)

Annida Zakiya Fatin, Faridah, S.T., M.Sc; Sentagi Sesotya Utami, S.T., M.Sc., Ph.D.

2020 | Skripsi | S1 TEKNIK FISIKA

Di antara berbagai sistem dalam bangunan, sistem HVAC (Heating, Ventilation, and Air-Conditioning) menyumbang konsumsi terbesar dari total konsumsi energi bangunan. Salah satu cara efektif yang dapat ditempuh untuk meminimalkan konsumsi energi bangunan adalah dengan menyesuaikan pengaturan HVAC terhadap suhu nyaman setiap penghuni bangunan. Perbedaan morfologi tubuh antara jenis kelamin mempengaruhi sistem termoregulasi tubuh dan mengakibatkan adanya perbedaan respon kenyamanan termalnya. Penelitian ini mempelajari pengaruh perbedaan gender pada respon psikologis manusia di Indonesia terhadap lingkungan termal. Perbedaan respon psikologis dapat dilihat dari sensasi termal, ketidakpuasan termal dan penerimaan termal pada kondisi lingkungan termal tertentu. Penelitian dilakukan dalam ruang iklim pada lima suhu operasi: 18, 21, 24, 27, dan 30 derajat celcius. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh perbedaan jenis kelamin terhadap sensasi termal, ketidakpuasan termal, serta penerimaan termal. Perempuan diketahui cenderung lebih sensitif terhadap perubahan suhu operatif dalam ruangan dibandingkan laki-laki. Secara statistik tidak ditemukan perbedaan yang signifikan antara suhu nyaman perempuan, yakni sebesar 26,64 derajat celcius dan suhu nyaman laki-laki, sebesar 26,61 derajat celcius. Perempuan diketahui kurang puas dengan suhu ruangan dibandingkan laki-laki. Selain itu, perempuan lebih puas dan menerima kondisi lingkungan termal pada suhu yang lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki.

Among various building services systems, HVAC (Heating, Ventilation, and Air-Conditioning) systems have accounted for the largest share of total building energy consumption. Adjusting the HVAC settings to the comfortable temperature of each occupant of the building could be an effective way to maintain a commitment to low-energy consumption. Gender-related differences in body morphology affect the thermoregulation and also cause differences in thermal responses. This studi has explored the effect of gender differences in Indonesian psychological responses to thermal environments. The difference in psychological responses can be seen from differences in thermal sensations, dissatisfaction, and acceptance in certain thermal environmental conditions The experiment was conducted in a climatic chamber at five operative temperatures: 18, 21, 24, 27, and 30 degrees celcius. The results show that gender differences exist in thermal sensation, thermal dissatisfaction, and thermal acceptance. Females are more sensitive towards the change in indoor operative temperature than males. The comfort temperature was 26,64 degrees celcius for females, and 26,61 degrees celcius for males. However, this difference was not statistically significant. Females are less satisfied with room temperatures than males. Females are also more satisfied and accepting thermal conditions at lower temperature than males.

Kata Kunci : kenyamanan termal, ruang iklim, perbedaan jenis kelamin.

  1. S1-2020-378762-abstract.pdf  
  2. S1-2020-378762-bibliography.pdf  
  3. S1-2020-378762-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2020-378762-title.pdf